POSKOTA.CO – Hal yang paling diinginkan semua orang yang hidup di dunia ini adalah kebahagiaan! Menurut pandangan dunia, yang menjadi sumber kebahagiaan adalah uang, kekayaan, atau materi.
Itulah sebabnya mereka berusaha sedemikian rupa mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, supaya kebahagiaan yang diinginkan dapat terwujud. Tapi sayang manusia lupa akan pesan firman Tuhan. “Siapa mempercayakan diri kepada kekayaan akan jatuh,”demikian kitab Amsal 11:28 mengingatkan.
Jika demikian adanya, maka timbul pertanyaan. Benarkah materi duniawi adalah sumber kebahagiaan?. Atau sebaliknya materi dunia mendatangkan kejatuhan seseorang!!!.
Bagi penulis, kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dimiliki oleh seseorang, tapi kebahagiaan akan dirasakan oleh orang yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki!.
Sebab ada tertulis: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” Ini pesan Pengkhotbah 5:9 yang harus dipahami dan di jalankan.
Tuhan menghendaki kita belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita.
Dalam Doa Bapa Kami, kita diajarkan untuk berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Matius 6:11.
Mengapa Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa meminta secukupnya?. Karena Tuhan hendak mengajar kita untuk bergantung penuh kepada Tuhan dari hari ke sehari, bukan menggantungkan harapan kepada kekayaan atau materi.
Mencukupkan diri dengan apa yang ada, membuat seseorang mudah mengucap syukur!.
Belajar untuk selalu mengucap syukur adalah unsur penting untuk kita mengalami kebahagiaan.
Adalah berbahaya jika orang tak pernah merasa cukup dan tidak bisa bersyukur atas apapun yang ia raih.
Seorang ibu setiap paginya, dia menyiapkan bekal bagi anaknya yang hendak berangkat sekolah. Sang ibu memoerhatikan anaknya, apakah ikat pinggangnya sudah terpasang dengan baik.
Apakah dasinya sudah benar atau belum. Apakah buku yang dibawa dalam tas sudah sesuai dengan mata pelajaran.
Mengapa seorang ibu melakukan hal ini setiap hari, sebelum akhirnya memberikan uang jajan ke anaknya untuk berangkat sekolah?.
Karena sang ibu ingin memastikan, jika anaknya benar-benar rapi dan siap untuk mengikuti pelajaran di sekolah sesuai aturan yang berlaku di sekolah.
Hal inilah juga yang di inginkan Tuhan. Maka itu, Tuhan dalam doa Bapak Kami, tidak mengajarkan, “Berikanlah kami makanan dan minuman sebulan. Tapi mengajarkan kita, “Berikanlah makanan dan minuman secukupnya pada hari ini”.
Melalui Doa Bapak Kami, Tuhan mengajarkan kita, agar setiap hari datang kepadaNya dan menyembahNya.
Karena ketika kita dalam pengawasan Tuhan setiap hari, maka kita akan di jaganya dengan baik.
Agur Bin Yake berdoa kepada Tuhan, “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu?.
“Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku,” pesan Amsal 30:8-9.
Agur bin Yake bukan tidak menginginkan kekayaan, namun ia menyadari bahwa kekayaan atau kemiskinan dapat menjadi sesuatu yang berbahaya apabila tidak disertai dengan rasa cukup dan ucapan syukur kepada Tuhan.
Materi tak menjamin kebahagiaan hidup kita, apalagi keselamatan jiwa kita!. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali menjadikan materi sebagai andalan dan sandaran hidup.
Kitab 1 Timotius 6:7 menjelaskan, “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”..
Penulis : Yapy Melianton Doroh, Majelis Jemaat GPIB Zebaoth Bogor dan wartawan media Poskota online. (#)







Komentar