oleh

GPIB Zebaoth Bogor Luncurkan Program Gereja Ramah Anak

BOGOR – Peduli kekerasan terhadap anak, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Zebaoth Bogor, meluncurkan Program Gereja Ramah Anak. Program ini muncul, atas semakin meningkatnya kekerasan terhadap anak di Indonesia. Ironinya, pelaku kekerasan adalah orang-orang terdekat. Hal inilah yang membuat korban, mengalami trauma yang sangat panjang.

Program Gereja Ramah Anak yang dirancang Pendeta Margie Ririhena de Wanna DTh ini, merupakan jawaban atas keprihatinannya dalam melihat fenomena gunung es ini. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis, jika kekerasan terhadap anak di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat.

Program Gereja Ramah Anak yang dicetuskan Pdt Margie Ririhena de Wanna ini, bahkan mendapat apresiasi dari Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto kala itu. Atas capaian yang berlangsung di Gereja Zebaoth Bogor, Pdt Margie lalu berbagi pengalamannya ini saat berbicara dalam seminar Alkitab bagi presbiter se-GPIB yang dilaksanakan Departemen Teologi dan Persidangan Gerejawi GPIB. Acara yang dipandu Pendeta Debbie Tohata ini, mendapat perhatian serius dari seluruh peserta.

Pendeta Margie dalam pemaparannya menyebutkan, pada tahun 2020 telah terjadi 4.116 kasus. Memasuki bulan Januari-November tahun 2022 terjadi 4.124 kasus. Peningkatan angka ini, merupakan data resmi yang terdata di KPAI. “Sementara kasus yang belum terdata juga banyak. Kebanyakan orang tua tidak melapor ke polisi, karena malu atau alasan lainnya,” kata Pdt Margie, dalam rilis yang didapat POSKOTAONLINE.COM, Selasa (25/6/2024).

Lulusan S3 teologia ini sangat bersyukur, karena lewat Program Gereja Ramah Anak menunjukkan, jika GPIB yang menjadi bagian dari gereja yang ada di Indonesia, sangat serius dan komit dalam hal menjaga anak dari kekerasan. “Kita sudah deklarasikan diri sebagai salah satu gereja ramah anak di Indonesia. Gereja harus peduli. Dan kita harus menjalankan hal ini,” tutur Pendeta Margie.

Bagi Pdt Margie, Gereja Ramah Anak adalah wujud pelayanan gereja secara holistik, yang menjamin terpenuhinya hak-hak dan perlindungan bagi anak, baik di lingkungan gereja, lembaga-lembaga pelayan milik gereja dan lingkungan keluarga.

Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Zebaoth Bogor ini menambahkan, trauma psikis yang dialami anak yang menjadi korban kekerasan, butuh waktu lama untuk kembali normal. Kenapa? Karena sebagian besar pelaku kekerasan, adalah orang dekat. Korban yang mengenal pelaku, membuatnya butuh waktu untuk pulih psikisnya. “Trauma anak akan kembali muncul, saat melihat pelaku yang telah melakukan kekerasan atas dirinya. Karena pelaku orang terdekat korban, seperti keluarga di rumah dan lingkungannya,” paparnya.

Pdt Margie juga mengapresiasi langkah pemerintah yang menyiapkan rumah perlindungan bagi korban. Sinergi antara pemerintah dengan pihak kepolisian serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di kabupaten/kota se-Indonesia untuk mengatasi kasus kekerasan anak ini, merupakan wujud hadirnya negara dalam merespons kasus yang terus meningkat setiap tahunnya ini.

Bagi Pdt Margie, gereja tidak boleh diam atas fenomena ini. Justru dirinya meminta, agar seluruh gereja meningkatkan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan terbaik anak. “Jaga dan lindungi anak sesuai dengan tumbuh kembangnya. Jangan biarkan anak, mengalami kekerasan dan diskriminasi,” tegasnya.

Pdt Margie juga mendorong semua gereja, agar mengoptimalkan fungsi ruang publik, untuk menjadi tempat berkumpul anak-anak, dalam melakukan kegiatan positif, inovatif, kreatif dan rekreatif yang aman dan nyaman. “Jika anak-anak bermain diruang yang aman, maka bisa dipastikan, mereka akan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi, termasuk anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya.

Perlindungan anak, lanjutnya, merupakan tanggung jawab gereja yang diamanatkan oleh UU No 35/2014 Pasal 72. “Perlindungan anak menjadi bagian dari Tri Tugas Gereja dan melekat pada jati diri gereja,” tegas Pdt Margie.

Selain Gereja Ramah Anak, Pdt Margie juga meluncurkan program dalam melindungi dan memberi rasa aman bagi ibu menyusui, dengan menyediakan ruang Laktasi yang berada dalam Gereja Zebaoth. (*/yopi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *