JAKARTA – Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) mengirimkan empat pemain putra dan empat putri untuk mengikuti SEATTA Championships 2024 di Bangkok, Thailand, 19 – 25 November 2024.
Ketua Umum PB PTMSI Peter Layardi Lay yang ketika dihubungi masih berada di Singapura dalam perjalanan menuju Bangkok menyatakan, para pemain Indonesia sudah lebih dulu berangkat ke Negeri Gajah Putih.
Menurut Peter, keikutsertaan para pemain itu sudah didaftarkan sehingga tidak ada masalah untuk tampil di turnamen internasional. “Ini pintu pembuka untuk turnamen internasional jenjang berikutnya,” ujar Peter.
Pendaftaran pemain ke Sea Champ itu, kata Peter, dilakukan melalui Sekretaris Jenderal SEATTA Muklis dan sudah diketahui pihak Oegroseno, sehingga diharapkan ke depan pengiriman pemain ke jenjang internasional berikutnya semakin meningkat. Dengan demikian para pemain Indonesia bisa mengibarkan Bendera Merah Putih dengan mengharumkan nama bangsa dan negara di event dunia.
“Pengiriman dan pendaftaran pemain ke Bangkok ini ketika saya tanyakan ke Pak Muklis yang juga pengurus Pak Oegroseno dikatakan Pak Oegro sudah diberi tahu dan setuju. Beliau sebagai mantan prajurit mempunyai jiwa yang luar biasa untuk Merah Putih. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih karena mau sama-sama mementingkan atlet dan Merah Putih ,” ujar Peter.
Terbukanya pintu turnamen internasional dan kebesaran jiwa Oegroseno itu menurut Peter akan membuat perkembangan dan pembinaan tenis meja di Tanah Air semakin kondusif. Tidak adanya lagi permasalahan organisasi maka para pemain diharapkan bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk melangkah ke jenjang internasional.
“Apalagi tahun depan kita akan menghadapi SEA Games di Thailand. Kemudian PB PTMSI juga mempunyai visi dan misi untuk meloloskan pemain ke Olimpiade tahun 2028 di Los Angeles,” ucap Peter dalam beberapa bulan ini sudah mengirimkan pemain berlatih ke China.
Pengiriman pemain PB PTMSI ke SEA Champ 2024 itu hampir bersamaan dengan langkah Kementerian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora) mengundang beberapa klub dan Pengurus Provinsi (Pengprov) PTMSI untuk membahas masalah dualisme kepengurusan PTMSI di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Ketika hal itu ditanyakan kepada Peter Layardi, dia mengatakan hanya mendengar adanya pertemuan itu. “Pandangan saya baik-baik saja sepanjang pertemuan itu untuk kebaikan tenis meja Indonesia. Tidak justru menimbulkan kekisruhan baru setelah kondisi yang kondusif dengan sudah diterimanya pemain Indonesia di kancah dunia,” ujar Peter dengan nada tenang.
Dia menegaskan, selama untuk kebaikan dan sesuai dengan aturan hukum maka langkah itu akan didukung. “Intinya, semua pihak harus mengetahui negara ini negara hukum sehingga ada hukum dan aturan serta harus taat hukum. Itu berlaku bagi semua pihak dan kalangan baik itu orang biasa mau pun pejabat tinggi,” tegasnya.
Peter mengingatkan, langkah Kemenpora itu jangan sampai hanya untuk kepentingan oknum-oknum yang selalu menginginkan perpecahan di pertenismejaan nasional. Dia mengetahui ada oknum yang memiliki agenda tersembunyi untuk terus menimbulkan kekisruhan di tenis meja Tanah Air. Hal itu sudah muncul sejak Ketua Umum PMSI dijabat Sri Dato Tahir.
Diceritakan Peter, ketika itu oknum itu sudah memprovokasi dia untuk menentang kepemimpinan Dato Tahir. Padahal saat itu pembinaan tenis meja mampu menghasilkan medali emas di tunggal putra pada SEA Games meskipun Singapura sudah memakai pemain-pemain naturalisasi dari China.
“Itulah emas terakhir Indonesia di SEA Games. Saya menyesal sekali terprovokasi saat itu. Saya menyesal seumur hidup karena oknum itu ternyata tidak berubah. Jadi saya mengingatkan saja jangan sampai pertemuan di Kemenpora itu hanya karen ulah oknum yang memiliki agenda tersembunyi,” katanya.
Sekali lagi Peter menegaskan, jangan sampai ada korban baru lagi akibat ulah segelintir oknum yang sejak dulu berusaha memevah belah tenis meja Indonesia. “Saatnya nanti saya akan menghadapi oknum itu. Saya akan mengambil langkah-langkah hukum karena ini negara hukum,” tutup Peter.(dk/fs)







Komentar