oleh

Penyakit Batu Empedu, Kerap Ditemukan Namun Jarang Disadari Penderita

POSKOTA.CO – Jika tiba-tiba merasakan sakit perut mendadak di sisi kanan, sebaiknya berhati-hati. Bisa jadi, Anda menderita batu empedu atau cholelithiasis.

Penyakit batu empedu merupakan satu dari sekian banyak gangguan pencernaan yang kerap ditemukan, namun sering tidak disadari oleh penderitanya. “Penyakit batu empedu atau cholelithiasis adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami sakit perut mendadak akibat adanya batu di dalam kantong empedu,” ujar dr. Hardianto Setiawan, Sp.PD-KGEH dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Sabtu (23/10/2021).

Kantong empedu merupakan organ dalam di sisi kanan perut tepat berada di bawah hati. Kantong tersebut memiliki fungsi untuk menyimpan cairan empedu yang nantinya akan dilepas ke usus kecil dan membantu proses pencernaan.

Umumnya, batu empedu terbentuk akibat endapan kolesterol tinggi disertai bilirubin yang menumpuk dalam kantong empedu. Beberapa faktor seperti pola makan tidak sehat, diet tinggi kolesterol, genetik, usia, dan kondisi medis tertentu dapat memicu terjadinya penyakit ini.

“Penyakit ini dapat dijumpai pada pria dan wanita, tetapi umumnya wanita lebih banyak mengalami dari pada pria, terutama pada usia lebih dari 40 tahun,” lanjutnya.

Menurut dr Hardianto, penyakit batu empedu perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Sebab jika tidak, kondisi batu empedu dapat memicu terjadinya sejumlah komplikasi serius yang berbahaya. “Dalam kasus yang parah, batu empedu bisa mengancam jiwa karena dapat menyebabkan pankreatitis atau kanker kantong empedu,” ujarnya.

Selain penyakit bantu empedu, gangguan pencernaan yang banyak dijumpai adalah kanker usus besar. Secara umum, kanker usus besar adalah kanker yang terjadi pada usus besar dan ditandai dengan tumbuhnya benjolan yang tidak terkendali.

Menurut dokter spesialis bedah digestif Siloam Hospitals Kebon Jeruk Dr. dr. Wifanto Saditya Jeo, Sp.B-KBD, kanker usus besar sering kali tidak menimbulkan gejala di awal. Maka itu, kesadaran akan bahaya kanker usus besar perlu diketahui sejak dini agar dapat dicegah dan ditangani dengan cepat dan tepat.

“Kanker ini berisiko terjadi pada segala usia, baik kelompok muda maupun tua serta bisa menyerang pria dan wanita. Pada kelompok usia muda, biasanya disertai gejala yang lebih buruk,” jelas dr. Wifanto.

Gejala awal kemunculan kanker usus besar ditandai dengan adanya benjolan kecil jinak berupa polip, yang dalam perkembangannya dapat bertransformasi menjadi ganas. Gejala lain yang dapat dialami antara lain gangguan buang air besar (BAB) yang mengeluarkan darah, sembelit, atau diare tanpa sebab yang jelas.

Selain itu, sering kali juga diikuti dengan rasa sakit pada perut, mudah lelah, dan menurunnya berat badan.

Diakui dr Hardianto, gangguan pencernaan dapat terjadi pada siapa pun tanpa mengenal jenis kelamin dan usia. Karena itu sangat penting memiliki pola hidup sehat agar kesehatan pencernaan tetap terjaga.

“Pola hidup sehat yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit saluran cerna antara lain mengonsumsi makanan bernutrisi atau berserat, kurangi makan daging merah atau olahan, rajin berolahraga, tidak merokok, hindari minuman beralkohol, serta lakukan skrining secara rutin,” katanya.

Ada banyak penyebab gangguan pencernaan bisa terjadi. Mulai dari pola makan yang salah, gaya hidup tidak sehat, hingga munculnya tanda dan gejala penyakit tertentu.

Pada skala ringan, gangguan pencernaan dapat muncul dan hilang dengan sendirinya atau setelah mengonsumsi obat. Namun, pada tingkat yang lebih tinggi gangguan pencernaan harus sangat diwaspadai karena bisa menyebabkan masalah lebih serius pada sistem pencernaan.

Sebagai salah satu pusat unggulan di bidang pengobatan digestif, Siloam Hospitals Kebon Jeruk resmi membuka Siloam Digestive Center pada 23 Oktober 2021. Klinik dengan tim yang didedikasikan untuk membantu pasien dan keluarga pasien melalui edukasi yang tepat seputar masalah pencernaan, konsultasi, hingga penanganan melalui tindakan endoskopi dan tindakan Transanal Minimally Invasive Surgery for Colorectal, termasuk colon resection (CA colon).

Tindakan minimally invasive colon resection merupakan tindakan bedah melalui 3 lubang kecil dengan melakukan sayatan sepanjang 2-3 cm sehingga pembedahan ini memiliki bekas luka yang minim dan masa penyembuhan pasca pembedahan di rumah sakit lebih singkat. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *