oleh

Penggunaan Obat Antinyeri pada Penderita Osteoporosis Dapat Berakibat Fatal

-Nasional-60 views
POSKOTA.CO– Kurangnya aktivitas fisik selama pandemi Covid-19 telah mengakibatkan rasa nyeri badan pada sebagian orang. Untuk mengatasi rasa nyeri, mereka memilih menggunakan obat-obatan anti nyeri yang dibeli bebas tanpa resep dokter.
Padahal penggunaan obat-obatan anti nyeri secara bebas sangat berbahaya terutama pada orang lanjut usia. Karena dapat berakibat fatal mulai dari infeksi paru (pneumonia), permasalahan ginjal dan lambung hingga risiko jatuh.
“Pandemi Covid-19 memang membuat masyarakat menghindari rumah sakit. Tetapi orang dengan risiko osteoporosis tetap harus mengunjungi dokter atau rumah sakit karena sangat berisiko jika ditunda atau malah dibiarkan,” kata Dr. dr. Franky Hartono, Sp.OT(K) selaku Kepala Hip, Knee, and Geriatric Trauma Orthopaedic Center Siloam Hospitals Kebon Jeruk pada temu media, Sabtu (24/10/2020).
Itu sebabnya dr Franky menyarankan orang dengan risiko tinggi osteroporosis untuk tidak takut mendatangi rumah sakit. Selama pandemi Covid-19 rumah sakit tentunya menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti yang dilakukan Siloam Hospital Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Ia mengingatkan bahwa osteoporosis merupakan jenis penyakit ‘silent disease’ karena menyerang secara diam-diam tanpa ada tanda-tanda khusus. Jika dibiarkan kedepannya dapat menimbulkan masalah pada fisik seperti rasa nyeri, patah tulang hingga membutuhkan ostheoarthritis advance. Hal ini tentunya dapat menurunkan kualitas hidup seseorang yang dapat menganggu sistem tubuh yang lainnya termasuk jantung, paru-paru.
Sementara itu, dr Karina Besinga, Sp.OT(K), dokter spesialis ortopedi SHKJ mengatakan pada sebagian besar penderita, osteoporosis muncul nyaris tanpa gejala hingga kemudian terjadi cidera. Untuk menekan risiko osteoporosis, diagnosa dini menjadi kata kunci penting yang harus dilakukan mereka yang berisiko tinggi terkena osteoporosis. Diagnosis dini osteoporosis ini  dapat dilakukan melalui BMD (bone mass density) untuk menilai kepadatan tulang.
“Cidera osteoporosis tidak selamanya dipicu oleh jatuh. Kadang hanya dengan batuk, tulang yang keropos bisa menjadi patah. Sebegitu bahayanya osteoporosis,” kata dr Karina.
Diakui, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa osteoporosis disebabkan karena kekurangan calcium. Padahal kalsium hanyalah salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis.
Adapun enam risiko utama terjadinya osteoporosis adalah jenis kelamin dimana wanita lebih berisiko menderita osteoporosis, usia lanjut (lansia), ras dimana ras Europen/Caucasian/kulit putih berisiko lebih tinggi, adanya riwayat keluarga atau genetika , bentuk atau bingkai tubuh di mana ukuran tubuh kecil lebih berisiko.
“Selain itu penderita penyakit kanker, ginjal atau liver, penyakit autoimun dan radang sendi menahun juga memiliki risiko lebih besar terkena osteoporosis,” jelasnya.
Untuk menangani osteoporosis, terapi melalui gaya hidup, olahraga yang sesuai, pemberian obat-obat anti osteoporosis dapat menjadi pilihan. “Bisa juga dilakukan tindakan invasif bila osteoporosis tersebut menyebabkan tulang patah,” jelas dr. Daniel Marpaung,Sp.OT(K), dokter spesialis ortopedi SHKJ.
Dalam rangka hari osteoporosis sedunia yang jatuh pada 20 Oktober 2020, Dr. Franky mengingatkan kembali akan kesadaran diri kita dan keluarga mengenai pentingnya mencegah dan membantu penderita osteoporosis. Usaha – usaha yang tepat diharapan mampu meminimalisir rasa nyeri, fraktur, bahkan sampai risiko kecacatan.
“Walau di tengah pandemic Covid-19, kita dihimbau untuk selalu mengontrol kesehatan tulang melaui berbagai media baik melalui telekonsultasi melalui platform Aido Health (konsultasi online) maupun pertemuan tatap muka yang selalu mengedepankan protokol kesehatan di rumah sakit sesuai standar dengan harapan membuat pasien aman dan nyaman untuk mempercayakan layanan kesehatannya kepada kami,” tutup Dr Franky. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *