PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan hampir satu tahun. Sudah lebih dari 60 juta penerima manfaat mulai dari siswa PAUD, siswa SD, siswa SMP, siswa SMA/SMK hingga ibu hamil dan menyusui, menikmati menu makan siang yang disiapkan oleh pemerintah melalui dapur 23.676 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Program MBG tak sekadar membuat penerima manfaat terutama anak usia sekolah menjadi kenyang. Dampak lainnya juga berimbas pada suasana pembelajaran di ruang-ruang kelas. Sientje Martentji Ajomi, Kepala SD Negeri 24 Rufei Kota Sorong mengungkapkan bahwa MBG memberi perubahan besar pada suasana pembelajaran di sekolah yang dipimpinnya.
“Anak-anak lebih bersemangat belajar. Mereka juga lebih fokus di kelas, lebih aktif bertanya, dan lebih ceria sepanjang hari. Mungkin karena tidak lagi lapar, tidak lagi berpikir mau jajan apa,” katanya.
Program MBG menurutnya bisa memastikan bahwa anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi sepanjang waktu. Karena itu, ia berharap program ini berlanjut terus untuk melengkapi asupan gizi murid-muridnya.
Senada juga disampaikan Hikmatul Khasanah, Kepala MTs Nurussyifa Kabupaten Bekasi. Diakui sejak menerima MBG, siswa lebih semangat untuk datang ke sekolah. “Persentase ketidakhadiran jauh berkurang. Anak-anak semangat datang ke sekolah,” jelasnya.
Tidak hanya itu, MBG juga membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar. Mereka jauh lebih aktif, lebih sehat dan konsentrasi belajar juga terus membaik. Karena itu, ia juga berharap program MBG terus berlanjut.
Untuk meyakinkan bahwa program MBG memang benar bermanfaat bagi siswa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) belum lama ini pun menggelar evaluasi program MBG. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan terhadap 1.203.309 murid penerima MBG di seluruh Indonesia, diperoleh fakta menarik, yakni penurunan gangguan konsentrasi belajar akibat rasa lapar. Evaluasi yang dilakukan pada tahap baseline (Mei-Juni 2025) hingga endline (November-Desember 2025) tersebut juga menemukan peningkatan fokus belajar siswa.
Besar penurunan gangguan belajar rata-rata mencapai 2,37 poin, dan untuk wilayah Indonesia timur, penurunan gangguan belajar akibat lapar pada sekolah penerima MBG bahkan tercatat 14,85 poin.
Dalam keterangannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan bahwa capaian ini menjadi isyarat bahwa intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar murid, tetapi juga memperkuat kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. “Kehadiran program MBG adalah kunci penting untuk memastikan mereka bisa belajar dengan lebih fokus,” kata Mendikdasmen.
Menurut Mendikdasmen, program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. “Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Susu Belum Jadi Menu Rutin
Pada awal program MBG digulirkan, sejatinya susu menjadi komponen penting yang menyempurnakan menu harian MBG. Namun faktanya hingga kini susu belum bisa hadir setiap hari. Sejumlah SPPG memberikan susu sekali dalam sepekan dalam bentuk susu kota UHT plain.
Mendikdasmen mengakui meski susu merupakan komponen penting dalam pemenuhan gizi harian anak-anak, namun susu bukanlah menu wajib dalam program MBG. Susu masih sebagai penyempurna saja.
“Program MBG yang terpenting adalah menu 4 sehat. Kalau susu itu kan penyempurna. Jadi siswa bisa menyempurnakan di rumah, makan di rumah dan minum susu,” jelas Mendikdasmen.
Senada juga disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Ia mengungkapkan pada daerah yang memiliki pasokan susu dari produsen atau peternak lokal, maka menu MBG dilengkapi dengan susu. Tetapi bagi wilayah yang tidak ada peternakan sapi perah, susu tidak diwajibkan.
“Jika susu tidak tersedia, menu dapat diganti dengan sumber kalsium dan protein lain seperti ikan atau daun kelor,” kata Dadan saat meninjau pameran Gizi di Gedung Antara Heritage Canter.
Meskipun demikian, sebagian besar siswa penerima manfaat MBG berharap susu menjadi menu harian MBG. Mecha, siswa kelas 9A SMP 12 Semarang, mengaku senang dengan adanya makan gratis ini. Namun ia meminta tetap ada susu dalam penerapannya.
“Biasanya siswa bawa bekal sendiri harus ada sayur, buah, dan tentunya susu. Harapannya makan siang gratis ada susunya juga,” kata Mecha.
Rindang, siswa SMA N 55 Jakarta juga berharap susu menjadi menu wajib harian MBG. “Kalau ada susu, lebih semangat makan menu MBG,” katanya.
Ia mengaku sering jajan di kantin sekolah, sekotak susu karena pagi hari tidak sempat menum susu. “Kalau MBG ada susunya kan enak, gak perlu jajan lagi,” jelasnya.
Mengapa Susu Penting?
Di hampir semua negara yang sudah memberlakukan makan bergizi gratis bagi siswa seperti Amerika, China dan Jepang, menyertakan susu sebagai kompnen penting dalam program makan bagi siswa. Ini dilakukan mengingat susu merupakan sumber protein hewani yang sangat baik dan dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan anak.
“Jadi susu bukan sekadar menu pelengkap dalam menu harian anak-anak. Ini adalah produk penting untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan anak-anak,” tegas Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia (Lamipak) Hongbiao Li dalam jumpa pers dengan awak media di Pabrik PT Lami Packaging Indonesia di Cikande, Serang, Banten, Selasa (20/1/2026).
Saat ini, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih rendah hanya sekitar 16,49 kg per kapita pertahun. Rendahnya konsumsi susu ini berisiko menghambat ambisi Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045.
Karena itu, ia mengapresiasi masuknya komponen susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi kebijakan nasional pemerintah Indonesia. Pemberian susu dalam menu MBG, memungkinkan konsumsi susu terutama pada anak-anak dapat meningkat secara signifikan.
Program serupa kata Hongbiao Li sudah banyak dilakukan di banyak negara maju di dunia seperti Jepang, China dan Amerika Serikat. “Indonesia memang baru mulai, tapi ini sebuah langkah yang baik,. Kami mendukung program MBG termasuk pemberian susu untuk anak-anak,” katanya.
Sejumlah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa anak-anak yang rutin mengonsumsi susu cenderung memiliki perkembangan otak dan fungsi kognitif yang lebih baik, memperbaiki daya ingat, meningkatkan daya konsentrasi, dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Rutin minum susu juga membantu meningkatkan kemampuan nalar dan konsentrasi anak usia sekolah.

Ia percaya bahwa program MBG ini menjadi langkah yang tepat untuk menjadikan masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat. Ini adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sudah dimulai di negara China, India, Amerika Serikat dan banyak negara maju lainnya.
Butuh Pasokan Susu dalam Jumlah Besar
Mengapa susu belum setiap hari bisa diberikan dalam menu MBG? Nena Firdaus, pemilik SPPG Kebon Jeruk Jakarta mengatakan salah satu kendalanya adalah pasokan susu UHT plain di pasaran yang masih terbatas jumlahnya. Dengan sasaran program MBG mencapai puluhan juta anak, dibutuhkan pasokan susu UHT plain dalam jumlah besar setiap hari.
“Selama pasokan di pasaran belum aman, maka kami belum bisa rutin kasih susu,” tegasnya.
Sebagai gambaran, jika program MBG memberikan susu setiap hari, maka akan ada peningkatan kebutuhan susu nasional hingga 5 kali lipat. Saat ini kebutuhan susu masih banyak dipenuhi dengan impor.
Melansir data Kementerian Pertanian, Produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) di Indonesia tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar 722.883 metrik ton, dengan kontribusi hanya sekitar 20-21% dari total kebutuhan nasional yang mencapai 4,6 hingga 5,3 juta ton per tahun.
Ia berharap ke depan pemerintah memperkuat industri susu lokal. Tujuannya selain menjamin ketersediaan produk susu di pasaran, juga menekan harga. Sebab selama susu masih banyak yang impor, maka harga akan terus naik.
“Susu lokal masih terbatas jumlahnya, belum bisa memenuhi kebutuhan program MBG,” kata Nena.
Untuk memenuhi kebutuhan susu nasional termasuk mendukung program MBG, Pemerintah tengah gencar meningkatkan produksi melalui impor sapi perah untuk mengurangi ketergantungan impor produk susu. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Agung Suganda, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan populasi sapi perah hingga satu juta ekor pada tahun 2029 melalui Program Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN).
Strategi penambahan populasi sapi perah ini, kata Agung, diharapkan bisa memenuhi ambisi peningkatan konsumsi susu nasional hingga 8,5 juta ton pada 2029. “Pemerintah menargetkan pada 2029, sekitar 96 persen kebutuhan susu dapat dipenuhi dari dalam negeri,” kata Agung pada acara The National Conference of Applied Animal Science (N- CAAS) 2025 dengan tema “Sustainable AgriTech Meets Animal Science for National Food Resilience”, Kamis (25/9/2025).
Melalui program MBG dan pembiasaan minum susu pada anak-anak, maka ambisi meningkatkan konsumsi susu nasional bukan tidak mungkin bisa tercapai lebih cepat. (inung)







Komentar