by

Lahir Kerajaan di Purworejo dan Bandung, Gangguan Kejiwaan, Modus Kriminal, atau Apa Nih

-Nasional-2 views
Read Time:4 Minute, 20 Second

Oleh: Rully Rahadian

BELAKANGAN ini kita sempat dihebohkan oleh munculnya Keraton Agung Sejagat. Betapa tidak, di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai bersama ini tiba-tiba muncul sebuah kerajaan, lengkap dengan raja dan ratunya, serta anggota kerajaan yang keratonnya berada di Jawa Tengah, tepatnya di Purworejo.

Kita tidak usah lagi membahas tentang visi misinya kerajaan tersebut didirikan, karena dalam pembahasan ini kita akan melihat fenomena Kerajaan tersebut dari sisi tujuan mengapa kerajaan tersebut didirikan.

Belum selesai vibrasi keterkejutan masyarakat setelah para pendiri kerajaan tersebut diamankan oleh yang berwajib, kembali masyarakat kita dihebohkan oleh marakmya berita adanya kegiatan sekelompok orang yang tergabung dalam ‘Sunda Empire – Earth Empire’… Apalagi ini?

Apa pun itu, kita tetap menempatkan diri kita seobjektif mungkin, agar kita dapat mengamati persoalan tersebut dengan lebih baik dan mengamati fenomena tersebut dengan bijak, dan berpikir serta bertindak antisipatif untuk segala kemungkinan yang terjadi.

Pertama, kita melihat dari ‘faktor kejiwaan’ para pelaku atau personil yang terkait dengan pendirian atau pembentukan lembaga tersebut. Secara analisa kejiwaan, mungkin saja para pelakunya menderita penyakit megalomania, atau kelainan jiwa di mana para penderitanya merasa dirinya penting, mempunyai peranan di masyarakat, dan pemikiran yang dilebih-lebihkan itu dirasakannya merupakan sebuah kebenaran.

Sunda Empire – Earth Empire

Sigmund Freud salah seorang tokoh psikoanalisis mempunyai teori bahwa megalomania ini merupakan bentuk narsisisme yang berbentuk penyakit mental, yang membesar-besarkan diri sendiri, dan msrupakan hasil manifestasi ekstrem dari narsisisme yang biasa terdapat dalam diri setiap individu.

Berdasarkan teori Freud yang tertulis di atas, maka dapat kita ketahui bahwa akar dari megalomania adalah narsistik yang sakit sangat akut, di mana penderitanya memiliki keyakinan diri yang dibesar-besarkan, berbentuk delusi atau waham dan diyakini secara absolut.

Tentunya penyakit megalomania ini tidak hanya menimpa para pelaku “Ketoprak Humor”, namun menimpa para anggota keluarga kerajaan sesungguhnya. Banyak dari mereka hanya mengandalkan nama besar keturunan atau leluhur, tapi tidak mempunyai keahlian dalam bekerja atau life skill. Tidak jarang mereka menggeser keluarga mereka yang lebih berpotensi maju, agar tidak tersaingi. Bahkan demgan cara fitnah. Mereka tidak paham makna bangsawan yang sesungguhnya.

Sama seperti wartawan, dermawan, kamerawan, dan lain-lain, bangsawan mempunyai makna oramg yang mempunyai orientasi hidupnya kepada bamgsanya, cinta kepada bangsanya, dan membela bangsanya. Bukan meminta disembah-sembah, gila hormat, padahal dirinya hanya angka nol berukuran besar alias tidak mempunyai kelebihan apa pun.

Yang kedua, bisa saja para pendiri kerajaan abal-abal ini memang tidak mempunyai penyakit megalomania, namun mempunyai ‘modus kriminal’, yaitu mendirikan kerajaan karena ada motif memanfaatkan pembentukan lembaga itu sebagai alat untuk menipu masyarakat.

Sebetulnya strategi mereka yang bermodus kriminal ini berkaitan dengan teori pertama, yaitu orang-orang yang menderita megalomania. Para pemain ranah ini benar-benar memahami kondisi masyarakat kita yang sebagian besar masih berjiwa feodal. Hal ini bisa dipahami karena bangsa kita dijajah bangsa asing selama ratusan tahun. Jadi masyarakat yang bermental krocojiwo ini merupakan sasaran empuk para pemain modus kriminal.

Mereka menyentuh titik emosional individu yang mempunyai uang, namun tidak mempunyai kedudukan atau pengakuan sosial di masyarakat. Dengan sejumlah uang, mereka diiming-imingi kedudukan dalam kerajaan, di mana mereka ditempatkan pada kedudukan sesuai kontribusi dan jumlah rupiah yang mereka berikan untuk ‘kerajaan’, sebagai anugerah dari sang ‘raja’ untuk loyalitasnya. Padahal mereka tidak sadar dimanfaatkan uangnya oleh para pemain modus kriminal tersebut.

Dan ketiga, yang lebih membahayakan adalah adanya peranan aktor perang asimetris. Kita juga harus mewaspadai fenomena ini, karena Indonesia menjadi rebutan banyak negara di dunia. Kekayaan Indonesia dalam berbagai bentuk sumber daya membuat banyak negara lain silau akan kemilaunya.

Indonesia tidak akan pernah dihancurkan secara fisik, karena sumber daya alam kita menjadi rebutan negara lain. Indonesia sangat rentan dihancurkan melalui perang asimetris. Tentunya aktor perang asimetris yang ingin menguasai Indonesia jauh lebih cerdas, lebih strategis dibanding para pelaku modus kriminal.

Bukannya tidak mungkin para aktor tersebut membuat strategi dengan mensponsori pembentukan kerajaan abal-abal untuk merusak tatanan dan ideologi bangsa kita yang telah dibangun oleh para founding fathers kita yang berpikir jauh untuk keberlangsungan bangsa ini di kemudian hari.

Semakin banyak kerajaan-kerajaan abal-abal di Indonesia, semakin mudah mereka memecah belah bangsa ini. Belum lagi mereka secara perlahan tapi pasti merubah pola pikir masyarakat melalui berbagai cara, dari hal sederhana, hingga membangun sikap antipati terhadap pemerintah, para pemimpin, dan Ideologi bangsa kita yaitu Pancasila.

Tentunya kita sedang dihadapkan pada persoalan yang tidak mudah. Situasi perang asimetris ini tidak bisa diduga pergerakannya, dan sulit untuk ‘menembak’ musuhnya. Tentunya kita bisa mengambil hikmah atas kejadian berdirinya kerajaan abal-abal itu agar kita selalu waspada.

Pemerintah harus berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait dalam membenahi dan mengantisipasi tumbuhnya kerajaan-kerajaan atau lembaga yang mempunyai orientasi kenegaraan, seperti tumbuhnya negara dalam negara. Masyarakat harus semakin sadar bahwa NKRI harga mati bukan hanya slogan, namun harus menjadi orientasi hidup mereka dalam berbangsa dan bernegara.

Belum lagi maraknya raja-raja palsu yang terus berkembang tak terbendung bak cendawan di musim hujan. Pemerintah harus berkoordinasi dan membentuk semacam lembaga verifikasi untuk raja dan kerajaan yang ada di Indonesia, karena kehadiran raja serta kerajaan abal-abal akan mengotori kesakralan serta nilai-nilai budaya adiluhung bangsa dan negara yang kita cintai dan harus kita bela bersama. (Penulis adalah Ketua LKBI/Lembaga Konservasi Budaya Indonesia) dan Wakil Ketua Umum PWOIN/Perkumpulan Wartawan Online Independen Nusantara)

 

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini