oleh

Kolaborasi ANRI dan Kemendikdasmen, Akan Jadikan Arsip Sejarah sebagai  Bahan Pembelajaran yang Lebih Menarik bagi Generasi Muda

JAKARTA — Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat kolaborasi dalam pemanfaatan arsip sebagai sumber pembelajaran sejarah bagi peserta didik. Kerja sama tersebut diarahkan tidak hanya pada pengelolaan dan penyelamatan arsip, tetapi juga pada bagaimana khazanah arsip nasional dapat diolah menjadi materi pendidikan yang lebih kontekstual, menarik, dan sesuai dengan karakter generasi muda.

“Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting karena arsip tidak semata-mata berkaitan dengan dokumen masa lalu. Arsip juga merupakan rekaman perjalanan bangsa yang dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang,” kata Kepala ANRI Dr. Mego Pinandito, M.Eng usai pembukaan Forum ”Arsip Goes To School: Integrasi Arsip sebagi Sumber Pembelajaran Sejarah Sekolah Menengah Atas” yang digelar pada Kamis (27/08/2026).

Menurut Mego, dokumen yang dikelola dan diselamatkan saat ini memiliki fungsi yang jauh melampaui kebutuhan masa kini. Arsip tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat dalam 10, 20, bahkan 100 tahun mendatang.

“Bukan hanya arsip goes to school, tapi juga penata kelolaan arsip itu sendiri,” ujar Mego dalam keterangannya.

Ia menegaskan, pengelolaan arsip harus dilakukan secara baik sejak sekarang agar rekaman mengenai berbagai kebijakan, peristiwa, tokoh, maupun perjalanan bangsa tetap tersedia dan dapat dipertanggungjawabkan pada masa depan.

Pemanfaatan Arsip sebagai Bahan Pembelajaran

Salah satu fokus utama kerja sama ANRI dan Kemendikdasmen adalah memanfaatkan arsip sebagai bahan pembelajaran di sekolah. Arsip yang tersedia di ANRI memiliki potensi besar untuk diolah menjadi materi pendidikan sejarah. Pemanfaatannya tidak hanya ditujukan bagi jenjang sekolah menengah atas (SMA), tetapi akan dikembangkan untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga SMA.

Menurutnya, setiap jenjang pendidikan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Anak usia dini tentu tidak dapat diberikan materi sejarah dengan cara yang sama seperti siswa SMA. Begitu pula siswa SD membutuhkan model pembelajaran yang lebih sederhana dan visual, sementara siswa SMP dan SMA dapat diberikan materi yang lebih kompleks dan kontekstual.

Perubahan karakter peserta didik juga menjadi pertimbangan. Mego melihat generasi saat ini memiliki kebiasaan belajar yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika pada masa lalu membaca buku menjadi salah satu kegiatan utama untuk memahami sejarah, generasi sekarang semakin akrab dengan perangkat digital, video, film, gim, dan berbagai bentuk konten interaktif.

Karena itu, pembelajaran sejarah dinilai perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. “Bagaimana kemudian pembelajaran sejarah itu bisa lebih asyik, lebih menarik, jadi tidak boring lagi, tidak bosan lagi,” kata Mego.

Ia menilai pembelajaran sejarah tidak seharusnya berhenti pada hafalan nama tokoh, tahun kejadian, atau urutan peristiwa. Sejarah perlu dipelajari dengan memahami konteks yang melatarbelakangi suatu peristiwa. Siswa tidak hanya dituntut mengetahui bahwa suatu perang pernah terjadi, tetapi juga perlu memahami mengapa perang itu terjadi, bagaimana kondisi masyarakat ketika itu, strategi yang digunakan para pejuang, serta faktor geografis dan sosial yang memengaruhi jalannya perjuangan.

“Dengan pendekatan tersebut, sejarah dapat menjadi sarana untuk membangun kemampuan berpikir kritis,” tegasnya.

Buku Pelajaran Akan Diperkaya, Bukan Sekadar Ditambah Tebal

Dalam kolaborasi tersebut, pemanfaatan arsip tidak serta-merta berarti mengganti seluruh buku sejarah yang telah digunakan di sekolah. Mego menjelaskan bahwa salah satu kemungkinan yang akan dilakukan adalah memperkaya materi yang sudah tersedia.

Buku sejarah memiliki keterbatasan ruang. Jika seluruh peristiwa ditulis secara sangat rinci, buku akan menjadi semakin tebal dan berpotensi membuat peserta didik merasa terbebani. Karena itu, materi akan dipilah berdasarkan fokus dan kebutuhan pembelajaran.

Arsip ANRI dapat digunakan untuk mengisi bagian sejarah yang masih memiliki kekosongan informasi sehingga alur peristiwa menjadi lebih lengkap. Jika suatu narasi hanya memiliki informasi mengenai bagian awal dan akhir sebuah peristiwa, arsip dapat membantu menjelaskan bagian yang belum terungkap.

Dengan demikian, arsip berfungsi sebagai bahan untuk memperkaya dan memperjelas materi pembelajaran.

Lebih lanjut ia mengatakan perubahan pola belajar generasi muda juga mendorong ANRI dan Kemendikdasmen mempertimbangkan berbagai format digital. Mego menilai pembelajaran sejarah tidak harus selalu disampaikan melalui buku cetak. Materi dapat dikembangkan dalam format digital, video, film, cerita interaktif, hingga gim edukasi.

Menurutnya, gim dapat menjadi salah satu media yang menarik karena memungkinkan siswa mengikuti suatu peristiwa secara kronologis tanpa merasa sedang menghafal materi pelajaran.

Sebagai contoh, perjalanan Perang Jawa yang berlangsung sejak 1825 dapat dikembangkan dalam bentuk alur permainan yang membawa peserta didik mengikuti perkembangan peristiwa dari waktu ke waktu.

Pendekatan semacam itu diharapkan membuat siswa memahami hubungan sebab-akibat dalam sejarah, bukan sekadar mengingat angka tahun.

Mego mengatakan pengembangan model tersebut dapat melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli teknologi informasi dan pengembang gim Indonesia. Format pembelajaran juga dapat disesuaikan berdasarkan usia. Gim untuk anak usia dini tentu berbeda dengan gim untuk siswa SD, SMP, maupun SMA.

Peran Guru Tetap Menjadi Kunci

Meskipun teknologi menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran sejarah, guru tetap memiliki posisi sentral. ANRI dan Kemendikdasmen akan melihat bagaimana materi berbasis arsip dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.

Kemendikdasmen memiliki perangkat kebijakan serta unit yang menangani pendidikan dasar, kurikulum, penyusunan bahan ajar, dan peningkatan kualitas guru. Kolaborasi dengan ANRI diharapkan dapat memastikan sumber arsip yang digunakan sesuai dengan kebutuhan kurikulum dan karakter peserta didik.

Guru tidak hanya diharapkan menyampaikan cerita sejarah kepada siswa, tetapi juga dapat mengajak peserta didik membaca sumber, memahami konteks, menganalisis informasi, dan menyampaikan kembali pemahamannya dengan cara mereka sendiri. Dengan model tersebut, siswa dapat menjadi peserta aktif dalam proses pembelajaran.

Abdul Mu’ti: Sejarah Harus Dikontekstualisasikan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Sementara itu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai tantangan pembelajaran sejarah saat ini bukan hanya bagaimana membuat anak mengetahui masa lalu, tetapi bagaimana membuat mereka memahami relevansi masa lalu dengan kehidupan mereka sekarang.

Menurut Abdul Mu’ti, generasi muda dapat mempertanyakan alasan mereka harus mempelajari peristiwa yang telah terjadi puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu. Pertanyaan semacam itu justru harus dijawab melalui pembelajaran sejarah yang mampu menunjukkan hubungan antara masa lalu dan kehidupan masa kini.

Karena itu, kemampuan melakukan rekonstruksi sejarah menjadi penting. Peristiwa masa lalu perlu ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan peradaban bangsa dan dikaji melalui konteksnya.

Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya konsep deep learning atau pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi, tetapi mendorong siswa memahami makna, konteks, hubungan sebab-akibat, serta relevansi suatu pengetahuan.

Dalam konteks sejarah, pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui proses kontekstualisasi dan rekontekstualisasi.

Abdul Mu’ti juga menyinggung persoalan komunikasi antargenerasi dalam menyampaikan pengalaman sejarah. Contoh sederhananya, mengenai orang tua yang menceritakan pengalaman masa mudanya kepada anak. Ketika orang tua bercerita pernah pergi ke sekolah dengan sepeda dalam kondisi serba terbatas, maksud sebenarnya bukan agar anak mengalami kondisi yang sama.

Cerita tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa keberhasilan membutuhkan proses, perjuangan, dan ketekunan. Namun, pesan tersebut dapat gagal dipahami jika tidak diterjemahkan ke dalam konteks yang sesuai dengan pengalaman generasi sekarang. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *