oleh

Kisah Sopir Amatiran Menaklukkan Trek Mudik Lebaran Berbekal Aplikasi Travoy 3.0

JAKARTA – Lebaran tahun ini merupakan pengalaman pertama bagi Yonika Al Mathor, 29, warga Bekasi Utara mudik dengan menyetir sendiri setelah tahun-tahun sebelumnya selalu mengandalkan sopir sewaan. Keberanian Yonika melaju di ruas jalan tol dari Bekasi hingga Purworejo, Jawa Tengah di tengah horornya pemberitaan macet muncul setelah mengenal aplikasi Travoy 3.0 dari Jasa Marga.

“Perjalanan mudik tahun ini benar-benar pengalaman paling mendebarkan. Untuk pertama kalinya saya membawa mobil sendiri. Biasanya saya pakai jasa sopir,” ungkap karyawati perusahaan asuransi di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta Selatan tersebut, Jumat (24/4/2026).

Membawa 4 orang penumpang terdiri atas dua orang tua dan dua bocah balita, Yonika memutuskan membawa sendiri mobilnya bukan tanpa alasan. Naiknya tarif jasa sopir sewa dan kenyamanan perjalanan menjadi alasan utamanya.

“Saya tahun lalu sewa sopir dengan tarif Rp350.000 per 12 jam. Ini belum termasuk uang makan dan uang rokok. Kalau perjalanan macet, saya harus bayar sopir sewa bisa Rp1.000.000 karena pasti lebih dari 24 jam,” ujar Yonika.

Tahun ini, ia mencoba menghemat pengeluaran dengan meniadakan jasa sopir sewa ini dengan menyopir sendiri kendaraannya. “Uang sewa sopir bisa buat bayar tol atau makan. Lumayanlah,” jelasnya.

Sebelum memutuskan menyetir sendiri mobilnya, Yonika mengaku sudah menjelajahi (browsing) internet untuk mencari informasi seputar perjalanan mudik lebaran dan triknya agar tetap nyaman meski dilanda kemacetan. Ternyata, aplikasi Travoy 3.0 PT Jasa Marga (Persero) Tbk menawarkan semua informasi yang dibutuhkan.

“Saya menemukan aplikasi Travoy 3,0 dari Jasa Marga. Ternyata informasinya detail banget, fiturnya juga lengkap. Menu-menu yang dibutuhkan sopir saat melaju di jalan tol ada semuanya. Lengkap selengkap-lengkapnya,” katanya.

Alhasil, sepekan sebelum jadwal mudik, ia belajar seluk-beluk perjalanan melintas di jalan tol melalui aplikasi Travoy 3.0. Semua fitur yang ada sangat mudah dipahami, mudah diakses.

Yonika pun merencanakan perjalanan mudik lebaran dengan detail. Mulai dari jam ideal untuk berangkat, rest area yang bakal dikunjungi untuk istirahat, makan dan shalat, kebutuhan bensin, kebutuhan biaya tol, lokasi SPBU hingga peta jalan yang harus dilalui. Termasuk mitigasi kemungkinan terburuk rusak mesin mobil. Semua ini sudah menghitung potensi kemacetan sesuai tanggal perkiraan puncak mudik Lebaran.

“Nah, buat bisa melihat update kondisi mudik, kondisi jalan tol sampai berapa kendaraan yang meninggalkan Jakarta, saya bisa mengikuti di fitur News Travoy 3.0. Lebih fokus dan tidak perlu kita baca-baca news yang lain karena selama perjalanan mudik, kita lebih membutuhkan news kondisi jalan,” terangnya.

Ia juga menghitung dengan cermat titik-titik rest area yang bisa digunakan untuk istirahat dengan nyaman yang ramah orang tua dan ramah anak. Ini menjadi salah satu poin penting yang harus diperhitungkan Yonika. Karena, sekali lagi, ini adalah pengalaman pertama mudik dengan menyetir sendiri mobilnya, tanpa ada sopir profesional. “Jadi saya harus membawa mobil dengan senyaman mungkin, meski macet panjang,” katanya.

Ia mengaku sempat ragu untuk menyetir sendiri mobilnya, mengingat mudik Lebaran selalu identik dengan kemacetan panjang yang menguras energi dan membutuhkan mental yang kuat. “Awalnya saya nggak berani, tetapi buka-buka fitur aplikasi pintar Travoy 3.0, rasanya ketakutan saya tidak beralasan,” tegasnya.

Sambil melaju, ia bisa tetap mengikuti update perkembangan kondisi jalan tol selama arus mudik melalui aplikasi pintar Travoy secara real time. “Kalau lagi istirahat, saya suka buka news-nya, baca-baca berita update kondisi jalan tol untuk mengambil jalan alternatif, atau bahkan menunda perjalanan jika ruas tol merah membara,” terangnya.

Yonika yang mudik pada tanggal 18 Maret 2026 di mana itu merupakan puncak arus mudik Lebaran tahun ini, harus menghabiskan waktu 24 jam untuk jarak Bekasi-Purworejo, dari biasanya yang hanya 11 jam. “Cukup melelahkan, namun memberikan kesan yang luar biasa. Pada akhirnya saya berani dan bisa,” katanya.

Yonika bersama dua anak balitanya dan ibunya saat mudik Lebaran 2026 (ist/dokyonika)

Bagi Yonika, aplikasi Travoy 3.0 Jasa Marga adalah asisten perjalanan di jalan tol yang paling jempol. Karena aplikasi ini, ia bisa menaklukkan ketakutannya, menguatkan mentalnya, memberikan keberanian luar biasa dan itu adalah pengalaman pertamanya.

Ia menyebut aplikasi Travoy 3.0 merupakan asisten perjalanan yang fiturnya lengkap dan bikin nagih. “Ya, saya tertantang untuk kembali menyetir sendiri untuk perjalanan panjang melalui ruas tol. Mudik Lebaran tahun depan, saya bisa merencanakan perjalanan dengan bantuan Travoy lagi,” katanya.

Sempat Nervous Berita Kemacetan

Sebelum melajukan kendaraan di jalur mudik Lebaran, Yonika mengaku sempat nervous dengan berita kemacetan parah dan antrean panjang di sejumlah kanal berita. Kepadatan arus lalu lintas terutama di titik-titik krusial seperti KM 47-70 Tol Jakarta-Cikampek yang merupakan lokasi pertemuan jalur dan rest area, menjadi lokasi menakutkan bagi Yonika, seperti halnya  para pemudik lainnya.

“Saya mencoba memitigasi titik-titik kemacetan supaya bisa dilalui tanpa drama macet panjang,” ujarnya.

Meski sempat terjebak macet, namun Yonika tidak harus mengalami antrean panjang hingga berjam-jam. Ia mengambil contoh ketika harus melintas Jalan Tol MBZ. Ketika sebagian besar pemudik memilih lintasan atas, ia malah sebaliknya, menggunakan jalur bawah. “Alhamdulillah, keputusan saya benar. Saya tidak harus stuck di tengah jalan tol dan ini karena saya terus update fitur map red zone dari Travoy 3.0,” tegasnya.

Soal penuhnya rest area, juga sudah diperhitungkan matang oleh Yonika. Ia sengaja tidak mengambil waktu istirahat di rest area pada jam buka puasa atau jam sahur. Karena pada jam-jam seperti itu, rest area seringkali penuh sesak, menyebabkan antrean panjang untuk masuk. Banyak mobil parkir di bahu jalan. “Belum lagi ketersediaan fasilitas seperti toilet, dan tempat ibadah yang minim akibat kelebihan beban,” katanya.

Meski ini menjadi perjalanan mudik pertamanya membawa mobil sendiri, Yonika tidak harus mengalami drama salah rute, hal yang sering dialami pemudik, khususnya yang jarang bepergian jauh. Salah rute ini sering terjadi di simpang susun/percabangan, terutama di kawasan Cikampek yang memiliki banyak opsi jalur. “Ada maps yang disediakan Travoy 3.0 dan itu real banget,” katanya.

Ketagihan Fitur Travoy 3.0

Tidak hanya Yonika yang ‘ketagihan’ menggunakan aplikasi Travoy 3.0. Izal, warga Mampang Prapatan Jaksel juga merasakan hal yang sama. Sejak mengenal aplikasi Travoy 3.0 setahun lalu, setiap melintas di jalan tol, ia tidak lagi menggunakan Google Maps untuk membaca situasi jalan tol.

“Saya pakai aplikasi Travoy 3.0. Tidak hanya mengetahui situasi jalan tol terkini, tetapi juga melihat rekaman CCTV jika tiba-tiba ada kemacetan panjang,” ujarnya.

Dari belasan fitur yang dimiliki Travoy 3.0, ia mengaku paling banyak menggunakan fitur CCTV real time dan fitur Navigasi atau Travoy Journey. Dua fitur tersebut sangat membantu untuk memperhitungkan lama perjalanan melintas jalan tol. “Tidak harus untuk urusan mudik, saya menggunakan aplikasi ini setiap mau melintasi jalan tol terutama ruas jalan tol Jasa Marga,” ungkapnya.

Ia juga pernah menggunakan fitur Yuk Mampir saat ingin berwisata kuliner di wilayah Purwakarta. “Saya pengen sate Maranggi, pakai fitur Yuk Mampir, saya dapat rekomendasi resto terbaik dari Travoy sekaligus diarahkan rutenya,” tambah Izal.

Ia berharap Jasa Marga terus memperbaiki fitur-fitur yang ada di aplikasi Travoy 3.0. Sebab meski sudah adaptasi dengan teknologi terbaru, acapkali ada fitur yang sulit diakses terutama ketika pengunjungnya membludak.

Jawab Kebutuhan Pelanggan

Mengutip laman jasamarga.com, aplikasi Travoy yang merupakan kepanjangan dari Travel With Comfort and Joy pertama dilincurkan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk pada Mei 2019 berupa aplikasi Travoy 1.0 untuk sistem operasi Android. Setelah melalui tahapan pengembangan lebih lanjut, Travoy 2.0 resmi diluncurkan dengan fitur dan tampilan terbaru pada Februari 2020.

Travoy 2.0 kembali dikembangkan dan pada Maret 2020, ada penambahan beberapa fitur baru seperti Geofencing Marketing, E-Toll History dan Incident Reporting System serta fitur Take n Go. Setelah itu masih di tahun yang sama, Jasa Marga memulai untuk mengintegrasikan aplikasi Travoy dengan aplikasi JMCare milik Jasa Marga sehingga menjadi aplikasi Travoy 3.0 yang berkembang saat ini.

Travoy 3.0 merupakan hasil pengembangan aplikasi Travoy sebelumnya dengan penambahan fitur-fitur baru untuk menjawab kebutuhan pengguna jalan. Tujuannya agar aplikasi Travoy 3.0 dapat menjadi asisten digital yang dapat membuat perjalanan di jalan tol menjadi lebih aman dan nyaman.

Menggunakan aplikasi Travoy 3.0 untuk melintasi jalan tol tanpa drama

Misalnya fitur layanan Panic Shake yang dapat digunakan ketika membutuhkan bantuan darurat dari petugas operasional jalan tol. Pengguna tol yang mengalami gangguan dalam perjalanan juga bisa memesan derek secara online, bahkan memantau progres laporan dan lokasi derek secara real time.

Lalu fitur CCTV yang memungkinkan pengguna jalan juga bisa mengetahui kondisi lalu lintas terkini dari CCTV yang tersebar di Jalan Tol Jasa Marga Group. Semantara untuk memudahkan pengguna tol menyiapkan saldo uang elektronik, aplikasi Travoy 3.0 ini juga bisa membantu kalkulasi tarif tol yang perlu dibayarkan pengguna jalan.

Ada juga fitur Laporan Anda untuk menampung semua kritik dan masukan dari pengguna jalan. Melalui kritik dan masukan ini, Jasa Marga terus berupaya meningkatkan pelayanan secara berkelanjutan.

Selain itu, ada fitur Tarif Tol yang menyediakan informasi tarif tol sesuai dengan golongan kendaraan pengguna jalan, fitur Travnews yang berisi berita terkini tentang jalan tol, dan informasi terkait lainnya, fitur Rest Area yang menyediakan informasi seputar rest area mulai dari lokasi, fasilitas, tenant, hingga kapasitas parkir di rest area.

Kemudian ada fitur SPBU yang menyediakan informasi seputar SPBU terdekat, fitur Yuk Mampir yang menyediakan informasi kuliner dan destinasi wisata terdekat di sekitar jalan tol beserta rute perjalanan yang akan ditempuh, fitur Call Center yang menyediakan informasi Call Center Jasa Marga 14080, fitur Derek Online yang menyediakan jasa kendaraan derek di jalan tol secara praktis dan real time, fitur Panic Shake untuk memanggil bantuan ketika pengguna jalan tol dalam keadaan bahaya, fitur Laporan Anda untuk menampung berbagai masukan dari pengguna jalan tol, fitur Maps & CCTV untuk memantau keadaan jalan tol melalui aplikasi Maps dan CCTV secara real time dan fitur Travpost untuk berbagi informasi kejadian maupun insiden di jalan tol yang dapat diunggah oleh pengguna jalan.

Untuk meningkatkan layanan kepada pengguna jalan tol terutama menjelang arus mudik Lebaran, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, pada Februari 2026, kembali memperbarui aplikasi Travoy ke versi Android 4.9.2 dan iOS dengan berbagai inovasi. “Kami menambahkan fitur-fitur baru untuk menjawab kebutuhan pengguna jalan tol,” ujar Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono dalam keterangan persnya.

Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono (ist/lamanjasamarga)

Beberapa fitur yang merupakan inovasi terbaru dari Travoy 3.0 tersebut antara lain Travoy Pay untuk transaksi multi-biller termasuk top up saldo kartu uang elektronik, fitur Map yang menampilkan informasi kondisi jalan tol, pemeliharaan, dan rekayasa lalu lintas, serta Router Finder untuk membantu memilih rute terbaik.

Fitur pendukung lainnya meliputi Red Zone sebagai informasi titik rawan kecelakaan, serta framing CCTV pada menu Traffic Info yang menyesuaikan otomatis dengan event tertentu seperti rekayasa lalu lintas atau gangguan lalu lintas. Travoy juga memiliki fitur pencarian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), serta layanan pelanggan terintegrasi melalui Call Center 133 dan fitur Chat Us yang tersedia 24 jam.

“Travoy juga dilengkapi dengan fitur Travoy GO sebagai layanan transaksi tol nirsentuh yang tersedia pada 100 titik di ruas Jabodetabek dan Bali,” kata Rivan.

Guna memudahkan pengguna jalan tol memperoleh informasi terkini yang disiarkan melalui streaming digital radio, Travoy juga menghadirkan fitur Radio Travoy FM. Fitur ini dilengkapi dengan floating button yang memungkinkan pengguna mengakses siaran radio secara cepat tanpa mengganggu penggunaan fitur lainnya pada aplikasi.

“Selain itu, pembaruan aplikasi Travoy juga dilengkapi dengan kanal layanan pelanggan yang semakin terintegrasi, melalui Call Center 133 serta fitur Chat Us yang memudahkan pengguna jalan dalam memperoleh bantuan dan informasi layanan operasional selama 24 jam,” jelas Rivan.

Rekor Tertinggi selama Mudik Lebaran

Rivan menambahkan bahwa Travoy tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi, tetapi juga berperan sebagai asisten digital perjalanan di jalan tol yang membantu pengguna dalam merencanakan perjalanan secara lebih matang, aman, dan nyaman. Karena itu tidak heran, angka pengguna Travoy melonjak secara signifikan baik pada libur Nataru maupun mudik Lebaran. “Pada libur Nataru, akses Travoy dari 800 ribu melonjak menjadi 1,2 juta pengguna,” kata Rivan.

Demikian pula pada masa mudik Lebaran 2026. Travoy 3,0 terbukti menjadi asisten digital perjalanan pada periode angkutan mudik dan balik Lebaran atau pada periode 11 hingga 31 Maret 2026.

Terdapat lima fitur yang paling diminati pengguna selama periode tersebut, yaitu CCTV jalan tol real time, tarif tol, peta, rest area, dan resi digital. “Fitur CCTV jalan tol real time menjadi fitur yang paling favorit dengan 3,59 juta kali diakses. Ini menunjukkan kebutuhan pengguna jalan untuk memantau kondisi lalu lintas secara real time sehingga dapat menentukan waktu dan rute perjalanan yang lebih optimal, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran,” ujarnya.

Dengan lebih dari 3.500 CCTV di seluruh ruas tol Jasa Marga Group, fitur CCTV dimanfaatkan untuk memantau kondisi lalu lintas secara real time. Pengguna bisa terus memantau kondisi lalu lintas jalan tol yang akan dilalui, termasuk jika ada gangguan mendadak.

Selain fitur CCTV, fitur tarif tol juga menjadi favorit pengguna, dengan lebih dari 500 ribu kali akses, disusul fitur peta 240 ribu kali akses, fitur informasi rest area 138 ribu kali akses, dan fitur resi digital 103 ribu kali akses.

“Fitur tarif tol membantu pengguna mengetahui estimasi biaya perjalanan. Fitur peta digunakan untuk merencanakan rute secara optimal, fitur rest area menyediakan informasi lokasi Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) beserta fasilitasnya, dan fitur resi digital memudahkan pengguna mengecek serta mengunduh bukti transaksi tol secara elektronik,” terang Rivan.

Tingginya penggunaan fitur-fitur Travoy 3.0 tersebut diakui Rivan menjadi bukti bahwa aplikasi Travoy tidak hanya menjadi sumber informasi saat perjalanan, tetapi juga sarana edukasi bagi pengguna jalan untuk merencanakan perjalanan lebih efektif dan efisien. Melalui komitmen Jasa Marga Melayani Sepenuh Hati, perusahaan yang merupakan pemimpin pasar industri jalan tol tersebut terus berupaya mengembangkan fitur-fitur pada aplikasi Travoy agar semakin adaptif menjawab kebutuhan pengguna jalan serta memberikan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan dan menyenangkan.

Melalui pengembangan berkelanjutan pada aplikasi Travoy, Jasa Marga juga terus memperkuat layanan digital yang terintegrasi untuk mendukung perjalanan yang lebih nyaman dan menyenangkan di sepanjang ruas tol Jasa Marga Group. Dengan semangat melayani sepenuh hati, Jasa Marga berkomitmen menghadirkan layanan yang tidak hanya mempermudah perjalanan, tetapi juga menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan dan penuh arti bagi pengguna jalan tol. (ma’sumah kurniawati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *