oleh

Kembangkan Talenta AI, Kemendikbud Luncurkan Konsorsium Riset Artificial Intelligence

-Nasional-69 views

POSKOTA.CO-Era revolusi industri 4.0 memberikan dampak yang cukup besar, seperti banyaknya pekerjaan yang mulai hilang. Hal tersebut terjadi karena munculnya Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), sebagai main driver industri, yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan lahirnya kompetensi baru.

Berkaitan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  meluncurkan Konsorsium Riset Artificial Intelligence (KRAI) untuk menyiapkan ribuan talenta Artificial Intelligence (AI) yang dibutuhkan oleh pembangunan bangsa dan negara. Konsorsium tersebut merupakan salah satu usaha dalam membangun daya saing bangsa berbasis artificial intelligence, baik dibidang pangan, kesehatan, keamanan, manufaktur, transportasi, dan sebagainya.

“Rekan-rekan dari dunia perindustrian menyatakan, dibutuhkan sekitar 250 ribu talenta di bidang artificial intelligence ini dalam 5 tahun kedepan. Hal tersebut dapat dipenuhi dengan cara bergandengan tangan dan bergotong royong antara dunia pendidikan, dunia penelitian, dan dunia perindustrian,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Nizam, sebagai Keynote Speaker pada Seminar Peluncuran Konsorsium Riset Artificial Intelligence yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (14/10).

Menurut Nizam,  setiap revolusi industri selalu ditandai dengan hilangnya kompetensi lama. Hal ini dapat dilihat pada revolusi industri pertama dimana tenaga kasar manusia tergantikan oleh mesin uap dan mesin pintal, revolusi industri kedua ditandai dengan elektrifikasi; dan pada revolusi industri ketiga ditandai dengan otomasi. Perubahan tersebut memberikan dampak pada hilangnya berbagai pekerjaan, tetapi bersamaan dengan itu juga lahir jutaan pekerjaan yang levelnya lebih tinggi.

Kedepan, kata Nizam, pengembangan Artificial Intelligence lebih baik dilakukan dengan pendekatan bottom up karena akan jauh lebih sustainable, dibandingkan dengan pendekatan top down. Hal tersebut sesuai dengan agenda nasional yang besar maka dibutuhkan resource yang besar agar transformasi tersebut terjadi.

Hammam Riza selaku Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Pada kesempatan yang sama, Hammam Riza selaku Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengucapkan terima kasih atas inisiasi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi sehingga Peluncuran Konsorsium Riset Artificial Intelligence  untuk Indonesia Maju 2020-2045 dapat terealisasi.

Ia menjelaskan bahwa Artificial Intelligence masuk dalam strategi nasional yang langsung diberikan mandat oleh Presiden Joko Widodo.  Strategi Nasional akan berfokus pada kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, dan mobilisasi/smart city.

Sementara itu Senior Director & Chief Solution Architect Solution Head of Nvidia Technology Center (NVAITC) Simon See, menyampaikan bahwa kini Artificial Intelligence berperan penting untuk Indonesia melangkah maju. Simon menilai Indonesia dapat menjawab tantangan Artificial Intelligence dan bersaing dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu unggul dalam bidang Artificial Intelligence.

Menurutnya, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan Artificial Intelligence, yaitu big data, human talents, dan competitional infrastructure dimana ketiga hal ini dapat menyongsong kemajuan Artificial Intelligence di Indonesia.

“Seperti yang diketahui saat ini, kecerdasan buatan terdiri dari data-data yang memungkinkan kita untuk mengakses ketika satu sama lain berkontribusi, baik itu foto, panggilan telepon, data kesehatan medis, banyak data besar yang dikumpulkan. Dan saya yakin Indonesia sudah mengumpulkan banyak hal ini juga. Hal kedua adalah bakat manusia, untuk mengembangkan semua kecerdasan buatan ini, meningkatkannya, membuat aplikasi baru, dan bakat baru. Hal ketiga adalah infrastruktur kompetisi,” ucapnya.

Di era pandemi Covid-19, Artificial Intelligence telah mengalami perkembangan yang pesat seiring dengan kebutuhan komunikasi secara virtual yang kian meningkat. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *