JAMBI-Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) akan menjadikan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarjambi di Provinsi Jambi sebagai pusat pendidikan kebudayaan.
“Kami menginginkan nantinya KCBN Muarajambi dapat menjadi pusat pendidikan sejarah dan kebudayaan tidak sekadar menjadi obyek wisata,” kata Kepala Balai Perlindungan Kebudayaan Wilayah V, Agus Widiatmoko di kompleks KCBN Muarajambi, Sabtu (03/02/2024).
Menurut Agus, selain menjadi cagar budaya pusat pendidikan sejarah dan kebudayaan, kawasan KCBN Muarajambi juga akan dikembangkan sebagai pusat pendidikan geologi, artsitektur tradisional nusantara, serta cagar alam disebabkan kawasan ini memiliki sejumlah tanaman endemik.
Tujuan orang berwisata adalah untuk healing, ke tempat yang jarang serta berbeda dengan yang lain sehingga persoalan lingkungan juga sangat diperhatikan. Diharapkan KCBN Muarajambi dapat menjadi sesuatu yang unitk dan berbeda dibanding destinasi wisata lain.
Pengembangan KCBN Muarajambi akan menjadi pusat pendidikan yang berkaitan dengan alam. Pasalnya kearifan lokal Nusantara tidak pernah lepas dari apa yang alam berikan untuk dimanfaatkan para leluhur.
Banyak peralatan seni dan budaya berkaitan dengan potensi alam sekitar. Dengan demikian jika potensi alam dan lingkungan sekitar dapat terjadi perubahan yang akhirnya bisa membuat budaya tersebut ikut punah.
Oleh karena itu pihaknya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 600 miliar untuk mendukung upaya pengembangan KCBN Muarajambi, yang digunakan untuk pembangunan museum dan fasilitas pendidikan di atas lahan seluas 25 hektare, pemugaran beberapa candi dan penataan lingkungan, serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi masyarakat setempat.
Pelatihan Wirausaha Bagi Masyarakat Sekitar
Di bidang peningkatan SDM pihaknya melaksanakan sejumlah pelatihan seperti pelatihan wirausaha serta mengajak masyarakat untuk melakukan studi ke Vietnam. Dalam kegiatan ini dipelajari bagaimana masyarakat di tepi Sungai Mekong dapat melestarikan kebudayaan sekaligus memanfaatkan nilai ekonomisnya yang dapat juga diterapkan di wilayah KCBN Muarajambi yang berada di tepi Sungai Batanghari.
Beberapa pekerjaan tersebut diharapkan dapat selesai pada 2024 ini, sehingga di tahun berikutnya, Kemendikbudristek dapat melakukan penguatan di bidang lain.
Revitalisasi KCBN Muarajambi diharapkan terus bergerak ke pengembangan SDM masyarakat sekitar. Dengan demikian nantinya masyarakat sekitar dapat menjadi ujung tombak dari rencana tersebut. Kalau mereka belum bisa memahami tentang pelindungan cagar budaya maka pihaknya mengajari sambil mendampinginya.
KCBN Muarajambi yang memiliki luas sekitar 3.981 hektare terdiri atas beberapa candi diantaranya Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong I, Gedong II, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Astano. Pengungkapan temuan-temuan arkeologis di KCBN Muarajambi mengindikasikan kawasan itu sebagai pusat pendidikan Buddhisme tertua dan terluas di Asia Tenggara pada masa lampau. (*/fs)







Komentar