JAKARTA – Dunia media tanah air saat ini tengah menyoroti masalah kasus tumor otak yang setiap tahun terus meningkat dan angkanya diketahui mencapai 5.000 orang meninggal setiap tahun. Penyakit itu terjadi karena banyak orang tidak menyadari gejala tumor otak hingga telat melakukan pengecekan lebih dini.
Berdasarkan data yang dihimpun menunjukkan kasus tumor otak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan estimasi kenaikan antara 10 hingga 25 persen. Di Indonesia, kanker otak menyumbang sekitar 1,5 persen dari total kasus kanker baru pada 2020 dan menempati urutan ke-15 dari seluruh jenis kanker ditemukan.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Columbia Asia Hospital Pulomas, dr Dhira Atman mengatakan, saat ini keterlambatan diagnosis masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan tumor otak kepada pasien. Banyak pasien datang memeriksakan ke rumah sakit setelah gejala yang dialami berlangsung cukup lama.
“Banyak pasien datang ketika gejala sudah berlangsung cukup lama. Padahal, pemeriksaan sejak munculnya keluhan awal dapat membantu dokter menentukan diagnosis dan langkah terapi secara lebih cepat dan tepat,” kata dr Dhira melalui keterangannya di RS Columbia Asia Hospital Pulomas, Jakarta, Senin (29/6/2026).
dr Dhira menjelaskan, beberapa tanda yang perlu diwaspadai, antara lain, sakit kepala yang terjadi terus-menerus, dan gangguan penglihatan. Kemudian, kelemahan pada anggota tubuh, perubahan perilaku, hingga kejang yang muncul tanpa riwayat sebelumnya. “Kemunculan sejumlah gejala itu perlu mendapatkan evaluasi medis apabila berlangsung berulang atau gejala semakin memberat,” ujar dr Dhira.
Dalam proses diagnosis, pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) menjadi salah satu metode yang banyak digunakan, karena mampu menghasilkan gambaran detail jaringan otak dan sistem saraf tanpa tindakan invasif. Teknologi ini membantu dokter mengidentifikasi berbagai kelainan, termasuk tumor otak, stroke, gangguan saraf, hingga kelainan pada tulang belakang.
“MRI sendiri memberikan gambaran sangat detail mengenai kondisi otak sehingga membantu dokter dalam menegakkan diagnosis dan menentukan langkah penanganan paling tepat bagi pasien,” terang dr Dhira.
Menurut dr Dhira, guuna mendukung diagnosis dan penanganan gangguan neurologis, Columbia Asia Hospital Pulomas sendiri menyediakan layanan MRI yang didukung tim dokter spesialis bedah saraf. Pihaknya juga menghadirkan Columbia Gold Membership, program keanggotaan yang memberikan berbagai manfaat kesehatan dan kemudahan akses layanan bagi kelompok lanjut usia (lansia).
“Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala neurologis yang berlangsung berulang atau semakin memberat. Segera konsultasi dengan dokter sejak dini untuk dapat membantu memperoleh diagnosis lebih cepat dan meningkatkan peluang keberhasilan penanganan,” tukasnya.
Sebagai informasi, Columbia Asia Hospitals berdiri sejak tahun 1996 dan saat ini mengelola 19 rumah sakit di Asia Tenggara, diantaranya, lima di Indonesia, 13 di Malaysia dan satu di Vietnam. Columbia Asia Hospitals berkomitmen menyediakan akses kesehatan yang efisien, terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat. (Ifand)/fs)







Komentar