Oleh: Djoko Waluyo
LIMA tahun lalu, mungkin banyak orang tidak percaya kalau suatu hari nanti penjual gorengan, tukang bakso keliling, penjual ketoprak, sampai pedagang kopi sepeda bisa menerima pembayaran digital seperti restoran besar. Tapi sekarang, pemandangan itu sudah biasa.
Di pinggir jalan, pasar, depan sekolah, bahkan di gang-gang permukiman, kita sering melihat secarik kertas bertuliskan, “Bisa Bayar QRIS”. Kelihatannya sederhana. Padahal, tulisan kecil itu menunjukkan bahwa cara orang berjualan dan berbelanja sudah berubah. Perubahan ini tidak dimulai dari mal atau gedung perkantoran. Justru dimulai dari gerobak-gerobak kecil yang setiap hari berkeliling melayani masyarakat.
Perubahan seperti inilah yang menarik untuk diperhatikan, apalagi sekarang Bank DKI hadir dengan nama baru, Bank Jakarta. Pergantian nama itu tentu bukan sekadar ganti logo. Yang lebih penting adalah apakah Bank Jakarta hanya menjadi bank milik pemerintah daerah, atau benar-benar menjadi bank yang membantu pedagang kecil dan UMKM berkembang.
Gerobak Keliling Masuk Zaman Digital
Kalau kita ingat beberapa tahun lalu, sebelum keluar rumah orang selalu mengecek dompet. Jangan sampai uang tunainya kurang.
Sekarang kebiasaan itu mulai berubah. Banyak orang justru lebih khawatir baterai telepon genggamnya habis daripada dompetnya kosong. Kalimat yang sering terdengar juga berubah. Dulu orang bertanya, “Ada uang kecil, Pak?” Sekarang lebih sering bertanya, “Bisa QRIS?”
Perubahan Kecil Membawa Dampak Besar
Menurut Bank Indonesia, sampai semester pertama tahun 2025 sudah ada sekitar 57 juta pengguna QRIS dan 39,3 juta pedagang yang menerima pembayaran QRIS. Yang menarik, lebih dari 93 persen di antaranya adalah pelaku UMKM.
Dalam enam bulan pertama tahun 2025 saja, QRIS digunakan untuk lebih dari 6 miliar transaksi dengan nilai mencapai sekitar Rp579 triliun. Artinya, sederhana. QRIS bukan lagi milik toko besar atau pusat perbelanjaan. QRIS sudah menjadi milik rakyat. Hari ini kita bisa membeli gorengan Rp5.000, kopi Rp8.000, atau bakso Rp20.000 tanpa membawa uang tunai. Pembeli merasa lebih praktis. Pedagang juga semakin mudah melayani pembeli.
Bukan Sekadar Cara Bayar
Banyak orang mengira QRIS hanya membuat pembayaran lebih mudah. Padahal yang berubah jauh lebih besar. Cara orang berdagang juga ikut berubah. Kalau dulu pedagang harus menyiapkan banyak uang receh untuk kembalian, sekarang cukup memasang satu lembar QRIS.
Kalau dulu pembeli sering batal membeli karena tidak punya uang pas, sekarang transaksi bisa langsung selesai. Kalau dulu pedagang menghitung uang satu per satu saat pulang, sekarang sebagian hasil dagang sudah otomatis tercatat. Yang paling penting, tanpa disadari setiap transaksi QRIS sedang membuat semacam rapor usaha.
Kalau dulu pedagang hanya mengandalkan ingatan tentang berapa dagangan yang laku hari itu, sekarang mereka bisa melihat sendiri berapa uang yang masuk setiap hari. Catatan sederhana ini menjadi bukti bahwa usahanya memang berjalan.
Mengapa hal ini penting? Karena selama ini banyak pedagang kecil sulit mendapatkan pinjaman usaha, bukan karena dagangannya jelek, tetapi karena mereka tidak mempunyai catatan usaha yang bisa menunjukkan bahwa usahanya benar-benar berjalan.
Dengan QRIS, setiap transaksi otomatis tercatat. Catatan inilah yang suatu saat bisa membantu pedagang memperoleh pinjaman usaha dari bank. Jadi, QRIS bukan hanya memudahkan pembayaran. QRIS juga membuka jalan agar pedagang kecil lebih mudah mendapatkan layanan perbankan dan tambahan modal.
Peluang di Balik Keberhasilan QRIS
Indonesia memiliki sekitar 65 juta UMKM. Mereka menjadi penopang ekonomi nasional, menyumbang lebih dari 60 persen perekonomian Indonesia, sekaligus menyediakan hampir seluruh lapangan kerja di negeri ini. Karena itu, keberhasilan QRIS seharusnya tidak hanya dihitung dari banyaknya transaksi. Yang jauh lebih penting adalah apakah kehidupan pedagang kecil ikut berubah menjadi lebih baik.
Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Masih ada pedagang yang belum terbiasa menggunakan telepon pintar. Masih ada yang takut salah saat menggunakan QRIS. Masih ada daerah yang sinyal internetnya belum stabil. Masih banyak pelaku UMKM yang belum tahu bagaimana memanfaatkan catatan transaksi untuk mengembangkan usahanya. Karena itu, teknologi jangan berhenti hanya membuat orang lebih gampang membayar. Yang lebih penting, penghasilan pedagang juga harus ikut naik.
Di sinilah Bank Jakarta mempunyai peluang besar. Sebab, sejak berdiri pada tahun 1961 sebagai Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta, bank ini memang dekat dengan kehidupan masyarakat Jakarta. Sekarang, dengan nama baru Bank Jakarta, tantangannya juga berubah. Bukan hanya membiayai pembangunan gedung atau jalan, tetapi juga ikut membantu usaha rakyat berkembang melalui layanan digital.
Keunggulan Bank Jakarta adalah kedekatannya dengan masyarakat. Dekat dengan Pasar Jaya. Dekat dengan pedagang kaki lima. Dekat dengan UMKM binaan pemerintah. Dekat dengan sekolah. Dekat dengan transportasi umum. Dekat dengan berbagai pelayanan masyarakat.
Bayangkan jika jutaan transaksi di pasar tradisional, kantin sekolah, tempat wisata, hingga gerobak keliling menggunakan QRIS Bank Jakarta. Yang tercatat bukan hanya uang yang masuk. Tetapi juga perkembangan usaha para pedagang. Kalau datanya jelas, pemerintah dan Bank Jakarta lebih mudah menentukan siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang layak mendapat tambahan modal, dan daerah mana yang usahanya sedang berkembang.
Mimpi Besar Berawal dari Gerobak Kecil
Dari uraian di atas, tulisan ini ingin menegaskan bahwa istilah kota maju atau kota kelas dunia, biasanya yang terbayang adalah gedung tinggi, jalan lebar, atau kereta cepat. Padahal ukuran kota maju bukan hanya itu.
Kota yang benar-benar maju adalah kota yang membuat kemajuan teknologi bisa dirasakan sampai pedagang kecil. Di sinilah QRIS menjadi penting. Hari ini QRIS dipakai untuk menerima pembayaran. Besok membantu mencatat hasil dagangan. Lusa membantu pedagang memperoleh tambahan modal.
Ke depan, teknologi bahkan bisa membantu menghitung kapan pedagang membutuhkan tambahan modal, kapan dagangannya sedang ramai, atau kapan penjualannya mulai menurun. Yang membanggakan lagi, sekarang QRIS juga sudah bisa digunakan di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Tailan, dan Jepang. Artinya, wisatawan asing yang datang ke Jakarta pun semakin mudah berbelanja di warung atau gerobak milik UMKM.
Bayangkan ketika Jakarta berusia 500 tahun. Seorang wisatawan Jepang membeli kerak telor di Kota Tua. Wisatawan Malaysia membeli kopi di Blok M. Turis Singapura membeli suvenir Betawi, dan mereka cukup memindai QRIS. Uangnya langsung masuk ke rekening pedagang.
Begitulah. Bagi sebagian orang, QRIS mungkin hanya gambar kotak hitam putih yang ditempel di gerobak. Namun bagi pedagang kecil, QRIS bisa berarti pembeli tidak jadi batal belanja, uang langsung masuk ke rekening, dan ada harapan usahanya semakin dipercaya bank. Kalau teknologi bisa membantu pedagang kecil hidup lebih baik, bukankah itu yang sebenarnya disebut pembangunan?
Penutup
Pada akhirnya, keberhasilan Bank Jakarta bukan hanya dilihat dari besarnya aset, laba, atau banyaknya kantor cabang. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika teknologi membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih mudah dan usaha rakyat menjadi semakin maju.
Penjual gorengan tidak kehilangan pembeli karena tidak punya uang kembalian. Pedagang bakso lebih mudah mengajukan pinjaman usaha karena mempunyai catatan transaksi. Penjual nasi uduk bisa melihat hasil dagangnya setiap hari melalui telepon genggam. Mereka mungkin tidak mengenal istilah-istilah yang rumit tentang dunia perbankan atau teknologi. Tetapi merekalah yang paling merasakan manfaatnya.
Kalau Bank Jakarta mampu menjadikan QRIS bukan sekadar alat pembayaran, melainkan jalan untuk membantu UMKM naik kelas, maka yang sedang dibangun bukan hanya sebuah bank yang modern. Yang sedang dibangun adalah Jakarta yang lebih maju, lebih adil, dan memberi kesempatan kepada pedagang kecil untuk berkembang.
Karena kemajuan sebuah kota bukan hanya terlihat dari gedung-gedung tinggi. Kemajuan kota juga terlihat ketika penjual gorengan, tukang bakso keliling, penjual kopi, dan jutaan pelaku UMKM merasa bahwa kemajuan teknologi benar-benar ikut membantu kehidupan mereka. (Penulis adalah Wartawan POSKOTAONLINE.COM)







Komentar