oleh

Gebrakan ‘Senyap’ TNI AL: Tinggalkan Solar, Anggota Kini Dijemput Bus Listrik Canggih Biar Kantong Negara Gak Jebol

​JAKARTA – Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) Cilangkap mendadak punya alat transportasi baru yang yang hemat energi dan bikin melirik. Bukan kapal perang, melainkan armada bus listrik Heavy Duty yang tampil gagah namun senyap. Langkah ini jadi bukti nyata TNI AL gerak cepat mengawal instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk diet ketat BBM impor.

​Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali memimpin langsung uji coba perdana bus ramah lingkungan ini pada Kamis (16/4/2026) pagi.

Tak sekadar gaya-gayaan, transisi ini adalah strategi militer menghadapi krisis energi global akibat ketegangan di Timur Tengah.

​​Laksamana Muhammad Ali menegaskan bahwa ketergantungan pada BBM harus segera dipangkas. Dengan mengombinasikan bus listrik, mobil listrik, dan kendaraan hybrid, TNI AL mematok target ambisius: memotong konsumsi bahan bakar hingga 50 persen.

​”Kita tahu BBM makin langka karena konflik di Timur Tengah. Maka, kita mulai beralih. Ini bukan cuma soal polusi, tapi soal ketahanan energi kita,” tegas Kasal di Mabesal Cilangkap didampingi sejumlah petinggi AL.

Langkah ini selaras dengan target nasional menghemat 200 ribu barel BBM per hari.

​Antarjemput ‘Sultan’ Buat Prajurit di Pinggiran Jakarta.

​Kabar baik buat para prajurit yang tinggal di pelosok. Bus listrik ini difokuskan untuk antar-jemput anggota yang tinggal di kompleks perumahan pinggiran kota yang selama ini sulit dijangkau transportasi praktis.

​Rute awal akan menyasar wilayah seperti: Pasir Angin, Marunda, ​Jonggol. ​”Target awal 20 unit dulu. Kalau hitung-hitungannya efisien, kita bakal sebar ke Surabaya (Koarmada II), Kolinlamil, hingga seluruh Kodaeral di Indonesia,” tambahnya.

​Spesifikasi Gahar Tahan Api dan Anti Banjir

​Jangan bayangkan bus listrik ini ringkih. Bus tipe Heavy Duty berkapasitas 33 kursi ini adalah “monster” jalanan yang pintar. Dibekali baterai jumbo Lithium Iron Phosphate 255 kWh, bus ini sanggup melesat hingga 100 km/jam tanpa mengeluarkan asap sedikitpun.​

Keamanannya pun level militer.

Lolos Uji Ekstrem, tahan getaran hebat dan tetap aman meski harus menerjang genangan air (uji rendam).

​Sistem Proteksi: Dilengkapi APAR otomatis di ruang baterai, detektor asap, dan sistem pemutus daya darurat.

​Mata di Mana-mana: Dipantau oleh 12 kamera CCTV dan GPS real-time untuk memastikan keamanan personel selama perjalanan.

​Secara teknis, biaya operasional bus listrik ini jauh di bawah bus mesin diesel konvensional. Selain tidak perlu antre solar, biaya perawatannya pun minim karena komponen mesin yang lebih sederhana.

​Dengan operasional dua arah (pagi jemput, sore antar), TNI AL membuktikan bahwa menjaga kedaulatan tidak hanya dilakukan di tengah laut, tapi juga dimulai dari penghematan anggaran negara di jalan raya. (aga/din)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *