JAKARTA – Sebuah lukisan karya Denny Januar Ali yang disebut menerima berkat dari Pope Francis dalam peristiwa spontan di depan Galeri Nasional Jakarta pada September 2024, diperkirakan bernilai hingga Rp34 miliar.
Estimasi ini disusun melalui analisis berbasis kecerdasan buatan dengan membandingkan transaksi karya seni religius di lelang internasional, seperti Sotheby’s dan Christie’s.
Analisis disampaikan oleh Satrio Arismunandar, sebagaimana dilansir POSKOTAONLINE.COM, Kamis (30/4/2026), yang meninjau peristiwa tersebut dari perspektif sejarah, sosiologi seni, dan ekonomi simbolik.
Kronologi Singkat
Peristiwa terjadi saat iring-iringan Paus melintas di depan Galeri Nasional. Sebuah lukisan yang menampilkan simbol kerendahan hati –Paus mencuci kaki rakyat kecil– diangkat oleh seorang pendeta.
Paus kemudian membuka jendela kendaraan, menyapa, mendoakan, dan memberikan berkat pada lukisan tersebut. Momen ini berlangsung singkat dan tidak direncanakan.
Analisis Nilai
Menurut Satrio, peristiwa tersebut berpotensi meningkatkan nilai karya melalui ‘symbolic elevation’, yakni lonjakan nilai akibat keterkaitan dengan peristiwa historis. Konsep ini sejalan dengan gagasan Pierre Bourdieu tentang kapital simbolik.
Lukisan ini dinilai memiliki empat dimensi utama:
- Karya seni visual.
- Simbol religius.
- Artefak peristiwa.
- Narasi lintas iman.
Estimasi Nilai
Berdasarkan pemodelan skenario:
- Konservatif: Rp2,5-6,5 miliar.
- Menengah: Rp6,5-14 miliar.
- Premium: Rp16-24 miliar.
- Khusus (kolektor tertentu): hingga Rp34 miliar.
Nilai tertinggi sangat bergantung pada faktor emosional, religius, dan kekuatan narasi.
Kekuatan Narasi
Daya tarik utama karya ini terletak pada kisah yang menyertainya:
- Seniman berlatar Muslim.
- Subjek pemimpin Katolik.
- Tema kerendahan hati universal.
- Peristiwa spontan di ruang publik.
Kombinasi ini dinilai relevan dalam dialog lintas iman dan berpotensi meningkatkan minat pasar global.
Catatan
Estimasi ini bersifat indikatif, bukan harga pasti. Nilai akhir tetap bergantung pada kurasi, dokumentasi, eksposur internasional, serta verifikasi independen.
Lebih dari sekadar nilai ekonomi, karya ini mencerminkan peran seni sebagai jembatan dialog antarbudaya dan antariman.
Tentang Seniman
Denny JA dikenal sebagai figur multidisipliner yang berkiprah di bidang sastra, pemikiran sosial, dan konsultasi publik. Ia juga menjabat sebagai komisaris utama PT Pertamina Hulu Energi.
Pengalaman lintas bidang tersebut dinilai turut memperkaya konteks interpretasi atas karya-karyanya. (*/din)








Komentar