oleh

Berburu Sinyal Hingga ke Pantai, Kisah Pak Guru “Astra” Membakar Semangat Belajar Anak-Anak Rote Barat

POSKOTA.CO – Hari mulai merangkak siang, ketika puluhan siswa kelas IV SD Gmit Oelolot, kecamatan Rote Barat, kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur duduk melingkar dipinggir pantai. Mereka sedang belajar matematika bersama Andrias Banu Pradipto, salah satu peserta Program Guru Muda Garda Depan (GMGD) yang diinisiasi oleh PT. Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR).

Sebelum pelajaran dimulai, para siswa seperti biasa, secara bersama-sama meneriakkan semacam yel-yel “matematika itu mudah dan menyenangkan. Saya pasti bisa mengerjakan”. Pembiasaan meneriakkan yel-yel itu dilakukan oleh Banu untuk membangkitkan semangat siswa belajar matematika.

Banu sadar bahwa banyak siswa yang ‘alergi’ pelajaran matematika. Dalam pikir sebagian besar siswa, pelajaran matematika itu rumit dan susah. Karena itu, tugas pertama Banu adalah mengubah mindset atau cara berpikir siswa terhadap matematika.

“Saya ajak siswa memblok alam pikirnya dengan yel-yel bahwa pelajaran matematika itu mudah. Ini langkah sederhana yang ternyata memang berpengaruh secara signifikan terhadap cara pandang siswa terhadap matematika,” tegas Banu kepada Poskota.

Langkah sederhana tersebut lalu disempurnakan dengan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan dunia anak-anak. Banu lantas menerapkan model pembelajaran dengan metode Gasing. Metode Gasing adalah metode pembelajaran matematika dengan langkah demi langkah yang membuat anak menguasai matematika secara gampang, asyik dan menyenangkan.

Menurut Banu, metode Gasing sangat tepat untuk siswa SD, karena pada prinsipnya matematika siswa SD adalah penguasaan terhadap hitungan. Melalui metode ini, pelajaran matematika disampaikan dengan bantuan alat peraga sambil bermain.

“Dengan mempraktekkan pelajaran berhitung dalam suatu permainan atau kegiatan, secara tak sadar sebenarnya siswa telah belajar matematika. Di sini kami dituntut untuk berkreasi untuk membantu siswa berimajinasi sehingga siswa tertarik belajar baik melalui bantuan alat peraga yang ada di sekitar siswa maupun bantuan game dan internet,” tambah Banu.

Belajar matematika dengan metode Gasing jelas Banu, membuat siswa tidak bosan dan akhirnya stigma bahwa matematika dan sains itu pelajaran yang sulit akan terkikis dengan sendirinya.

Banu yang akrab dipanggil Pak Guru Astra berkisah bagaimana siswa-siswa SD Gmit Oelolot harus belajar dalam keterbatasan sarana dan prasarana. Mulai dari gedung sekolah yang kurang layak, minimnya bahan bacaan, tidak adanya transportasi umum, tidak adanya internet, jarak sekolah yang amat jauh dan lainnya.

“Karena tempat tinggal yang jauh dari sekolah dan kurangnya transportasi umum, banyak siswa yang harus menempuh jarak ke sekolah dengan berjalan kaki rata-rata sejauh 5 km setiap harinya,” jelas Banu.

Meskipun dihadapkan dengan hambatan yang begitu besar, siswa-siswa di Rote Barat kata Banu, memiliki motivasi yang tinggi untuk bersekolah. Mereka juga mempunyai cita-cita ingin menjadi guru, polisi, dokter, pendeta bahkan ada juga yang ingin jadi presiden seperti layaknya anak-anak di kota.

Guna mewujudkan cita-cita para siswa tersebut menurut Banu, diperlukan campur tangan pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan bahwa para siswa mendapatkan layanan pendidikan dengan baik.

“Nah misi kami datang ke Rote Barat salah satunya adalah memberikan semangat kepada siswa dan membantu mereka untuk terus belajar di tengah keterbatasan sarana dan prasarana. Kami yakin mereka bisa berprestasi,” kata Banu.

Cari Sinyal Internet Hingga ke Pantai

Untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa-siswa SD Gmit Oelolot, Banu tak jarang membawa siswa ke luar ruang kelas. Bahkan sering pula membawa siswa-siswa ke pinggir pantai, terutama ketika membutuhkan akses internet.

“Di sekolah, benar-benar tidak ada sinyal. Beruntung di pinggir pantai kami bisa menemukan sinyal internet meski timbul tenggelam,” kata Banu.

Untuk diketahui akses internet di Rote Barat, masyarakat menggunakan fasilitas internet satelit. Teknologi ini bekerja menggunakan gelombang radio untuk berkomunikasi dengan satelit yang mengorbit bumi. Teknologi ini tidak memungkinkan akses internet bisa dinikmati merata oleh seluruh penduduk Rote Barat. Bahkan para guru yang notabene sudah memiliki telepon seluler dan laptop, harus berburu sinyal hingga ke pinggir pantai jika membutuhkan akses internet.

“Di pantai, sinyal lumayan bagus. Jadi kalau pembelajaran membutuhkan internet, kelas pindah ke pinggir pantai,” lanjut Banu.

Pembelajaran di ruang kelas SD Gmit Oelolot di bawah bimbingan Guru Muda Garda Depan (dok/banupradita)

Soal langkanya sinyal internet, Banu sebenarnya sudah membayangkan sejak sebelum dikirim ke Rote Barat. Tidak hanya sinyal internet yang sulit, Banu bahkan membayangkan Rote Barat sebagai wilayah yang tandus, kering, terbelakang, sepi, jarang alat transportasi, sulit mendapatkan bensin dan lainnya. “Sebagian yang saya bayangkan memang terbukti terutama alat transportasi publik,” katanya.

Meski mendapati kondisi yang kurang menguntungkan, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tersebut berhasil menikmati perannya sebagai Guru Muda Garda Depan. Buktinya, ketika kontrak penugasan angkatan keduanya berakhir pada Juni 2022, ia mengajukan diri untuk melanjutkan pengabdiannya pada angkatan ke-3 yang memulai penugasan bulan Juli 2022. Keinginannya pun dikabulkan oleh YPA-MDR. “Jadi ini tahun kedua saya bertugas di SD Gmit Oelolot,” katanya.

Tidak ada alasan yang paling tepat terkait keinginannya memperpanjang kontrak penugasan, selain ingin mengabdi dan melayani anak-anak di daerah pra sejahtera. “Saya ingin mereka jadi anak-anak pintar di tengah keterbatasan sarana dan prasarana belajar yang ada,” tegasnya.

Semangat yang ditebarkan Banu dalam setahun terakhir ini memang membuahkan hasil. Ini terlihat dari semangat anak-anak belajar ilmu baru. Pun guru juga demikian, sangat antusias belajar metode pembelajaran yang lebih efektif seperti yang dibawa Banu dan tim. “Ada banyak siswa yang sebenarnya ingin diajar saya, tetapi karena kedatangan saya lebih banyak menjadi motivator, maka saya hanya mengajar di kelas 4 dan itupun hanya 8 jam,” kata Banu.

Kesehariannya Banu lebih banyak mengerjakan proyek untuk membawa perubahan di sekolah tersebut. Tujuannya jika nantinya proyek GMGD di kecamatan Rote Barat berakhir, guru-guru di wilayah tersebut telah memiliki ketrampilan lebih untuk terus memajukan pendidikan di Rote Barat.

“Intinya kami diminta untuk membawa semangat perubahan. Sehingga ada banyak program yang harus kami lakukan selama di wilayah penugasan. Jadi nanti kalau kami sudah tidak tugas, semangat itu masih dilanjutkan oleh guru-guru yang ada,” tambahnya.

Hal yang sama juga disampaikan alumni Program GMGD angkatan pertama, Henry Alvredh. Ia mengaku banyak sekali manfaat yang didapat setelah mengikuti program GMGD dari YPA-MDR ini. “Berbagai inovasi kami lakukan untuk dapat meningkatkaan kemampuan siswa dan memberikan dampak positif terhadap kemajuan pendidikan di sekolah,” tuturnya.

Bawa Perubahan Nyata

Hadirnya Guru Muda Garda Depan di kecamatan Rote Barat mendapat sambutan hangat baik dari siswa maupun para guru. Mereka berharap para guru yang tergabung dalam tim GMGD tersebut dapat membantu siswa dan guru untuk mengejar ketertinggalan dari wilayah lain dalam hal pendidikan.

“Diajar sama Pak Guru Astra, belajar menjadi menyenangkan. Para gurunya sangat baik hati dan ramah,” kata Delwin, siswa kelas IV SD Gmit Oelolot.

Delwin, siswa kelas IV SD Gmit Oelolot

Tidak hanya itu, Delwin juga mengakui bahwa para Guru Muda dapat menjelaskan pelajaran dengan sangat jelas. “Saya juga bisa belajar matematika dengan cara Gasing. Selain itu saya didampingi dalam lomba KSN mendongeng menggambar dan lainnya. Pokoknya sangat menyenangkan,” lanjut Delwin.

Hal serupa juga disampaikan Fiktoria Lahairoi Adu, guru SD Gmit Oelolot. Kehadiran Guru Muda Garda Depan telah membuatnya bisa mengoperasikan google form, google drive, membuat PPT, excel dan lainnya. “Dulu kami ada laptop tapi hanya untuk ketik-ketik saja, sekarang kami lebih paham bagaimana memanfaatkan teknologi informasi atau IT untuk pembelajaran,” kata Fiktoria.

Kepala SD Gmit Oelolot, Hanok Rondo pun sepakat bahwa kehadiran tim guru GMGD telah banyak memberikan perubahan di sekolah yang dipimpinnya. Guru kini semakin banyak memiliki referensi metode dan model pengajaran kepada siswa. Guru juga menjadi terinspirasi bahwa belajar itu tidak harus dilakukan di dalam kelas, tetapi juga bisa membawa siswa ke luar kelas,” tutur Hanok.

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Wakil Bupati Rote Ndao, Stefanus M. Saek mengatakan pemerintah Kabupaten Rote Ndao bersama seluruh warga Kecamatan Rote Barat sangat berbahagia dan menjunjung penuh apa yang telah diberikan oleh YPA-MDR melalui program Guru Muda Garda Depan. “Kami mendukung dan berterima kasih atas perhatian yang luar biasa dengan penuh sungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Rote Barat,” tukasnya.

Rote Barat yang memiliki luas wilayah 116,28 Km dan jumlah penduduk 8.993 jiwa merupakan salah satu dari 8 kecamatan yang ada di Kabupaten Rote Ndao. Sebagai daerah pemekaran dari Kabupaten Kupang, Rote Ndao yang letaknya paling selatan wilayah Republik Indonesia, hingga kini masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan termasuk dalam hal pendidikan.

Dengan penempatan Guru Muda Garda Depan di Rote Barat, lanjut Stefanus, diharapkan dapat menciptakan metode pembelajaran yang baik dan dapat dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain di luar Kecamatan Rote Barat. Selain itu, kehadiran guru GMGD diharapkan dapat mempercepat target kecamatan Rote Barat menjadi Kecamatan Cerdas Berprestasi.

Bawa Misi Besar YPA-MDR

Program GMGD yang diinisiasi oleh PT. Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim(YPA-MDR) merupakan upaya menghadirkan guru-guru muda yang mempunyai semangat tinggi untuk membantu memajukan pendidikan Indonesia khususnya di wilayah prasejahtera.

“Program ini diselenggarakan dalam rangka terciptanya misi besar YPA-MDR untuk meningkatkan mutu pendidikan di wilayah prasejahtera dengan menghadirkan guru-guru muda yang mempunyai kompetensi dan idealisme memajukan pendidikan di Indonesia,” kata Ketua Pengurus YPA-MDR, Herawati Prasetyo mengutip laman YPA-MDR.

Rote Ndao menjadi salah satu wilayah tujuan pengiriman GMGD dengan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah merupakan salah satu wilayah pra sejahtera. Dengan fasilitas pendidikan yang belum memadai, kabupaten tersebut memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan dalam berbagai hal.

“Kami ingin membantu pemerintah daerah Rote Ndao untuk mengejar ketertinggalan melalui sektor pendidikan dengan mengirimkan GMGD lengkap dengan sejumlah program,” tambahnya.

Kehadiran guru-guru muda ini diharapkan menghasilkan peserta didik yang berkualitas dalam bidang akademik, berkarakter positif dan mempunyai kecakapan hidup serta melestarikan seni budaya daerahnya.

Herawati mengatakan para peserta program GMGD merupakan guru-guru muda yang memiliki semangat tinggi dalam dunia pendidikan. Mereka juga merupakan guru-guru yang memiliki ide dan kreativitas dalam hal metode pembelajaran.

Dengan hadirnya guru-guru yang tergabung dalam program GMGD, Herawati yakin Rote Barat dapat mengejar ketertinggalannya. “Pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas SDM. Itu mengapa kami konsen menggarap sektor pendidikan,” katanya.

Sebelumnya, proses perekrutan dan seleksi dilakukan pada bulan Mei dan terpilih sebanyak 16 orang peserta sebagai angkatan ketiga GMGD, di mana sebagian merupakan peserta GMGD angkatan kedua yang ingin melanjutkan penugasan. Mereka ditugaskan di 16 sekolah tingkat SD, SMP, SMA dan SMK di kecamatan Rote Barat.

Inilah para peserta program Guru Muda Garda Depan dari YPA MDR yang ditempatkan di Kecamatan Rote Barat (dok.banupradipta)

Para peserta terpilih telah mendapatkan pelatihan secara intensif meliputi berbagai materi utama yaitu School Collaboration System (SCS), Pedagogi, Karakter, Profesionalisme Guru, Kurikulum Merdeka dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bekerja sama dengan berbagai narasumber yang kompeten dibidangnya.

Herawati mengatakan program GMGD merupakan wujud dari terciptanya misi besar YPA-MDR untuk meningkatkan mutu pendidikan di wilayah prasejahtera khususnya kepada guru dan lebih dari 2.000 siswa binaan dengan menghadirkan guru-guru muda yang mempunyai kompetensi dan idealisme memajukan pendidikan di Indonesia. Program GMGD ini juga merupakan salah satu upaya YPA-MDR untuk  menjadikan Rote Barat sebagai “Kecamatan Cerdas – Berprestasi” serta akselerasi sekolah binaan menuju sekolah unggul.

Para guru muda peserta program GMGD tersebut setidaknya memiliki lima peran penting. Pertama, menjadi mitra sekolah. Guru Muda bukan narasumber, tetapi sebagai salah satu mitra sekolah untuk bekerjasama memajukan sekolah dan memberikan dampak perubahan positif terhadap ekosistem pendidikan setempat.

Kedua, menjadi guru pendamping. Bahwa guru muda hadir tidak hanya sebagai guru tetapi sekaligus tutor bagi guru dan/atau kepala sekolah dalam implementasi materi pembinaan, pelatihan dan pembelajaran di sekolah serta membangun komunikasi dengan orang tua.

Ketiga, sebagai inisiator. Bahwa guru muda harus paham terhadap setiap kebijakan pendidikan dan perkembangan informasi/teknologi terbaru, sehingga bisa mengarahkan sekolah untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan agar sekolah selangkah lebih maju

“Seperti ketika ada kebijakan kurikulum merdeka, maka guru muda harus dapat memberikan pemahaman tentang kurikulum merdeka dan impelementasinya,” tegas Herawati.

Lalu fungsi keempat adalah sebagai agent ganda. Selain sebagai mitra sekolah, Guru Muda juga merupakan perpanjangan tangan dari YPA-MDR (PIC in charge) dan narasumber.

Dan fungsi kelima adalah sebagai fasilitator. Bahwa Guru Muda berperan sebagai fasilitator dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Kontribusi YPA-MDR untuk Pendidikan Indonesia

Mengutip laman YPA-MDR, Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) yang berdiri sejak tahun 2009 adalah yayasan yang secara khusus didirikan dan dimiliki oleh PT Astra International Tbk sebagai pelaksana kontribusi sosial berkelanjutan bidang pendidikan sekaligus wujud pilar Astra untuk Indonesia Cerdas. Sasarannya adalah sekolah-sekolah di daerah prasejahtera atau 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di Indonesia.

Kepedulian Astra terhadap kemajuan pendidikan Indonesia khususnya wilayah prasejahtera, bermula saat krisis  tahun 1998 lalu, yang mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin, jutaan anak terancam putus sekolah dan banyaknya sekolah yang tidak mampu membiayai operasional pendidikan.

Astra menyadari bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Pendidikan juga merupakan landasan menyiapkan generasi emas sebagai penentu masa depan bangsa

Melalui proses persiapan dan tujuan yang terukur, akhirnya pada 2005, Michael D. Ruslim yang merupakan Presiden Direktur Astra pada waktu itu, menginisiasi pembentukan program Bantuan Edukasi dan Transformasi bagi Anak dan Sekolah (BERNAS) dan berjalan hingga saat ini menjadi lembaga Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan Indonesia untuk wilayah prasejahtera

Adapun visi, misi dan goal YPA-MDR adalah menjadi lembaga yang mewujudkan Sekolah Unggul di daerah prasejahtera, yang mampu mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas sebagai agent of change menuju masyarakat sejahtera.

Pola pembinaan yang dilakukan berdasarkan 4 Pilar, yang meliputi Pilar Akademis, Pilar Karakter, Pilar Kecakapan Hidup dan Pilar Seni Budaya. Selain itu, YPA-MDR juga memberikan bantuan berupa sarana prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Program GMGD itu sendiri sejalan dengan cita-cita Astra untuk “Sejahtera Bersama Bangsa”. Melalui program GMGD, YPA-MDR menargetkan adanya perubahan sikap positif tenaga pendidik dan peserta didik, lengkapnya administrasi pembelajaran di kelas, terlibatnya warga sekolah, orang tua, dan Dinas Pendidikan dalam Manajemen Berbasis Sekolah, perpustakaan sekolah dapat terkelola dengan baik, terlaksana pembinaan siswa dan guru untuk persiapan kompetisi pendidikan, terlaksana ekstrakurikuler pendukung, sekolah meraih prestasi di bidang akademik dan non akademik, terbentuk sekolah berkarakter, sekolah mendapat akreditasi A serta menjadikan sekolah unggul dalam 5 tahun.

Hingga saat ini, YPA-MDR telah membina 110 sekolah (jenjang SD, SMP dan SMK/SMA) yang tersebar di 13 kabupaten, yaitu Kabupaten Lampung Selatan, Serang, Tangerang, Bogor, Majalengka, Kapuas, Kutai Barat, Barito Utara, Bantul, Gunung Kidul, Pacitan, Kupang dan Rote Ndao. Terdapat 1.745 guru dan 23.680 siswa yang sudah mendapatkan manfaat dari program GMGD. (m. kurniawati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *