POSKOTA.CO – Tedy Aris Setiawan (23), Anak Buah Kapal (ABK) asing mengalami penderitaan dan siksaan selama bekerja di atas kapal FV Lurong Yuan Yu asal Tiongkok.
Bahkan dirinya sering dipukuli hingga sampai dimasukan ke dalam freezer di kapal ikan FV Lurong Yuan Yu.
ABK lulusan SMK kejuruan pelayaran awalnya mendambakan mendapat upah besar bekerja di kapal asing Tiongkok. Namun kenyataan pahit sehari-hari penyiksaan yang dia dapatkan.
Penderitaan ABK itu diungkap orang tuanya Ratna Sari (48). “Saya menerima curhatan anak saya, penyiksaan tragis yang selalu diterima anaknya,” tutur ibu Tedy, warga Kampung Cibodas RT 02/08, Desa Bojong Rangkas Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor
Curhatan yang didengarnya langsung dari anaknya, bahwa Tedy kalau salah sedikit selalu ditendang dengan sepatu safety yang tebal dan ada besinya, dipukul sama helm proyek bahkan sampai dimasukan ke ruang pembekuan ikan tangkapan atau freezer selama satu dua jam.
Ratna menceritakan, beberapa kali anaknya Tedy mengeluh dan ingin pulang ke Indoenesia, namun sulit terwujud.
Tanggal 9 Juni 2020 Tedy mengiris surat berisi permohonan kepulangan anaknya dari perusahaan kapal ikan di Taiwan itu.
Tedy sendiri sudah kerja sejak bulan November 2019 hingga Juni 2020 tidak ada kabar. “Dari awal berangkat ibu cuma menunggu, kok belum ada kabar belum ada kabar, dari pihak kantor baik-baik aja,” katanya.
Hingga akhirnya pada hari Minggu pas kapal lagi isi bahan bakar Tedy baru bisa berkomunikasi dengan keluarga di Bogor.
“Bukannya saya mendengar kabar gembira, tapi justru pilu mendengar curahtan anak saya yang mengalami perlakuan buruk,” tuturnya.
Sejak itu, Ratna terus membayangkan apa yang dialami anak nya sambil terus menangisinya, terutama dimasukan ke freezer sampai dua jam. “Kita buka kulkas sebenar saja udaranya udara berasa dingin apalagi berjam dengan freezer besar di kapal,”ujarnya sambil mengutuk para awak kapal Tiongkok.
Menurut pengakuan Tedy, cerita Ratna, apa yang dikerjakan ABK Indonsia selalu salah dimata pemilik dan awak kapal berbendera Tiongkok tersebut.
Ratna meminta pertanggung jawaban dari perusahaan yang menyalurkan Tedy, PT Rafa Samudera Bahari.
Sebab tidak hanya kerja yang disiksa, tapi juga pola makan, minum, isitirahatnya tidak teratur dan semaunya diberikan.
Dia berharap anak keduanya itu pulang dengan keadaan selamat dan kembali ke rumah.
Selain komunikasi dengan Tedy melalui video call, Ratna menceritakan dirinya menerima video dari anaknya bersama teman-temannya yang juga mengalami nasib serupa penyiksaan. (ymd)







Komentar