oleh

Akhir Petualangan Oknum Perangkat Desa yang Hobinya ‘Ngangkat’ Bini Orang

Ini satu lagi cerita tentang oknum perangkat desa yang suka ‘ngangkat’ istri orang ke atas ranjang. Dia adalah Tarno, oknum perangkat Desa Janti, Kecamatan Slahung, Ponorogo, Jawa Timur.

Sebagai perangkat desa, Tarno ternyata merangkap juga sebagai pemerhati istri orang. Jadinya, dia tahu mana istri sah dan istri siri seseorang. Mungkin dalam benaknya yang ngeres itu, Tarno berpendapat kalau istri siri itu jarang ‘ ditengok’ suaminya, karena sang suami harus menggilir.

Atas dasar pemikiran seperti itulah Tarno kemudian mendekati Parni, istri siri Paijo. Ternyata dugaan Tarno benar, Parni ternyata perempuan gampangan. Tak perlu banyak kata, cukup hanya dengan bahasa isyarat Parni langsung paham akan maunya Tarno. Kalau bahasa iklan mah, ” kutahu yang kau mau.”

Karena sudah sama-sama mahfum, keduanya tinggal atur waktu untuk melakukan eksekusi saat Paijo suami siri Parni sedang tidak di rumah. Kenapa begitu, karena Parni ternyata peselingkuh yang pemberani. Berani melakukan selingkuh di rumahnya sendiri.

Tapi serapi apapun keduanya mengatur strategi, saat apes akhirnya datang juga. Pada Sabtu ( 3/10) malam, untuk kesekian kalinya sejoli ini kembali menikmati sorga terlarang di rumah sang perempuan. Namun apes itu datang, manakala Paijo yang sedang ada keperluan di luar, ujuk-ujuk balik ke rumahnya.

Namun sesampainya di rumah, Paijo heran kenapa lampu rumahnya padam tak seperti biasanya. Selain itu, pintu rumah pun terkunci rapat dari dalam, hingga Paijo masuk lewat pintu belakang yang kebetulan tidak terkunci.

Sesampainya di dalam rumah, ada keanehan lagi. Pintu kamar tidur juga terkunci. Paijo mencoba mengetuk pintu, Parni memang segera membuka pintu tetapi berusaha menghalangi suami sirinya masuk kamar, karena di dalam kamar tidur tersebut tengah ada Tarno, selingkuhan Parni .

Meski statusnya bukan perangkat desa, Paijo tak mau main hakim sendiri. Ia memanggil sejumlah warga untuk menjadi saksi atas perselingkuhan tersebut dan sekaligus menggerebek pasangan selingkuh itu.

Sayangnya, saat Paijo minta bantuan tetangga , Tarno rupanya sudah ngacir keluar kamar. Besokannya, barulah warga melapor ke kepala desa dan Tarno kena hukuman adat, harus membayar dengan 40 zak semen untuk disumbangkan ke desa. Namun bukan cuma itu, warga meminta Tarno dipecat dari jabatannya sebagai perangkat desa.

Akan halnya Tarno, bak seorang politikus enteng saja menjawab, tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya sebelum kasusnya memiliki kekuatan hukum yang pasti.

Jawaban kamu hebat Tar, sering dengar terpidana korupsi membela diri di hadapan petugas hukum ya? Tapi kamu lupa Tar, ini bukan kasus korupsi atau penggelapan uang negara, tapi kasus penggelapan bini orang. (Agus Suzana)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *