JAKARTA — Pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansah mengusulkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerapkan skema tiket masuk gratis bagi pengunjung Ancol, dengan tetap memberlakukan tarif kendaraan yang terjangkau.
Menurut Trubus, kebijakan tersebut dapat menjadi jalan tengah untuk merealisasikan tuntutan masyarakat tanpa mengabaikan kebutuhan biaya operasional kawasan wisata. Ia menyarankan tarif kendaraan ditetapkan pada kisaran Rp10.000 hingga Rp20.000, sedangkan pengunjung tidak lagi dibebani tiket masuk per orang.
“Seharusnya bisa, kalau memang mau digratiskan bisa. Misalnya kendaraannya saja yang bayar orangnya gratis. Kendaraan misalnya bayar 10.000 atau tidak 20.000. Kalau saat ini, terlalu mahal untuk tiket masuk saat ini,” kata Trubus saat berbincang dengan wartawan, Rabu (28/10/2026).
Ia menilai tarif masuk yang dihitung berdasarkan jumlah pengunjung dapat menambah beban pengeluaran keluarga yang ingin berwisata. Terlebih, biaya tiket bukan satu-satunya pengeluaran karena masyarakat masih harus menyiapkan anggaran untuk transportasi, makanan, dan kebutuhan lain selama berada di kawasan wisata.
Trubus mengaku pernah mengalami besarnya biaya kunjungan ketika membawa keluarganya ke Ancol. Pengalaman itu menjadi salah satu pertimbangannya dalam mendorong skema tiket yang lebih ramah bagi masyarakat.
“apalagi sampai membawa keluarga, saya pernah ke ancol, itu biayanya sampai ratusan ribu. Saat itu saya membawa keluarga,” ujarnya.
Tiket Gratis Berpeluang Dongkrak UMKM
Selain memperluas akses masyarakat terhadap tempat wisata, Trubus menilai penggratisan tiket masuk berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan ke Ancol. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas wisata.
Menurutnya, peningkatan jumlah pengunjung dapat memperbesar peluang transaksi bagi pedagang makanan, minuman, dan berbagai produk lainnya di kawasan tersebut.
“Kalau masalah operasional itu bisa dilakukan oleh UMKM. Bahkan, kalau banyak pengunjung, umkm jadi makin laku. Bahkan, pengunjung jadi ramai, umkm juga senang, karena banyak pembelinya,” katanya.
Trubus juga menilai mahalnya biaya berwisata dapat memengaruhi kemampuan pengunjung untuk berbelanja selama berada di lokasi. Ketika sebagian besar anggaran terserap untuk tiket masuk dan biaya lainnya, pengeluaran untuk membeli produk UMKM berpotensi ikut terbatas.
“Karena saat ini kurang laku (UKMK), karena mahal-mahal, 1 juta bisa habis (masuk ke ancol). belum tiket dan lain-lainnya, bisa kelenger, tergantung political will (kemauan politik),” ujar Trubus.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah mempertimbangkan kebijakan tarif yang tidak hanya memperhatikan aspek pengelolaan kawasan, tetapi juga daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil.
Ancol Sebagai Ikon Jakarta
Trubus berpandangan, Ancol memiliki posisi penting sebagai salah satu ikon wisata Jakarta sehingga akses masyarakat terhadap kawasan tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Ia menilai penggratisan tiket masuk juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang ingin menikmati fasilitas wisata tanpa terbebani biaya tiket untuk setiap anggota keluarga.
“Selain itu, jika digratisnya juga bisa menambah daya tarik. Lagipula, ancol kan bukan privat, ini kan milik Jakarta. Kalau di PIK hanya bayar parkiranya kalau, Ancol ikon Jakarta,” tuturnya.
Meski demikian, penerapan kebijakan tersebut dinilai memerlukan kemauan politik serta perhitungan yang matang. Pemerintah perlu menentukan skema pembiayaan operasional dan pemeliharaan agar akses gratis bagi pengunjung tidak mengganggu keberlangsungan pengelolaan kawasan.
Trubus menegaskan, jika penggratisan tiket masuk Ancol merupakan bagian dari janji politik, pemerintah perlu mencari mekanisme yang memungkinkan kebijakan itu dilaksanakan.
“Kalau gratis itu merupakan janji politik, ya harus diterapkan. Bayar kendaraannya saja. itu merupakan win-win solution,” pungkasnya.
Pramono Sebut Tiket Gratis Sulit Diterapkan
Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menilai permintaan agar tiket masuk Ancol digratiskan bagi seluruh masyarakat tidak mungkin dipenuhi. Menurutnya, pengelolaan kawasan wisata membutuhkan anggaran untuk operasional, perawatan, dan pemeliharaan.
“Saya juga heran kalau kemudian ada permintaan untuk gratis bagi semua masyarakat, ya enggak mungkinlah untuk dipenuhi,” kata Pramono di kawasan Plumpang, Jakarta Utara, Selasa (27/10/2026).
Pramono menjelaskan, kebutuhan biaya pengelolaan tidak hanya berlaku untuk Ancol, tetapi juga tempat wisata lain milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Taman Margasatwa Ragunan.
“Karena apa pun, untuk merawat, memelihara, baik di Ancol maupun Ragunan memerlukan biaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemprov DKI Jakarta telah memberikan fasilitas masuk gratis ke Ancol dan Ragunan bagi kelompok masyarakat tertentu, yakni anak-anak penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP).
“Ancol dan Ragunan itu gratis bagi anak-anak penerima KJP. Jadi tidak gratis bagi siapa pun. Gratis bagi penerima Kartu Jakarta Pintar. Dan itu sudah kita lakukan,” ucap Pramono.
Warga Jakarta Bersatu Tagih Janji Politik
Sebelumnya, kelompok yang mengatasnamakan Warga Jakarta Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026). Mereka mendesak Pemprov DKI Jakarta menggratiskan tiket masuk Ancol bagi seluruh masyarakat Ibu Kota.
Juru Bicara Warga Jakarta Bersatu, Andi, mengatakan aksi tersebut merupakan tindak lanjut dari audiensi dengan Pemprov DKI Jakarta di Balai Kota.
Dalam pertemuan itu, pihaknya memperoleh penjelasan bahwa terdapat persoalan peraturan daerah (perda) yang mengatur pemberian akses gratis ke Ancol bagi masyarakat umum.
“Jadi, kemarin kita sudah ke sana, terus mereka kan hasil dari pertemuan kita itu antara pihak Pemda, Pengelolaan Ancol sama kita, mereka bilang ada persoalan perda yang mengatur terkait tidak bisa masuknya masyarakat umum ke Ancol secara gratis,” kata Andi.
Andi menilai biaya tiket masuk dan parkir masih menjadi pertimbangan bagi warga yang ingin berwisata bersama keluarga. Ia mencontohkan, tarif parkir Rp25.000 dan tiket masuk pengunjung Rp25.000 membuat seseorang harus mengeluarkan sedikitnya Rp50.000 jika datang menggunakan kendaraan pribadi, belum termasuk pengeluaran lainnya.
“Bayangkan kalau misalkan buat parkirnya aja Rp25.000, belum lagi orangnya Rp25.000, kalau sendiri aja sudah ketahuan Rp50.000. Bagaimana kalau kita punya anak dua atau tiga, istri bisa berlima, kali Rp25.000 kan cukup lumayan,” tandasnya.
Perbedaan pandangan antara Trubus dan Pramono memperlihatkan bahwa wacana tiket gratis Ancol tidak hanya berkaitan dengan keterjangkauan wisata, tetapi juga menyangkut pembiayaan operasional, kebijakan tarif, dan akses masyarakat terhadap fasilitas rekreasi di Jakarta.(ta)







Komentar