oleh

RS Lapangan Covid-19 Kota Bogor Dinonaktifkan

POSKOTA.CO – Rumah Sakit Lapangan (RSL) Covid-19 Kota Bogor yang terletak di Kompleks Gor Pajajaran, Tanah Sareal, dinonaktifkan per Senin (19/4/2021).

Langkah ini diambil satgas karena tren kebutuhan pasien Covid-19 yang harus dirawat semakin menurun. Meski demikian, Pemerintah Kota Bogor tetap menyiagakan 21 rumah sakit rujukan dan tempat isolasi untuk OTG di Pusdiklat BPKP.

“Hari ini Rumah Sakit Lapangan Covid-19 Kota Bogor dinonaktifkan karena kebutuhannya menurun bahkan BOR (tingkat keterisian tempat tidur) nyaris tidak ada. RS lapangan ini kan didirikan untuk memenuhi kebutuhan tempat tidur yang sangat tinggi ketika itu. Sekarang ini kasusnya cukup terkendali, jauh di bawah ambang batas WHO. Semua bisa tercukupi di faskes atau RS rujukan yang ada,” ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya SUgiarto, Senin (19/4/2021).

Bima Arya menyebut, penonaktifan RS lapangan ini bukan berarti dihilangkan. Pihaknya tetap mewaspadai dan mengantisipasi agar tidak lonjakan kasus lagi. “Kalau ada lonjakan, tentunya RS lapangan ini kembali akan dibutuhkan. Tergantung kebutuhan tadi. Mudah-mudahan terus terkendali,” ujar Bima.

“Hope for the best, but prepare for the worst. Tentunya kita berharap untuk yang terbaik (tidak ada lonjakan), tetapi tetap bersiap untuk kemungkinan terburuk,” tambahnya.

Untuk itu, lanjut Bima, alat kesehatan tetap akan disiagakan di gedung RS lapangan tersebut. “Alat-alat masih tetap di sini. Semua standby dan semua siaga. Kalau ada panggilan tugas, semua nakes akan kembali bertugas. Kalau situasi kembali naik, ini akan kita aktivasi lagi. Sementara nakesnya ada yang kembali lagi bertugas di faskesnya masing-masing, seperti RSUD, tapi sisanya standby saja,” jelas Bima.

Selama 90 hari dioperasikan, Bima Arya mengatakan, RS lapangan sangat efektif menekan penyebaran Covid-19 dan membantu penyembuhan pasien. “Sejak 18 Januari hingga 18 April 2021 RS lapangan sudah merawat 346 pasien dengan gejala ringan hingga sedang. 290 Pasien sudah dinyatakan sembuh, 35 pasien dirujuk dan nol kasus meninggal. Jadi sangat efektif,” katanya.

Bima Arya juga memberikan apresiasi kepada 252 tenaga kesehatan dan non-nakes RS lapangan yang telah mendedikasikan diri dalam panggilan pengabdian ini.

“Terima kasih atas dukungan Forkopimda, dengan waktu yang singkat RS lapangan ini bisa terwujud. Izinkan saya juga dari lubuk hati yang paling dalam menyampaikan apresiasi. Saya mewakili seluruh warga Bogor sangat berterima kasih dengan adanya RS lapangan yang isinya adalah para nakes dan non-nakes yang tidak hitung-hitungan tetapi berjuang luar biasa, ikhlas, semata-mata untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa manusia di Kota Bogor,” tandasnya.

Secara umum, kata Bima, kasus Covid-19 di Kota Bogor juga cukup terkendali. Dari 871 tempat tidur isolasi yang disiapkan di 21 rumah sakit rujukan dan Pusdiklat BPKP, hanya terisi 260 (30 persen).

“Meski demikian, warga tetap harus waspada karena belum aman sepenuhnya. Tetap jaga protokol kesehatan demi kelancaran ibadah selama Ramadan hingga Idul Fitri nanti. Semoga Tidak ada lonjakan kasus dan semakin dijauhkan dari pandemi Covid-19,” paparnya.

Sementara itu, Kepala RSL Covid-19 Kota Bogor dr Yeti Hariyati mengatakan, penurunan pasien yang dirawat di RS lapangan telah terjadi sejak awal April, di mana hanya terisi 15 tempat tidur dari total 64 yang disiapkan.

“Bahkan, pekan kemarin hanya delapan pasien. Sekarang sudah nol pasien karena sudah sembuh. Sempat paling banyak itu pada saat akhir Februari sampai awal Maret itu terisi 55 tempat tidur, hampir 100 persen,” ujar Yeti yang juga dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Kota Bogor ini.

Ia menambahkan, untuk tenaga kesehatan sebagian ada yang sudah kembali ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan masing-masing.

“Mereka juga masih dibutuhkan untuk melayani pasien lainnya, baik Covid ataupun non-Covid. Karena kan pelayanan non-Covid juga harus mendapatkan perhatian,” pungkasnya. (yopi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *