oleh

Drama “Sang Surya Di Atas Lautan” Kisah Perjuangan Ir Djuanda Bakal Dipentaskan di TIM, Catat Tanggal Mainnya!

JAKARTA – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta melalui Lembaga Seni Budaya akan menggelar Pementasan Drama berjudul “Sang Surya Di Atas Lautan (Ir. Djuanda)”. Pementasan drama yang berkisah tentang kehidupan seorang kader Muhammadiyah bernama Ir H. Djuanda tersebut akan dilakukan selama dua hari yakni 24-25 November di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Kepastian rencana pementasan drama tentang Ir H. Djuanda tersebut disampaikan oleh Ketua LSB PWM DKI Jakarta Prof. Imamudin usai bersilaturahmi di kediaman keluarga Ir. H Djuanda, di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan pada Jumat (14/6/2024). Turut hadir dari LSB PWM DKI Jakarta Imam Maarif, Bambang dan Lelly Qodariah. Sedang dari pihak keluarga Ir H Djuanda diwakili oleh Ismeth Wibowo dan Iwanshah Wibisono, yang merupakan cucu dari Ir. H. Djuanda.

Drama “Sang Surya Di Atas Lautan (Ir. H. Djuanda)” mengisahkan perjalanan hidup Ir. H. Djuanda, seorang kader Muhammadiyah yang berjuang tanpa pamrih dengan penuh idealisme murni.

Djuanda muda memulai perjuangannya di dunia pendidikan Muhammadiyah pada tahun 1934, meskipun dia ditawari posisi menggiurkan sebagai asisten profesor di Technische Hoge School dengan gaji fantastis 275 guilden, yang bahkan siap ditingkatkan menjadi 300 guilden. Namun, Djuanda memilih mengabdikan dirinya di Muhammadiyah sebagai bentuk perjuangan mencerdaskan bangsa.

Ketika Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, Djuanda tetap berjuang membimbing para pemuda Muhammadiyah. Keyakinannya bahwa kekuatan para pemuda dapat digunakan untuk perjuangan kemerdekaan terbukti benar.

Pada tahun 1945, saat Jepang hancur oleh bom atom Amerika, Djuanda memimpin para pemuda Muhammadiyah merebut kendali perkeretaapian di Jakarta. Tindakan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Ir. Soekarno, yang kemudian mengangkatnya sebagai Kepala Jawatan Perkeretaapian Indonesia yang pertama dan Menteri Perhubungan pada tahun 1953.

Perjuangan Djuanda tidak berhenti di situ. Dia terus mengabdi dalam berbagai kabinet pemerintahan, bahkan ketika kabinet silih berganti pada tahun 1951 dan 1952. Pada tahun 1953, Djuanda dipercayakan memimpin dua instansi sekaligus: Kementerian Perhubungan dan Direktur Biro Perancang Negara, cikal bakal Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Salah satu karya monumental Djuanda adalah menyelamatkan wilayah perairan laut Indonesia melalui Deklarasi Djuanda. Dia berhasil mengubah batas wilayah laut Indonesia dari 12 mil menjadi 200 mil yang akhirnya diterima oleh PBB pada tahun 1982. Dengan deklarasi ini, Indonesia menjadi negara dengan wilayah perairan laut yang sangat luas.

Ir. H. Djuanda semasa hidupnya pernah menjabat juga sebagai Pejabat Presiden, Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, Menteri Keuangan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Perhubungan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia yg pertama dan juga Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia ( IMI) yg pertama.

Ir. H. Djuanda wafat pada 7 November 1963 sebagai Menteri Pertama/ Jenderal TNI Tituler yang meninggalkan warisan perjuangan yang dikenang sepanjang masa. Karyanya mengukuhkan Indonesia sebagai negara maritim yang besar, dan sinar matahari yang berkilau di atas laut Indonesia menjadi simbol keabadian perjuangannya.

Drama “Sang Surya Di Atas Lautan (Ir. H. Djuanda)” diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berjuang membangun bangsa dengan semangat yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Ir. H. Djuanda.

“Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan drama inspiratif ini pada tanggal 24 dan 25 November 2024 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat,” tutup Prof Imamudin. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *