oleh

Baksos Ramadan SKIn Tangerang Raya, Berbagi di Ponpes yang Jarang Tersentuh Donatur

TANGERANG – Suasana hangat terasa di Pondok Pesantren Daarul Barkah, Neroktog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Sabtu (14/3/2026). Sejumlah anggota komunitas mobil Suzuki Katana Jimny Indonesia (SKIn) Chapter Tangerang Raya tampak berkumpul bersama para santri dalam kegiatan bakti sosial yang dirangkai dengan buka puasa bersama.

Kegiatan bertajuk “Baksos Ramadhan” ini menjadi agenda tahunan komunitas otomotif tersebut. Selain mempererat silaturahmi antaranggota, kegiatan ini juga menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar.

Ketua SKIn Chapter Tangerang Raya, Tribudi Hardiantono, mengatakan kegiatan sosial tersebut lahir dari usulan para anggota komunitas. “Ini merupakan masukan dari kawan-kawan anggota, termasuk dalam menentukan lokasi kegiatan,” kata Tribudi yang akrab disapa Om Ian.

Menurut Ian, pemilihan Pondok Pesantren Daarul Barkah dilakukan melalui musyawarah anggota. Mereka ingin menyalurkan bantuan ke tempat yang memang jarang mendapat perhatian dari para donatur. “Dari hasil masukan teman-teman, akhirnya kami memilih pondok pesantren yang memang jarang tersentuh para donatur untuk melangsungkan kegiatan bakti sosial ini,” ujarnya.

Komunitas Suzuki Katana Jimny Indonesia Chapter Tangerang Raya sendiri berdiri sejak 2015. Saat ini komunitas tersebut memiliki sekitar 80 anggota yang aktif.

Ian berharap kegiatan sosial seperti ini tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga mampu memperkuat kebersamaan di antara anggota sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. “Harapannya ke depan komunitas ini semakin solid dan bisa terus bergerak dalam kegiatan kemanusiaan serta sosial kemasyarakatan,” katanya.

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Daarul Barkah, Ustaz Ahmad Fakhrurozi, menjelaskan pesantren yang dipimpinnya merupakan lembaga pendidikan nonformal yang fokus pada pengajaran salafi kepada para santri. Pesantren yang berdiri sejak 2009 itu saat ini membina sekitar 30 santri, yang sebagian besar merupakan warga sekitar yang datang untuk mengaji.

“Di sini memang tidak ada pendidikan formal. Santri yang belajar kebanyakan warga sekitar yang datang untuk mengaji. Kalau yang menetap hanya dua orang, tapi kebetulan saat ini sedang pulang kampung,” jelasnya.

Ia juga menuturkan kegiatan belajar di pesantren berlangsung secara sederhana dan tidak memungut biaya dari para santri. “Di sini tidak ada pungutan biaya. Semua berjalan secara sukarela,” tuturnya.

Bagi para anggota komunitas SKIn Tangerang Raya, kegiatan ini bukan sekadar berkumpul atau berbagi bantuan. Lebih dari itu, Ramadhan menjadi momentum untuk menebar kepedulian sekaligus mempererat tali persaudaraan antara komunitas dan masyarakat. (Imam/in)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *