oleh

Mozi yang Tinggal Kenangan, Kudekap Bayi Itu dan Aku Menangis

POSKOTA.CO – Suatu ketika saat saya bertugas di pos Goronggosa kurang lebih 400 km dari Beira province negara Mozambique didatangi dokter franka dari italia ( tenaga mesis UNHCR) untuk mengantar pasiennya ke rumah sakit bersalin di Nyamatanda. Jarak kurang lebih 250 km dari Goronggosa.

Saya ijin kepada Mayor Burhan sebagai komandan pos monitor Goronggosa untuk mengantar pasien dokter Franka. Beliau mengijinkan. Saya mengajak Yoze Matius polisi dari portugal dan antonio warga lokal. Si pasien yg sudah mengerang kesakitan ditemani seorang perawat.

Si pasien ditempatkan di bak belakang yg sudah diberi kasur. Saya berkata dalam hati kalau lahir anak laki laki maka akan saya usulkan diberi nama Moza kalau perempuan Mozi. Nama itu kependekan dari nama operasi UN di Mozambique ( Unomoz : united nation operation in mozambique).

Kami mulai berjalan. Jalan yang harus kami tempuh dari Goronggosa ke Punggue kurang lebih 75 km jalan yg rusak sdh spt sungai kering. Setelah menyeberangai jembatan sungai Punggue 50 km ke arah persimpangan inchope jalan beraspal lumayan baik dan 125 km ke rumah sakit Namatanda. Saya yang mengemudikan kendaraan itu.

Sangat berhati hati mengingat membawa pasien yg hrs operasi untuk melahirkan krn bayinya sungsang. Kira kira kami berjalan 25 km hujan lebat. Saya bertanya akan berhenti atau lanjut terus karena memang tiadak ada tempat berteduh. Dari perawat yg menemani pasien mengatakan lanjut terus. Saya melanjutkan perjalanan dan hujan sangat lebat.

Jalanan sudah tergenang air dan tdk bisa lagi memikih atau berhati hati. Jalan berlibang dibsemua sisi saya pun main tancap saja. Kurang lebih 5 km berjalan dan kondisi masih hujan lebat tiba tiba si perawat nggedor ngedor atap mobil untuk berhenti. Sayapun menghentikan mobil dan turun keluar.

Brigjen Chryshnanda DL saat berpangkat Letnan Satu Berkacamata

Di saat keluar saya sangat terkejut ternyata si pasien melahirkan di tengah jalan, darah ada di mana mana dan sayapun bingung apa yg hrs saya lakukan. Beruntung air hujan dapat membantu membersihkan darah yg sdh berhaaburan ke mana mana.

Si perawat dg gesit melakukan pertolongan dan mengamankan si bayi perempuan yg lahir di jalan. Si pasien nampak sehat tidak lagi mengerang erang kesakitan. Saya bertanya kpd perawat bagaimana kondisi bayi itu. Dijawab : ” bayi yg lahir bayi perempuan dan meninggal”.

Saya merasa berdosa merasa bersalah mengapa saya tdk hati hati. Jangan jangan karena saya tidak mampu memilih jalah sehingga bayi itu lahir di jalan. Saya sangat sedih saya bopong bayi perempuan itu saya peluk saya menangis : ” Mozi maafkan aku”.

Si perawat tahu saya feeling guilty berat. Dia mengajak kembali ke Gorongoza. Saya msh merasa bersalah saya serahkan kemudi kpd Yoze putar balik kembali ke Goronggosa. Sesampai di Goronggosa dengan baju basah kuyup saya antar si pasien ke rumah sakit darurat sambil meminta maaf kpd dr Franka bahwa saya tdk berhasil mengantar si pasien sampai rumah sakit.

Saya terkejut dokter franka malah mengucapkan terimakasih dan memeberi bingkisan kue dan bbrp minuman kaleng. Dokter Franka menceritakan kalau sebenarnya bayi itu sudah meninggal dalam kandungan dalam kondisi sungsang dan hrs dioperasi. Dan sekarang bisa melahirkan tanpa harus operasi.

Walau sedikit lega namun saya tetap merasa bersalah Mozi tidak berumur panjang. Mozi tetap menjadi kenangan sepanjang hidup saya ia bayi lahir di jalan karena jalanan yg berlobang lobang. Entah benar atau tidak ucapan dokter Franka,

Mozi telah tiada dan menjadi sebuah pengalaman kemanusiaan di daerah operasi yg serba kekurangan. Mozi tentu menjadi malaikat, ia masih suci dan Tuhan merangkul dalam pelukanNYA. (cdl) Diceritakan kembali pengalaman panjang ONUMOZ 1994
Jakarta 8 pebruari 2021

 22 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *