oleh

Mereka Menghancurkan Diri Sendiri, Merusak Kepercayaan Istana

POSKOTA.CO – Presiden Joko Widodo pernah memberikan kepercayaan kepada Edhy Prabowo untuk memimpin Kementrian Kelautan dan Perikanan. Tapi yang bersangkutan mencederainya dan merusak kepercayaan itu dengan bagi bagi konsesi impor benur kepada rekan separtai dan korupsi sehingga ditangkap KPK.

Presiden juga memberikan kepercayaan kepada Jualiandri Batubara untuk mengurus Kementrian Sosial dan membagikan bansos kepada rakyat. Tapi diam diam memungut Rp.10 ribu per paket untuk diri sendiri. Hingga ditangkap KPK juga.

Terbaru, Presiden Jokowi mengajak Raffi Ahmad sebagai figur “influencer” yang disuntik di sesi pertama di istana negara. Tapi pada malam harinya hadir di kerumunan dan foto tanpa masker.

Tindakan Raffi Ahmad memang sangat mengecewakan. Dia merusak kepercayaan yang sudah diberikan kepala pemerintahan. Dia dipilih karena punya 50 juta followers di media sosialnya. Diharapkan Raffi Ahmad jadi contoh teladan para followernya. Tapi yang dilakukan adalah sebaliknya.

“Raffi Ahmad mewakili milenial dan anak muda agar semua anak muda siap dan mau divaksin,” ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr. Reisa Brotoasmoro saat memberikan keterangan proses vaksinasi pada Rabu pagi.

Begitu tinggi kedudukan dan kepercayaan yang diberikan kepada Raffi Ahmad sebagai perwakilan anak muda. Dia disuntik pada sesi pertama setelah Presiden Joko Widodo, dr. Daeng M. Faqih (Ketua IDI), Dr. H. Amiesyah Tambunan (Sekjen MUI/Muhammadiyah), Kiai Ishom PP NU, Panglima TNI, Kapolri.

Menyusul sesi kedua, Budi G. Sadikin (Menkes), Prof Dr Unifah Risyidi (PGRI), Ronal Tapilatu (PGI), Agustinus Heri (KWI), I Nyoman Suarthanu (PHDI), Partono Bhikkhu N. M (Permabudhi), dan Peter Lesmana (Matakin). Lalu sesi ketiga ada Penny Kusumastuti Kepala BPOM, Rosan Perkasa (Perewakilan Pengusaha), Ade Zubaedah, Sekjen Ikatan Bidan Indonesia, Nur Fauzah (Perawat), Lusy Noviani (Apoteker), Agustini Setiyorini (Buruh), dan Ibu Narti (Pedagang).

Apa yang terjadi kemudian? Raffi Ahmad merusak kepercayan kepala negara dan lembaga kepresidenan! Kita sama sama tahu bahwa kepada kedua menteri, Jokowi tak melakukan perlindungan dan pembelaan. Keduanya dibiarkan diborgol dan diproses hukum. Ditahan KPK.

Sekiranya kepada Raffi Ahmad juga diperiksa polisi dan diproses hukum, ditindak sesuai aturan protokol kesehatan – saya yakin Jokowi melakukan yang sama. Biarkan saja!

DALAM pada itu, di luar sana, kasus Raffi digoreng sebegitu rupa untuk menyerang Jokowi dan istana. Bahkan merembet ke keadilan dan penerapan hukum yang selama ini dianggap berat sebelah.

Ada juga yang membandingkan dengan kasus Rizieq Shihab. Padahal Riziek Shihab penyelenggara acara sedangkan Raffi Ahmad hanya tamu undangan.

Anyway, busway.. Damage has been done. Kerusakan sudah terjadi. Skandal pesta Raffi dijadikan amunisi untuk menyerang Jokowi lagi.

Sudah ada yang melaporkan ke polisi Polda Metro Jaya dan terregister di PN Depok. Hal yang ingin ditegaskan di sini, seorang presiden bisa saja salah pilih dan keliru memberikan kepercayaan. Namun di sisi lain ada yang dengan sengaja – atau tanpa sengaja – atau sekadar kecentilan – merusak kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Jokowi punya 30 menteri dan baru dua yang tersangkut hukum. Merusak kepercayaan yang diberikan olehnya. Masih ada puluhan menteri yang baik baik saja. Ada juga nama influencer lain yang diundang ke istana dan patuh protokol kesehatan. Tapi ekspose media selalu yang beda. Dan dianggap mewakili semua.

Di gedung DPR RI Senayan, kita sama sama tahu – sejauh ini hanya satu anggota DPR RI yang berteriak anti vaksin. Terang terangan menolak vaksin covid-19 buatan Sinovak. Sedangkan 500an lainnya setuju.

Total anggota DPR RI 2019-2024 terpilih ada 575 orang. Tapi media hanya menyoroti yang satu itu.
Begitulah cara kerja media. Anjing menggigit manusia bukan berita. Manusia menggigit anjing lah berita. Bad news is good news!

Oh ya. Di partai yang memenangi pemilu kini, ada satu anak PKI. Kita sama sama tahu : anak PKI bukanlah PKI – sebagaimana anak TNI bukan TNI dan anak dokter bukan dokter. Dia ada hak politik juga. Tapi satu titik figur itu dianggap mewakili partai. Bahkan presiden terpilih terimbas juga. Dituduh PKI juga.

Lalu si anak PKI itu – yang selama ini mencemari nama partai, lembaga DPR RI dan presiden terpilih – malah menyerang program presiden yang selama ikut dicemari namanya karena kehadirannya di partai dan di DPR RI. Itulah politik. *Dimas Priyanto

 13 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *