oleh

Menembus Sekat antara Berbakat atau Tidak Dalam Melukis

-Komunitas-45 views

POSKOTA.CO – Seringkali bagi orang yang dapat melukis atau menggambar secara realis barulah dikatakan atau diakui berbakat. Pada umumnya memang melihat gambar dari apa yang nampak. Seakan memindahkan fenomena ke dalam kanvas atau kertas. Bagi yang tidak menggambar secara realis tentu akan dihakimi tidak berbakat atau gambarnya tidak disukai.

Para pelukis yang bukan realis biasanya sulit menjualnya karena karyanya kurang diminati. Boleh dikatakan yg memahami hanya sedikit saja. Bahkan diberipun akan ditolak atau dianggap sampah. Pemahaman atas seni tergantung juga dasar pengajaran dan proses pembelajaran seni secara formal.

Adapun secara non formal biasanya diikuti oleh orang orang yg memiliki kecintaan atau kesenangan dalam menggambar. Nashar yg oleh Sudjojono dianggap tidak berbakat namun terus diberi kesempatan untuk mencoba. Bukan hanya sekali namun sampai berkali kali hingga Nashar diberi kesempatan mengikuti kursus menggambar asuhan Sudjojono.

Dalam konteks ini sudjojono sebagai guru paham akan minat lebih penting dari bakat. Yg ideal memang minat sesuai bakat. Nashar sbg orang yg sangat berminat menggambar tatkala diberi kesempatan seperti mendapat angin surga bahkan ia berani melupakan cita citanya menjadi insinyur dan memilih sbg pelukis ( besar). Meenjadi pelukis pada saat itu dianggap kesiaan termasuk ayah Nasharpun menganggap demikian.

Nashar memang gila melukis siang malam yerus melukis banyak lukisannya dibuat pada malam hari. Apa yangbdilukis oleh nashar berbeda dengan orang kebanyakan. Suatu ketika penyair chairil anwar berkata kepada nashar yang mungkin antara memuji dan mengkritik nashar di mana nashar memang rajin melukis bahkan melukis tentang penderitaan namun chairil anwar meragukan pemahaman nashar akan penderitaan itu dan menyarankan agar mau atau berani menyelidiki atas penderitaan itu sendiri.

Kurangblebih demikian yg membuat nashar berpikir keras atau bimbang. Nashar orang yg gigih dan gagah tahan banting dlm hidupnya yg sarat kesulitan hidup membuat kita miris sekaligus bangga dan memberi rasa hormat kepadanya. Ia berani meneliti dan mendalami penderitaan itu dengan mengorbankan dirinya.

Dalam kehidupannya yg serba terbatas ia terus berkesenian, trs melukis, terus membicarakan tentang seni. Ia tidak peduli karyanya akan laku atau tidak ia tak peduli orang lain menyukainya atau tidak. Seniman yg satu ini dg tulus menjalankan spirit melukis dg prinsip : non konsep, nonteknis dan non estetis.

Nashar menyadari bahwa seni bukan penerimaan atau tepuk tangan kepura puraan atau penghargaan ikut ikutan. Berkesenian dalm konteks ini melukis adalah panggilan jiwa. Yang ia jalani dg mengalir tanpa prediksi tanpa pamrih atau mungkin jg berpikir untuk dpt memberi hidup dan menghidupinya. Seniman sejati mungkin ajaib bagi orang kebanyakkan yg sll sarat kekawatiran sarat keiinginan sarat dg ambisi2 keduniawian.

Hidup nashar mungkin scr pemikiran orang kebanyakkan telah nyasar atau kesasar atau keluar konteks yg umum dilakukan banyak orang. Nashar tetap saja meyakini dirinya sbg nashar yg bukan orang lain. Mungkin saja bagi banyak orang aneh nyleneh bahkan nyebel2in tetapi nganenin.

Ada saja sesuatu yang ingin dilihat atau apa yang baru dari nashar. Itulah nashar yang mampu membuat dampak atau pengaruh bagi orangblain. Ia tdk berpura pura atau dia bukan sengaja atau merancangnya namun ia benar2 menjalani panggilan hidup dg segala kinsekuensinya.

Bangsa Indonesia memiliki nashar sang maestro seni rupa dg keindonesiannya. Nashar memang telah tiada namun karya dan perjuangannya abadi. Ia tdk meminta kita mengenang atau mengapresiasinya. Seniman dan berkesenian memang bukan sebuah cita cita. Itu sebuah panggilan jiwa. Seni penjaga kewarasan dan penyeimbang hidup.

Nyentrik bagi Nashar bukanlah gaya ketika hanya tampilan fisik. Nyentrik itu karya dan pemikirannya keberaniannya mjd dirinya sendiri. Apa yg dikatakan nashar 3 non tadi menunjukkan bahwa seni itu jujur tulus panghilan jiwa bukan kepura puraan atau menjadi aliran pasar dan yg serba ikut2an. Tak populer pasti.

Tak menikmati iya demikian sbg resikonya. Menurut Yulianto Liestiono 291020: Model Bienalepun kadang hanya menggunakan nama Nashar sebagai pemanis. Gak pernah ada dana Bienal digunakan untuk Membeli lukisan Nashar dgn harga yg pantas misalnya dan menamerkan karya Nashar sebagai pokok Bahasan. Dalam Bienale spt ini harga lukisan Nashar malah sering memprihatinkan dan menumbuhkan pengertian bahwa lukisan Nasar murah dan kurang / tidak laku.

Menghargai maestro tentu tidak cukup hanya dgn nenampilkan fotonya dalam sebuah acara. namun harus membuat sistem / rekayasa agar karya Nasar menjadi dihargai baik secara pikiran maupun materi dgn harga yg pantas. Namun kita semua patut bangga punya ikon seniman yg ikut mewaraskan dan menyadarkan seni bukan kepura puraan. Dan Nshar mampu membuktikan ia telah berhasil menembus sekat antara bakat atau tidak berbakat.

Sudjojono sendiri mengatakannya tidak berbakan namun berulang kali disuruh mencobanya dan memberi kesempatan kpd nashar untuk belajar menggabar. Nashar tidak salah memilih jalan hidupnya sebagai pelukis. Ia membuktikan dirinya menjadi pelukis besar. (Chryshnanda DL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *