oleh

`Kapan Bicara, Kapan Diam`

RASULULLAH Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan orang yang buruk, jahat, dan berkawan dengan orang yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara atau ngobrol yang buruk. (HR. Al-Hakim).

Dalam hadits yang lain disebutkan, : “Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Athabrani).

Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan sikap penyesalan terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu, kewajiban diam ditetapkan oleh syari’ah, perintah, dan larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat para pemimpin, sebagaimana ungkapan bahwa bicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.

Menyimpan mulut di depan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk menghindari kebohongan, umpatan, dan kekejaman raja.

Dalam hal ini Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Barangsiapa banyak diam maka dia akan selamat. (HR. Ahmad).

Ada kisah dialog antara Luqman dan Dawud, “Luqman masuk menemui Dawud, yang sedang menjahit baju perang. Luqman ingin bertanya kepadanya, namun hikmah mencegahnya, dan dia pun diam. Dawud, setelah selesai mengerjakan jahitannya, mengenakan baju tersebut dan berkata, “Inilah baju perang terbaik!” Lalu Luqman berkata, “Diam itu hikmah, namun sedikit sekali orang yang melakukannya.” Mendengar perkataan itu, Dawud berkata kepada Luqman, “Sungguh tepat aku menamakanmu hakim (orang yang bijaksana).

Juga dalam hadits yang lain disebutkan, : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai banyak ngobrol, omong, mengambur-hamburkan harta dan terlalu banyak bertanya. (HR. Al-Bukhari). Juga Nabi Saw. bersabda, : “Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk, kotor adalah kebengisan tabi’at dan kebengisan tabi’at di neraka. (HR. Al-Bukhari & Attirmidzi).

“Sesungguhnya diam adalah sebuah pintu di antara pintu-pintu hikmah.” “Tidak ada kebaikan bersikap diam (tidak berbicara) dari hukum, sebagaimana tidak ada kebaikan berbicara dengan kebodohan.”

Diam itu ada tiga macam: 1. Diam karena berpikir dan hikmah. 2. Diam dari amar makruf dan nahi munkar, dan juga dari hukum. 3. Diam yang merupakan penyakit kejiwaan, seperti rasa malu yang berlebihan. Diam bentuk pertama adalah diam yang dianjurkan, sedangkan diam bentuk kedua dan ketiga tertolak dalam Islam. Diam bentuk pertama mengarah kepada hikmah dan kebenaran. Diam bentuk ketiga adalah penyakit kejiwaan yang harus disembuhkan.

“Dengan banyak diam tercipta wibawa.” “Jika akal sempurna maka bicara akan sedikit.” (Sahabat). “Jika engkau melihat seorang mukmin diam (tidak banyak berkata) maka dekatilah, karena dia akan melontarkan hikmah.” (Hadits).

Diam karena berpikir dan hikmah berarti mengendalikan kehendak lisan melalui kekuatan akal. Karena, tidak pada semua tempat dan waktu seseorang layak bicara, bagaimana juga tidak pada setiap tempat dan waktu seseorang layak diam. Segala sesuatu mempunyai ukurannya, tidak berlebihan _(ifrath)_ dan tidak juga kekurangan _(tafrith)_ .

Diam hikmah adalah diam berpikir dan menggunakan akal pada hal-hal yang bermanfa’at, bukan asal diam dan asal berpikir. Diam hikmah adalah menyiapkan apa-apa yang hendak dikatakan, dilakukan, atau ditetapkan pada jalan yang benar, bukan pada jalan yang batil.

Diam hikmah menuntut manusia untuk berbicara pada waktu bicara dan diam pada waktu diam. Tidak banyak berceloteh, dan omongan tidak keluar dengan deras dari lidahnya. Karena, terlalu banyak bicara mengakibatkan seseorang banyak jatuh kepada kesalahan. Kepribadiannya menjadi lemah.

“Barangsiapa yang banyak bicaranya maka dia akan tergelincir.” “Jika sedikit bicaranya maka banyak kebenarannya.” “Sesungguhnya sedikit bicara adalah kebaikan bagi yang bersangkutan, dan banyak bicara adalah dibenci. Tidak akan tergelincir orang yang diam, dan tidak ada yang diperoleh orang yang banyak bicara kecuali ketergelinciran.

Jika bicara itu perak, maka diam itu mutiara yang dihiasi yakut.” (Khulafaur Rasidun). Sebuah ungkapan hikmah terkenal berkata tentang diam yang positif, “Jika berbicara adalah perak, maka diam adalah emas.” Semoga kita bisa menggunakan lidah (mulut) kita kapan waktu dan tempat bicara dan kapan waktu untuk diam. Semoga bermanfaat.

Karsidi Diningrat

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Sekjen FORSIMAS (Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Asean) Indonesia.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat 2010 s/d 2019.
5. Penasehat PW Al Washliyah Jawa Barat 2019 s/d 2023.
6. Anggota Pengurus Besar Al Washliyah 2015 s/d 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *