POSKOTA.CO-Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, saat ini demokrasi di Indonesia tengah menghadapi tiga masalah utama. Masalah tersebut adalah soal politik uang, politik identitas, dan politik fitnah.
“Ketiga masalah inilah yang membuat demokrasi kita menjadi tidak sehat dan berkembang dengan baik,” kata AHY pada acara Opening Ceremony ORDIK 2022 Universitas Budi Luhur dan Kuliah Umum di Hadapan Mahasiswa Baru Universitas Budi Luhur dengan teme’ Peran Milenial dalam Bela Negara, Senin (20/09/2022).
Menurut AHY, politik uang menjadikan Indonesia sulit menjaring putra-putri terbaik untuk ikut berkontribusi dalam memajukan bangsa. Pasalnya, putra-putri terbaik bangsa ini menjadi kurang memiliki kesempatan dalam berkiprah di berbagai bidang akibat tersingkir oleh orang-orang yang kurang kompeten namun mampu membeli suara atau pengambil keputusan.

Dampak lebih jauh akan membuat orang-orang hebat menjadi apatis lantaran akan terus tersingkir oleh mereka yang memiliki dan besar untuk bisa meraih apapun yang diinginkan. Akhirnya negara ini akan dijalankan oleh orang-orang yang kurang kompeten.
Selain politik uang demokrasi kita juga tengah menghadapi tantangan berat berupa politik identitas. Sisi negative dari politik identitas membuat negara kesatuan Republik Indonesia yang sudah susah payah dibangun bisa terancam hancur kembali.
“Indonesia ini terdiri atas berbagai suku, bangsa, dan agama. Jika semua tetap dalam kesatuan maka akan melahirkan kekuatan yang luar biasa,” tambah AHY.
Namun sebaliknya jika perbedaan tersebut tidak djaga maka akan menjadi ancaman terjadinya disintegrasi bangsa. Sejak 1908 para pendiri bangsa ini telah menyadari bahwa Indonesia harus bersatu untuk bangkit bersama.
“Kesadaran ini dilanjutkan dengan adanya sumpah pemuda tahun 1928 yang berhasil menyatukan keragaman bangsa,” tambahnya.
Oleh karena itu kesadaran untuk menyatu dalam keberagaman ini jangan lagi dihancurkan dengan menghidupkan politik identitas. Faktanya Indonesia memang terbentuk dari beragam suku, bangsa, dan agaman yang tidak boleh lagi sampai terpecah.
Yang terakhir adalah budaya saling fitnah untuk menjatuhkan lawan politik. Hal ini tentunya juga bisa merusak sendi-sendi demokrasi yang seharusnya mampu melahirkan pemimpin yang jujur dan memiliki jiwa pengabdian yang tinggi.
“Jika demokrasi kita dijalankan dengan tiga hal diatas maka negeri ini hanya akan dijalankan oleh segelintir orang yang hanya mementingkan pribadi dan kelompoknya.”
Selain tiga persoalan utama diatas AHY juga menyoroti soal lemahnya penerapan hukum dijalankan. Selama ini hukum terkesan hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas atau teman-temannya.
Anggaran negara juga lebih banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur namun untuk peningkatan kualitas SDM masih sangat kurang. “Infrstruktur penting. Namun bukan berarti kita melalaikan pembangunan SDM,” ujarnya.
Oleh karena itu dia berharap generasi milernial lebih serius untuk mempelajari persoalan yang dihadapi bangsa. Sebab kedepan merekalah yang akan menentukan nasib bangsa selanjutnya. (*/fs)







Komentar