oleh

Tersangka Kasus Pemalsuan Hasil Swab Covid-19 belum Dilimpahkan ke Kejari Jakut

POSKOTA.CO – Kasus pemalsuan surat hasil Swab Covid -19 atas tersangka Rod hingga kini belum dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Pasalnya, perkara dan tersangkanya masih mendekam di Polres Pelabuhan Tanjung Priok.

Kejari Jakut sendiri masih menunggu pelimpahan berkas perkara tersebut dari polisi. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ema sudah mempersiapkan pasal yang akan menjerat tersangka  yakni Pasal 263 dan 268 KUHP  dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara.

Belum diadilinya tersangka ini, keluarga tersangka, Charlie berharap kasus tersebut segera disidangkan.”Agar dapat kepastian hukum, kami keluarga sangat berharap tersangka segera diadili,” ucapnya sambil menyebutkan sepupunya (tersangka – red) kini masih mendekap di Polres Tanjung Priok.

Perbuatan tersangka berusia 41 tahun asal Pontianak ini terungkap pada Senin, 4 januari 2021 ketika tim Polres Pelabuhan Tanjung Priok (KP3) melakukan patroli cyber dan mendapat informasi di akun Instagram surat dokter yang menyediakan jasa pembuatan jasa kesehatan.

Tim kemudian melakukan penyelidikan. Keesokan harinya, tim yang dipimpin Kasat Reskrim  Polres Pelabuhan Tanjung Priok, AKP David Kanitero melakukan pemesanan surat keterangan sehat rumah sakit dan hasil keterangan Swab PCR dengan harga 250 ribu melalui nomer HP yang tercantum di akun instagram tersebut.

Pembayaran ditransfer ke rekening atas nama Eti Kusuma wati. Polisi mengirim kan onder pembuatan keterangan tersebut kepada tersangka. Lalu tersangka membuat surat tersebut keesokan harinya yakni 6 Januari 2021.

Pada hari itu juga sekitar pukul 14.45 Wib Polisi bergerak menangkap tersangka. Dari lokasi polisi menyita berupa barang bukti antara lain empat lembar surat keterangan PCR palsu yang seolah – olah dikeluarkan RS Primier Jakarta Timur. Selain n itu juga disita laptop, printer, stempel dan 58 bundel blangko kosong surat keterangan sehat.

Kepada polisi tersangka mengaku sudah dua tahun membuat keterangan sehat palsu dari rumah sakit. Rata-rata setiap bulannya membuat 90 surat harga perlembar Rp100 ribu dengan pendapatan kurang  lebih Rp9 juta setiap bulannya.

Polisi kini masih melakukan pengejaran terhadap Eti Kusumawati yang sudah masuk dalam Daftar Pencarian  Orang (DPO) Polres Pelabuhan Tanjung Priok. (Ferry/bw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *