oleh

Rudi Dibui 3,6 Tahun, Tipu Penjualan Masker Kesehatan Rp2 Miliar lebih

POSKOTA. CO – Terbukti menipu rekan bisnis dalam penjualan masker kesehatan senilai Rp2 miliar lebih, Rudi divonis tiga tahun enam bulan penjara oleh Majelis Hakim diketuai Rudi Abbas di Pengadilan Negeri Jakarta Utara,

Putusan ini sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Subhan,SH, yang juga menuntut denda Rp500 juta atau subsidair enam bulan kurungan.

Dalam putusannya yang dibacakan secara virtual, Rabu (9/6/21), Majelis Hakim diketuai Rudi,SH, menyebutkan selain terdakwa yang berusia 28 tahun ini terbukti melanggar Pasal 378 KUHP, terdakwa warga Jalan Mustika Dalam Nomor 3, RT 0012/07 Kelurahan Kedawung Kali Angke, Jakarta Barat ini juga terbukti melanggar Undang Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU).

“Perbuatan terdakwa dilakukan sejak 26 April 2020 di Apartemen Grand Bumi Serpong Damai (BSD),” ucap majelis hakim sambil menyebutkan akibat perbuatan ini merugikan beberapa orang diantaranya Y Tungmoy alias Lena, komisaris dan konsultan PT Liliang Internasional (LI). Selain itu juga Khor Boon Kean alias Matteaw, adik Lena yang menjabat sebagai direktur PT LI.

Awalnya, tambah majelis hakim, pada April 2020 terdakwa yang saat ini mendekam di LP Cipinang bertemu dengan kenalannya yakni Monavera alias Mirna. Dalam pertemuan tersebut terdakwa menyebutkan kalau dirinya sanggup menyediakan Masker Sensi kesehatan dengan jumlah besar.

Atas tawaran itu Mirna tertarik untuk menjualkan masker hasil produksi terdakwa. Mirnapun lalu memperkenalkan Rudi kepada Lena dan adiknya di kantor PT LI di bilangan Jalan Scientia Boulevard, Serpong, Tangerang.

“Pada saat pertemuan tersebut terdakwa mengaku sedang menjalin kontrak kerja dengan PT Arista yakni pabrik Masker Sensi dengan menunjukan adendum yang telah ditandatangani keduanya. Dalam kontrak kerja itu, terdakwa menyebutkan kalau PT Prima Abdi Jaya sebagai pembelinya, sedang PT Arista Lantindo sebagai penjual,” kata ketua.

Tertarik dengan pengakuan ini, Lena lalu memesan sejumlah masker dan sekitar April 2020 mentransfer ke rekening terdakwa beberapa kali hingga nilainya sekitar Rp2.015.000.000 dengan sebelumnya dibuat perjanjian jual beli masker.

“Namun belakangan, terdakwa menggagalkan perjanjian tersebut dengan alasan gagal produksi. Selain itu juga diketahui kalau ternyata kontrak kerja dengan PT Arista Latindo semua merupakan rekayasa, karena dokumen tersebut dbuat terdakwa sendiri. Sementara uang korban dipakai untuk kepentingan pribadinya,” ucap ketua. (ferry/bw)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *