oleh

Prof Dr Lucky Membayar Harga Tanah Sudah Di-mark Up Terdakwa Fikri Salim

POSKOTA.CO-Pengadilan Jakarta (PN) Jakarta Pusat kembali mengadili Junaidi dan Fikri Salim dalam sidang terpisah dipimipin oleh Hakim Tuty Haryati, SH, MH dengan Hakim Anggota Yusuf Pranowo, SH,MH dan Bambang Nurcahyono SH, M.Hum. Keduanya didakwa melakukan pemafakatan jahat dalam kasus mark up harga tanah di Cisarua, Bogor.

Kedua terdakwa juga memasukan data dalam akte otentik, pemalsuan surat dan pengelapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 266 KUHP dan pasal 263 KUHP dan pasal 374 KUHP dan pasal 378 KUHP.

Sidang terdakwa Fikri Salim dengan jaksa Guntur Adi N, SH menghadirkan empat saksi yakni Prof DR Lucky Aziza, Retno selaku Legal PT Jakarta Medika, notaris Arfiana Purbohadi dan karyawan notaris Heryanto pada Senin (7/9). Sidang sidang sempat diwarnai debat sengit antara saksi Prof Dr Lucky Aziza dengan kuasa hukum terdakwa Fikri, Firdaus.

Pengacara itu mencecar Dr Lucky dengan pertanyaan jauh ke belakang saat Dr Lukcy membeli tanah di bagian yang dibeli dari Leonova Marlius yang harganya dimark up oleh Junaidi dan Fikri. Pertanyaan ini membuat Dr Lucky protes karena itu masa lalu di luar konteks masalah yang tengah disidangkan.

Kuasa hukum Fikri bertanya kemudian mengapa tanah yang tadinya Rp 1,1 juta menjadi Rp 23juta, Dr Lucky menjawab, kuasa hukum tidak menyimak apa yang diucapkan saksi. “Saya bukan tidak tahu, tapi dia yang tidak tahu,” kata Lucky kepada Hakim sambil menunjuk kuasa terdakwa.

Sebelumnya jaksa bertanya apakah saksi kenal Junaidi, saksi mengatakan tidak kenal.Tadinya dia tahu Junaidi hanya mandor bangunan. “Saya punya ribuan karyawan jadi tidak mengenalnya satu persatu,” kata Dor Lucky. “Taunya dia kerja untuk Fikri,” sambungnya.

Ketika disinggung soal niatan membeli tanah, Lucky mengatakan tanah yang depan di pinggir jalan juga dia beli sendiri. Tidak pernah beli melalui orang lain. Sementara untuk membeli tanah yang bagian belakang milik Leonova, Dr Lucky tidak pernah memerintahkan Fikri untuk bernegosiasi hanya minta tolong minta nomor telepon dan sertipikat. Tapi Fikri tidak memberikan nomor telepon. Fikri hanya menawarkan harga Rp 1,1 juta permeter.

Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan selama dua tahun terakhir, Dr Lucky mengutus Retno mewakilinya sebaga owner.
Prerikatan jual belinya kemudian dibuat oleh Noteris Arfiana. Dr Lucky tidak melakukan tanda tangan jual beli tersebut, hanya diwakili Retno sebagai owner nanti belakangan baru ditandatangani oleh Dr Lucky sendiri.

Pembayaran dilakukan dari 2018, tetapnya September 2018, yang usulannya datang dari Syamsudin. Dr Lucky tidak mengecek. Dalam hal ini Dr Lucky tidak mengecek hanya menandatangani cek.Belakangan diketahui nama pembawa cek tidak dicoret. “Saya tanya ke Syamsudin mengapa nama pembawa tidak dicoret,Syasudin mengatakan mengatakan nanti tidak cair,” katanya.Nama pembawa cek adalah Junaidi sehingga dia bisa mencairkan cek yang diberikan atas nama Leonova tersebut.

Cek yang tiga kali dikeluarkan tersebut untuk Perikatan yang ada di meja dokter Lucky yang harganya Rp. 2 juta sehingga harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut menjadi Rp. 1.440.000.000,-

Padahal berdasarkan akta pengikatan untuk jual beli yang dibuat oleh notaris Arfiana Purbohadi, S.H. yang belum ada nomor dan yang sudah ditandatangani oleh para pihak penjual dan saksi-saksi, harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut sepakat Rp. 1,1 juta per meter dan harga keseluruhan sebesar Rp. 792.000.000,-

Perikatan yang sudah disulap menjadi Rp 2juta permeter, pembayarannya dilakukan tiga kali, yang
Cek BNI Nomor CE 424659 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp. 500.000.000,- 13 September 2018.

Cek BNI Nomor CG 110122 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp. 440.000.000,- (empat ratus empat puluh juta rupiah) tertanggal 12 Desember 2018.

Cek BNI Nomor CG 313738 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp. 500.000.000,- tertanggal 06 Maret 2019.

Setelah Prof. Lucky (PT. Jakarta Medika) melakukan pembayaran lunas tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua atas nama Lionova Marlius tersebut, kemudian dibuatkan Akta Jual Beli No. 444/2018 tanggal 11 Desember 2018 yang dibuat berhadapan dengan PPAT Arfina Purbohadi, S.H., tetapi sampai dengan saat ini Prof. Lucky (PT. Jakarta Medika) belum menerima sertifikat atas nama Prof. Lucky dan Salinan Akta Jual Belinya, walaupun sudah lunas sejak Maret 2019.

Sementara saksi Retno mengatakan menyerahkan kepada dokter Lucky perikatan yang nilainya Rp 1,1 juta. Begitu jug saksi Arfiana tidak mengetahui adanya perikatan yang Rp 2juta. Dia hanya mengetahui perikatan yang diketik oleh Heryanto yang nilainya Rp 1,1 juga.

Heryanto juga mengaku hanya mengetik perikatan yang Rp 1,1 juta dan tidak pernah diserahkan kepada siapapun. Sebelumnya, terdakwa Junaidi mengaku mengetik ulang akta pengikatan untuk jual beli yang dibuat oleh Notaris Arfiana PurbohadI, S.H.

Apalagi surat itu belum ada nomor, tapi sudah di tandatangani oleh para pihak penjual dan saksi-saksi, harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut sepakat Rp. 1, 1 juta per meter sehingga harga keseluruhan sebesar Rp. 792.000.000. Tetapi draft PUJB tersebut diganti oleh Junaidi atas perintah Fikri Salim, menjadi harga Rp. 2 juta ,-/ meter, total sebesar Rp. 1.440.000.000.

Harga inilah yang dibayar oleh dokter lucky melalui tiga cek tersebut di atas. Cek itu dicairkan Junaidi atas perintah Fikri Salim tanpa sepengetahuan Prof. Lucky (PT. Jakarta Medika), lalu di transfer ke penjual sebagian, ke atas nama anak penjual:

Tanggal 14 September 2018, setor tunai ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama cut Safira Zulva, sebesar Rp 292.000.000. Tanggal 11 Desember 2018, ditransfer ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama cut Safira Zulva, sebesar Rp. 100.000.0003.

Tanggal 11 Januari 2019, setor tunai ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama Cut Safira Zulva, sebesar rp. 417.000.000. Tanggal 14 maret 2019, tunai dengan kwitansi yang ditanda tangan Cut Safira Zulva dan Cut Nadila, sebesar rp. 140.000.000. Total yang ditransfer atas nama penjual bukan Rp. 792.000.000, tetapi Rp. 809.000.000 sehingga terjadi kelebihan bayar Rp. 17.000.000.

Dari penjara di Pondok Rajek, Bogor, terdakwa Junaidi mengaku menyesal melakukan perbuatan tersebut dan berjanji tidakakanmengulangiperbuata, Sidang terdakwa Fikri dan Junaidi akan dilanjutkan Senin (14/9/200) depan. (omi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *