JAKARTA – Tim gabungan TNI AL berhasil membongkar skandal pengiriman 16 ton pasir timah ilegal yang mencoba masuk ke jantung Daerah Khusus Jakarta. Penyelundupan bermodus dokumen ‘bodong’ ini berakhir tragis di sebuah gudang kawasan PIK 2, Tangerang, setelah diburu intelijen selama berhari-hari.
Keberhasilan ini menjadi sinyal keras bagi para mafia penyelundup. Panglima Koarmada RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, Selasa (12/5/2026), menegaskan, pihaknya kini tengah memperketat pengawasan di titik-titik panas (hotspots) seperti Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
Operasi ‘senyap ini bermula pada 4 Mei 2026. Berdasarkan informasi intelijen, dua truk –satu boks putih dan satu bak terbuka kuning– terendus membawa muatan ilegal dari Tanjung Balai Karimun.
Tak mau buruan lepas, tim gabungan dari Satintelmar Pusintelal, BAIS TNI, hingga Kodaeral I, III, dan IV melakukan tracking ketat. Bak film aksi, pengejaran dilakukan lintas provinsi mulai dari Pelabuhan Roro Parit Rampak, menyeberangi Bakauheni-Merak, hingga akhirnya kedua truk digerebek saat memasuki gudang PT SIB di kawasan elit PIK 2 pada 9 Mei 2026.
Saat digeledah, petugas menemukan tumpukan kejanggalan:
- Pemenang lelang misterius: Ditemukan foto kopi risalah lelang dari KPKNL Batam atas nama PT Mineral Anugrah Semesta. Namun, pihak PT Tambang Wancheng Indonesia yang menguasai barang saat penangkapan justru tidak punya dokumen resmi.
- Dokumen asli ‘gaib’: Hingga lima hari pascapenangkapan, dokumen asli lelang dan berita acara serah terima tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
- Logika geografis yang cacat: Pasir timah ini rencananya dikirim ke Jakarta, bukan ke PT Timah di Bangka. Padahal, secara jarak, Bangka jauh lebih dekat dari Karimun. TNI AL mencium aroma busuk dalam rantai distribusi ini.
Menanggapi maraknya modus penyelundupan, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata menyatakan bahwa Selat Malaka dan Laut Cina Selatan tetap menjadi jalur paling rawan. ”Indonesia ini negara kepulauan dengan banyak selat. Modusnya beragam, mulai dari barang tambang sampai narkoba. Kami perkuat pusat komando dan akan memperbanyak kapal-kapal kecil yang lincah untuk patroli,” tegas Denih, dalam jumpa pers di Markas Koarmada RI, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026), sebagaimana dikutip media ini.
Saat ini, 16 ton pasir timah senilai ratusan juta rupiah tersebut telah diamankan di Markas Kodaeral III. Karena menyangkut komoditas mineral, kasus ini akan diserahkan kepada penyidik PPNS ESDM untuk proses hukum lebih lanjut. TNI AL berjanji tidak akan kendor. Operasi ini bukan sekadar tangkap-menangkap, tapi soal menjaga kekayaan alam agar tidak dipreteli oleh oknum yang hanya mementingkan perut sendiri. (*/aga)







Komentar