oleh

Palsukan Akta Nikah untuk Dapatkan Harta Gono-gini, Mantan ‘Istri’ Diajukan ke Pengadilan

POSKOTA.CO – Ulah Bong Eniwati ini membuat jengkel Roswin Praja. Bagaimana tidak. Ketika ‘hidup bersama’ sejak tahun 2001, wanita berusia 45 tahun itu telah membuat akte pernikahan palsu yang bertujuan untuk mendapatkan harta gono gini berupa rumah di bilangan Kelapa Gading.

Akibatnya Roswin melaporkannya ke polisi dan kini sang ‘isterinya’ itu jadi pesakitan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Di hadapan Majelis Hakim diketuai Agung Purbantoro dan Hakim Anggota Fahzal Hendri dan Tugianto, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mustopa menuduh terdakwa dengan sengaja memakai akta seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran dan akibatnya menimbulkan kerugian bagi pelapor.

“Atas perbuatan ini terdakwa telah melanggar Pasal 266 Ayat (2) KUHP dan Pasal 263 ayat (2) KUHP,” tuduh jaksa, Kamis (25/11/2020) sambil menyebutkan perbuatan itu dilakukan terdakwa pada Senin, 21 Oktober 2013.

Jaksa menyebutkan perbuatan terdakwa ini berawal pada 1999. Ketika itu terdakwa yang masih berusia 25  tahun bekerja sebagai  karyawan di toko elektronik,  Harco Mangga Dua, milik Roswin Praja. Rupanya saat itu timbul rasa saling suka dan akhinya sejak 2001 keduanya tinggal dalam satu rumah tanpa ada tali perikatan perkawinan.

“Namun demikian mereka telah melaksanakan tradisi Tionghoa “TEH PAY”,  yakni jamuan teh di salah satu restoran di wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara,” ucap jaksa.

Ketika mereka mulai tinggal satu rumah, pada Oktober 2011 keduanya membuat surat perjanjian yang isinya sang ‘suami’ meminjam nama terdakwa untuk membeli Apartemen Grand Emerald Gading Nias dan satu rumah di Perumahan Gading Arcadia Blok 0 No.124, Pegangsaan Dua, Jakut  yang kini ditempati terdakwa. Namun dalam perjanjian itu hanya dicantumkan pembelian Apartemen Grand Emerald Gading Nias saja.

Belakangan terdakwa membuat akte perkawinan tanpa sepengetahuan Roswin untuk mengurus dan mendaftarkan  pernikahan antara mereka dengan menyerahkan dokumen sebagai kelengkapan pembuatan akte perkawinan diantaranya surat baptis. Sementara pembaptisan itu sendiri tidak pernah ada.

Selain itu, tambah jaksa, juga dua lembar kutipan Akta Perkawinan No.458/K/2001 tanggal 29 Agustus 2001, ditanda-tangani oleh Drs.H. Kodrato, Kepala Dinas Kota Bekasi yang mencatatkan pernikahan mereka di kantor Dinas Kependudukan Kota Bekasi.

“Hal ini dibuat, seolah antara mereka berdua telah dilaksanakan pemberkatan nikah yang dilangsungkan pada tanggal  29 Agustus 2001 di Gereja Anugerah  Injil Sepenuh Gideon, Jakarta,” kata jaksa.

Namun dalam perjalannya, hubungan mereka tidak harmonis sehingga pada 21 Oktober 2013,  terdakwa mengajukan gugatan perceraian dan menuntut harta gono gini di Pengadilan Negeri Jakut. Sang ‘suami’ melihat keabsahan dokumen yang didapat dalam gugatan cerai tersebut ternyata palsu.

Akibat perbuatan terdakwa, Roswin  mengalami kerugian berupa rumah miliknya di Gading Arcadia  Blok O Nomor 12 A, Pegangsaan Dua, karena sertifikat atas nama terdakwa dibuat dengan menggunakan dasar Akta Perkawinan nomor 458/K/ tanggal 29 Agustus 2001 yang keabsahan diperoleh secara melanggar hukum.

Menurut jaksa sejak perkaranya dilimpahkan penyidik ke kejaksaan, terdakwa ditahan di Rutan Pondok Bambu. Namun setelah beberapa kali diperpanjang masa tahananya, ada surat dari RS Pengayoman, Cipinang yang menyatakan tedakwa  tertular Covid-19 dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran.

“Namun dari hasil pemeriksaan, ternyata tedakwa tidak terpapar Covid-19 sehingga masa penahanannya di rutan berakhir.  Itu semua hanya akal-akalan saja, ” kata jaksa. (Ferry/BW))

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *