oleh

Mantan Hakim Agung Jadi Saksi Ahli Perkara Bisnis Alat Berat

POSKOTA.CO – Sidang gugatan Wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terkait dengan perkara bisnis alat berat (Excavator) senilai Rp 1,2 miliar lebih antara Arwan Koty, sebagai pembeli dengan PT Indotruck Utama (IU), penjual, menghadirkan saksi ahli.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, kuasa hukum pembeli selaku penggugat mengajukan saksi ahli Prof. Aca Sondjaya. Pada intinya mantan hakim agung ini menyebutkan gugatan tersebut tidak termasuk asas ne bis in idem yakni seseorang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang telah mendapat putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.

“Artinya terhadap perkara yang sama tidak dapat diperkarakan dua kali. Yakni, suatu perkara yang telah diputus oleh pengadilan dan berkekuatan hukum tetap, maka terhadap perkara tersebut tidak dapat lagi diajukan kembali ke pengadilan,” ucapnya.

Menurutnya gugatan ini tetap bisa disidangkan karena berbeda dengan hukum kepailitan yang pernah diajukan sebelumnya. Gugatan Wanprestasi dan PMH tersebut merupakan perbuatan melanggar hukum yang diatur dalam pasal 1365 KUH Pedata yang berbunyi setiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian tersebut.

Memang, sebelumnya Arwan Koty juga telah menggugat pailit PT IU di Pengadilan Niaga, Jakarta Pusat, namun kandas. Karena putusan ini dirasakan tidak memenuhi keadilan, pihaknya lalu mengajukan gugatan PMH ke PN Jakut dengan Majelis Hakim diketuai Tumpanuli Marbun, SH, MH, sedang gugatan Wanprestasi oleh Majelis Hakim diketuai Fahzal Hendri, SH, MH. Dan rencananya gugatan PMH akan diputus pada 2 November 2020 mendatang.

Atas gugatan tersebut Arwan Koty, warga Kecamatan Gambir ini berharap majelis hakim dapat memberi putusan yang seadil-adilnya. Sebelumnya ia juga dijadikan tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri atas laporan PT IU atas tuduhan Pasal 220 KUHP yakni tentang laporan palsu.  Bahkan ketika mengajukan permohonan praperadilan yang pada akhirnya permohonan itu kandas, Koty pun lalu menggugat PT IU ke PN Jakut karena ingkar janji.

Kasus perseteruan ini berawal sekitar tahun 2017 ketika Arwan Koty membeli satu unit Excavator Volvo EC 210D seharga Rp 1, 265. miliar dari PT IU untuk mengembangkan usaha tambang di Nabire, Papua dan sudah dibayar lunas. Tapi alat berat itu belum juga diserah-terimakan. Koty  lalu minta pengembalian semua uang pembelian, tapi tidak diindahkan. (Fery/BW)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *