oleh

Enam Tahun Berkarya, Jamsyar Fasilitasi Pinjaman Modal Usaha bagi Jutaan Pelaku UMKM

POSKOTA.CO – Cobalah menengok Pasar Tradisional Demangan, Yogyakarta. Pasar yang dulu menjadi area empuk para rentenir untuk menjajakan pinjaman dengan bunga mencekik ke pedagang kecil, kini tak lagi. Kalau pun ada rentenir yang masih hilir mudik mencari mangsa,  jumlahnya bisa di hitung jari, amat sedikit. Mereka kalah dengan gerak bank-bank syariah yang telah mewadahi kebutuhan para pedagang kecil untuk mengakses permodalan.

Bank syariah dengan aneka bendera, menerjunkan marketingnya langsung ke pasar-pasar. Mereka menyambangi pedagang untuk menawarkan pinjaman modal tanpa perlu dipusingkan dengan agunan dan tanpa bunga mencekik. Jaminan mereka cukup foto kopi KTP, dan selembar kertas perjanjian bagi hasil yang dibubuhi tanda tangan bermaterai.

Lalu, dana yang dibutuhkan pun cair esok harinya. Tak berbelit, tak perlu birokrasi rumit. Semua dilakukan dengan perjanjian bagi hasil yang sangat adil sesuai hukum Islam. Mereka juga memiliki alternative mencicil pinjaman setiap hari sehingga tidak memberatkan. Pinjaman diberikan dengan nilai utuh, tidak perlu dipotong biaya administrasi atau angsuran pertama.

Wagiyem salah satunya. Pedagang sayuran di Kios B Pasar Tradisional Demangan  tersebut sudah dua tahun terakhir ini menjadi debitur bank syariah untuk urusan modal berdagang. Nilai yang dipinjam tidak banyak, sekitar 2 sampai 4 juta rupiah untuk 100 hari efektif kerja. Dengan nilai pinjaman sebesar itu, ia bisa leluasa menjalankan bisnisnya.

“Namanya dagang kecil-kecil begini, kadang modal kepakai buat kebutuhan anak sekolah atau kebutuhan lain,” jelas Wagiyem.

Sebelum kenal bank syariah, ia mengaku pernah meminjam ke rentenir. Selain uang yang diterima tidak utuh karena ada potongan cicilan di awal pinjaman, bunga yang dikenakan juga mencekik leher, karena sistemnya bunga-berbunga.

“Pokoknya kalau pinjam ke rentenir nggak kelar-kelar urusannya. Pas saya dapat pinjaman dari bank syariah, saya langsung tutup. Terus saya jadi langganan bank syariah,” jelasnya.

Hal yang sama juga dilakukan Nur, pedagang sate di pasar yang sama. Awalnya ia tidak bisa pinjam modal ke bank karena terbentur agunan. Sebagai pedagang kaki lima, jangankan agunan, untuk membayar iuran lapak saja harus banting tulang mengumpulkan sedikit demi sedikit.

“Makanya waktu ditawari pinjaman modal cuma pakai foto kopi KTP dan izin berdagang, saya langsung setuju. Apalagi syaratnya nggak berat, nggak perlu jadi nasabah bank dulu,” jelas Nur.

Wagiyem dan Nur adalah contoh bagaimana pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sangat terbantu dengan pinjaman modal dari bank syariah. Mereka yang masuk kategori unbankable, selama ini nyaris tak bisa mengakses pinjaman modal dari bank atau lembaga keuangan lainnya karena terbentur tidak dimilikinya agunan.

Kemudahan pelaku UMKM mendapatkan modal usaha tersebut tidak lepas dari ‘pemain dibalik layar’. Mereka adalah perusahaan penjaminan yang memberikan garansi kepada bank syariah untuk mengakomodasi kebutuhan permodalan bagi pelaku UMKM. Salah satunya PT Penjaminan Jamkrindo Syariah atau Jamsyar. Perusahaan penjaminan berbasis syariah ini menjadi solusi yang dinanti pelaku UMKM untuk mengatasi persoalan ketiadaan agunan saat meminjam modal usaha di bank atau lembaga keuangan lainnya berbasis syariah.

Direktur Utama PT Penjaminan Jamkrindo Syariah (JamSyar) Gatot Suprabowo

Direktur Utama PT Penjaminan Jamkrindo Syariah (Jamsyar)  Gatot Suprabowo membenarkan bahwa dari sekian banyak produk penjaminan yang dikeluarkan Jamsyar, mayoritas debiturnya adalah pelaku usaha yang belum bankable dengan alasan tidak memiliki agunan atau jaminan. Padahal mereka sangat  membutuhkan pinjaman modal usaha.

“Kami bekerjasama dengan bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya dalam memberikan akses pelaku UMKM yang belum bankable mendapatkan fasilitas pembiayaan. Dukungan kami berupa penjaminan atas pinjaman debitur bank syariah mitra kerja kami,” kata Gatot.

Hingga saat ini JamSyar telah bekerjasama dengan 55 mitra kerja yang terdiri dari Bank Syariah, Unit Usaha Perbankan Syariah, Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), Koperasi Syariah, Perusahaan Pembiayaan Syariah, Asuransi Syariah, dan lembaga lainnya. Adapun jaringan layanan Jamsyar saat ini berjumlah 14 kantor yaitu 8 Kantor Cabang dan 6 Kantor Unit Pelayanan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia yang melayani seluruh wilayah Indonesia.

Jumlah terjamin yang dijamin Jamsyar sejak 2015 hingga 2019 tercatat sebanyak 1,38 juta terjamin. Di mana sebagian besar terjamin merupakan pelaku UMKM dari berbagai wilayah di Indonesia.

Lahirnya Jamsyar

Diriwayatkan bahwa sesungguhnya telah dibawa ke hadapan Nabi Saw jenazah seseorang, mereka berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, shalatkanlah mayat ini. Beliau bertanya, “Adakah dia meninggalkan harta?”. Mereka menjawab, “Tidak”. “Apakah ia ada meninggalkan hutang?”. Jawab mereka, “Ada, hutangnya 3 dinar”. Beliau berkata, “Shalatkanlah teman kalian itu”. Abu Qatadah berkata, “Shalatlah atasnya ya Rasulullah, sayalah yang menanggung utangnya”. Kemudian Nabi Saw menyalatinya”. (HR. Bukhari, An-Nasa’i & Ahmad)

“Itu adalah salah satu hadist shahih yang mendasari lahirnya JamSyar pada 19 September 2014 lalu. Bahwa sejak zaman Rosulullah, sejatinya kegiatan penjaminan sudah ada,” tutur Gatot.

Jamsyar hadir sebagai solusi bagi umat Islam yang membutuhkan pinjaman dengan jaminan pihak lain berbasis syariah. Penjaminan ini bisa digunakan untuk berbagai kegiatan sesuai dengan tujuan atau keinginan masyarakat.

Untuk memberikan pilihan, Jamsyar lanjut Gatot memiliki beberapa produk penjaminan. Yakni produk penjaminan syariah yaitu kontra bank garansi, surety bond, customs bond, kafalah pembiayaan invoice, kafalah pembiayaan umum, kafalah pembiayaan mikro, kafalah pembiayaan kontruksi dan pengadaan barang/jasa, kafalah pembiayaan pemilikan rumah, kafalah KPR sejahtera FLPP, kafalah distribusi barang, kafalah KUR iB, dan kafalah pembiayaan multiguna.

Diakui Gatot, dalam operasionalnya, lembaga keuangan syariah merupakan mitra strategis JamSyar. Lembaga Keuangan syariah inilah yang menjalankan usahanya dalam menyalurkan pembiayaan kepada nasabahnya. Perjanjian penjaminan syariah adalah suatu pengaman yang efektif bagi Lembaga Keuangan Syariah (LKS) untuk menjaga kualitas pembiayaannya.

“JamSyar sebagai institusi penjaminan pembiayaan syariah menjadi pihak yang menawarkan penjaminan syariah yang disesuaikan dengan produk-produk LKS,” lanjut Gatot.

Mekanisme perjanjian penjaminan syariah kata Gatot melibatkan tiga pihak yaitu penjamin, penerima jaminan dan terjamin. Namun keterlibatan para pihak mengalami modifikasi dengan terjamin tidak mengetahuai bahwa pembiayaannya dijaminkan. Hal ini bertujuan untuk menekan moral hazard terjamin. Moral hazard dalam penjaminan syariah merupakan perilaku tidak baik terjamin untuk tidak memenuhi kewajibannya finasialnya sehingga menimbulkan kemudharatan bagi penjamin dan penerima jaminan.

Terus Tumbuh

Jamsyar tumbuh seiring dengan meningkatnya pertumbuhan kegiatan ekonomi syariah di Indonesia, khususnya pembiayaan syariah. Anak usaha dari Perum Jamkrindo ini menjadi salah satu pendukung dalam peningkatan aktivitas ekonomi, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang pada gilirannya memperkuat ekonomi nasional.

Dalam bekerjanya, Jamsyar diakui Gatot memiliki skema yang unik, bersifat inklusif, adil, transparan, punya tingkat kepercayaan dan kepastian tinggi. Inilah yang mendorong mitra kerja Jamsyar semakin loyal dan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Bagi Gatot, loyalitas mitra kerja menjadi kunci penting pergerakan bisnis JamSyar dari tahun ke tahun. Di samping tentu loyalitas para karyawan dan mitra kerja lainnya. Karena loyalitas mitra kerjanya tersebut, enam tahun beroperasi, JamSyar terus tumbuh menjadi perusahaan penjaminan berbasis syariah yang sangat diperhitungkan.

Dalam kegiatan temu media pertengahan September 2020 lalu, Gatot melaporkan kinerja JamSyar dalam enam tahun berkarya. Rata-rata pertumbuhan aset dan ekuitas Jamsyar dari tahun 2015 hingga 2019 adalah sebesar 39,06% dan 23,66% per tahun. Sedangkan rata-rata pertumbuhan volume penjaminan adalah 64,76% per tahun. Dari penjaminan tersebut, jumlah terjamin yang dijamin adalah sebanyak 1,38 juta terjamin.

Selama periode tersebut, total laba yang dibukukan oleh Jamsyar adalah sebesar Rp83,86 miliar dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 57,27%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Jamsyar sejak tahun pendirian hingga tahun 2017, berada dalam kondisi Sehat, bahkan pada 2 tahun terakhir berkondisi Sangat Sehat.

“Pertumbuhan bisnis yang sangat cepat tersebut, tetap dilakukan oleh Jamsyar dengan mempertimbangkan aspek kehati-hatian,” lanjutnya.

Selama tahun 2019 dan 2020, Jamsyar berhasil mendapatkan 12 penghargaan di bidang Marketing, Finance, Good Corporate Governance (GCG), Risk Management & Compliance, Human Capital Management, Corporate Communication, dan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Economic Review. Di tahun yang sama, JamSyar mendapat penghargaan dalam acara Revolusi Mental Award 2019 dan Brand Strategy Terbaik Corporate Branding Anak Perusahaan BUMN yang diselenggarakan oleh BUMN Track.

Selain itu Jamsyar juga mendapat penghargaan dengan predikat prestisius sebagai Institusi Keuangan Syariah versi Infobank 2019 dengan rating “Sangat Bagus”.

Selain berbagai pencapaian bisnis, pada usia yang ke-6, JamSyar telah memiliki gedung sendiri di Jalan Letjen Soeprapto Jakarta Pusat. Gedung baru yang kini sedang direnovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan brand image Jamsyar.

Masa sulit pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir 7 bulan menjadi medan yang cukup sulit untuk perjalanan bisnis hampir semua industri termasuk industri penjaminan. Meski demikian, dengan kerja keras dan doa, Jamsyar mampu survive dan eksis di tengah pendemi COVID-19. Ini dibuktikan dengan pertumbuhan asset dan ekuitas yang cukup signifikan.

Pada posisi per 31 Agustus 2020, total aset Jamsyar adalah sebesar Rp1,252 triliun atau tumbuh secara YoY sebesar 18,22%. Sedangkan ekuitas Jamsyar di posisi yang sama adalah sebesar Rp658,43 miliar atau tumbuh secara YoY sebesar 18,06%.

Dari sisi bisnis, pada posisi yang sama, volume penjaminan Jamsyar adalah sebesar Rp20,86 triliun atau tumbuh sebesar 15,57% dari posisi yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan laba yang diperoleh selama bulan Januari hingga 31 Agustus 2020, adalah sebesar Rp20,87 miliar menurun sedikit dibanding periode yang sama tahun 2019 yakni sebesar Rp23 miliar.

Gatot mengakui pendapatan yang berhasil dibukukan selama tahun 2020 ini dibanding posisi yang sama 2019 masih tumbuh. Pada Agustus 2020 Jamsyar memperoleh pendapatan penjaminan Rp159 miliar , naik 8 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019 yang hanya memperoleh Rp146 miliar.

“Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi pandemi, kita masih bisa tumbuh meski beban penjaminan juga tumbuh luar biasa, seiring beban yang meningkat di tengah pandemi,” tukas Gatot.

Hal ini patut disyukuri, meskipun perekonomian Indonesia masih mengalami kontraksi sebesar -5,32 % YoY, pertumbuhan bisnis Jamsyar masih meningkat dengan nilai yang cukup besar.

“Kami optimis tetap membukukan laba pada pada tahun 2020 meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tutur Gatot.

Atas kinerja bisnisnya yang positif tersebut, JamSyar dipercaya menjadi salah satu perusahaan yang mendukung Program Penjaminan Pembiayaan Modal Kerja Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Penjaminan pembiayaan Jamsyar telah diberikan kepada 129.084 terjamin pada 10 bank syariah penyalur pembiayaan PEN dengan nilai pembiayaan rata-rata Rp4,5 juta.

“Sejak 27 Juli 2020 hingga hari ini, Jamsyar telah bekerja sama dengan 10 bank penyalur dan telah menjamin 129.084 UMKM dengan volume penjaminan pada program PEN sebesar Rp 591,39 miliar,” kata Gatot.

Adapun 10 bank syariah penyalur pembiayaan PEN di antaranya BRI Syariah, Mandiri Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah, Bank Jatim Syariah, BTPN Syariah, Maybank Syariah, Bank Jateng Syariah, Bank NTB Syariah, dan Bank Aceh Syariah. Bank-bank tersebut memiliki sejumlah keuntungan dengan dijaminkannya pembiayaan modal kerja oleh JamSyar. Seperti bank bisa mengoptimalkan CAR, karena ATMR yang dijamin dihitung hanya 20%. (faisal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *