oleh

Berbagi Pengalaman, 2 Alumni IPB Sukses Bisnis Mutiara dan Pakan Hewan

POSKOTA. CO – Dua alumni IPB yang sukses lewat bisnis yang ditekuni dibidang masing-masing berbagi pengalaman. Bagi Maulana Ishak dan Suaedi Sunanto, kunci kesuksesan sebuah usaha tergantung dari keberanian dan keuletan serta keseriusan.

Maulana Ishak, alumni IPB angkatan 43 lulusan Perikanan dan Kelautan yang kini menekuni bisnis mutiara bercerita, ketertarikan dirinya dengan bisnis ini berawal saat bencana melanda wilayah Lombok.

Saat dirinya bersama tim turun ke lokasi bencana tahun 2018 lalu guna proses tanggap bencana dan penyaluran bantuan kemanusiaan, ia melihat mutiara yang sangat bagus.

“Awalnya saya disana untuk tanggap bencana. Saat diwilayah Lombok Barat, saya melihat mutiara bagus tapi tidak dikelola. Karena timbul niat bisnis, saya lalu beli semua mutiara itu. Saya mencoba jual secara online dalam bentuk organik. Ternyata laris. Dari sinilah, saya lalu kembangkan,”kata Maulana Kamis (14/10/2021) dalam perjumpaan dengan wartawan secara online.

Bisnis mutiara oleh Maulana dikelola secara profesional mulai tahun 2019 dengan mendirikan PT Nusantara Mutiara Jaya.

“Saya ingin jadi pengusaha mutiara terdepan di Indonesia. Bahkan di dunia. Semua jenis mutiara saya beli. Dari beragam bentuk mutiara yang asli, saya dan tim membentuk jadi sebuah produk bernilai ekonomi tinggi tanpa menghilangkan bentuk asli mutiara,” kata Maulana.

Berkembangnya bisnis mutiara ini diakui mantan karyawan PT Gudang Garam ini, tak lepas dari kerjasama pihaknya dengan sepuluh petani budidaya mutiara dan tim kreator serta para riseller yang berada di sejumlah wilayah.

“Kami ada galeri di beberapa daerah. Di Manokwari juga kami ada galeri. Sampai saat ini sudah 10 ribu riseller. Kami jual produk mutiara secara online dan ofline. Harga produk kami di pasaran, sudah di atas Rp50 juta. Jujur saya belajar ilmu marketing, saat bekerja di Gudang Garam,”ujarnya.

Dari bisnis mutiara yang memberinya penghasilan lebih, selain membantu adiknya yang masih kuliah, juga berdiri sebuah yayasan. Yayasan yang berdiri tahun 2020 ini, kini menjadi donatur tetap dompet dhuafa. Aksi sosial lain, pihaknya juga berkecimpung di kelestarian alam dengan menanam pohon.

“Kami sehari bisa ciptakan 5 model. Sebulan kami bisa hasilkan 10 pis. Walau tahun 2021 agak turun karena pandemi, saya yakin bisnis mutiara  masih punya prospek. Agar tak tertipu, mutiara asli dan palsu mudah kita bedakan. Bakar saja dan setelahnya di lap. Asli kembali mengkilat. Kalau palsu akan meleleh atau berubah warna menjadi hitam,” kata Maulana.

Maulana Ishak. (yopi)

Pakan Hewan

Sementara Suaedi Sunanto, alumni IPB angkatan 28 yang kini menekuni bisnis pakan hewan peliharaan menuturkan, regulasi Indonesia sangat kurang baik bagi bidang usaha ini.

Suaedi pernah bekerja dibidang farmasi, sebelum menekuni bisnis ini sejak tahun 2015 lalu ini menegaskan, melalui PT Nutricell Pasific, kini dirinya bisa merambah ke Singapura dan Vietnam. Bahkan keuletan dan keseriusannya, kini ia sudah bisa menembus pasar Amerika Serikat.

“Kesuksesan adalah milik bagi siapapun yang bekerja keras dan menemukan kesempatan di balik masalah,” kata alumni IPB University dalam membangun bisnis  hingga di  puncak kesuksesan sekarang.

Suaedi Sunarto Ceo PT. Nutricel Pacifiic berhasil mengembangkan pakan hewan kesayangan melalui jejaring (pet shop) di seluruh Indonesia hinga memiliki brand ternama pakan hewan peliharaan yang cukup terkenal dan go Internasional.

Jenis hewan kesayangan yang paling polpuler di Indonesia seperti kucing, anjing, burung dan ikan tentunya berbeda dengan hewan ternak daging telur atau lainnya  yang nilai tambahnya berakhir setelah memasuki usia tertentu.

Di luar pakan , hewan kesayangan memiliki peluang dan komponen bisnis  yang tidak kalah hebat sepetrti obat obatan, kesehatan serta jasa perawatan.

“Ada perputaran uang 2 trilyun rupiah. Ironinya, ada 91,2 persen market sizenya ternyata import,”ujarnya.

Salah satu negara yang berkembang pesat dalam industri pakan hewan kesayangan yakni Thailand.

Negara gajah putih ini sangat focus menggarap potensi pasar pada sector hewan kesayangan. Tak heran, Thailand kini menempati posisi kedua kedua setelah Amerika dalam hal pakan hewan peliharaan.

“Thailand penyuplai makanan hewan peliharaan nomor dua ke Indonesia dalam 3 tahun terakhir. Pesat mereka. Hal ini seiring naiknya hewan peliharaan yang masuk ke Indonesia sebesar 30 persen sejak pandemi.  Karena hewan kesayangan yang datang dari luar negeri, harganya bisa mencapai Rp60 juta, maka tentu pakannya juga harus bermutu,” kata Suaedi. (yopi/bw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *