MEDAN – Tampilannya sederhana, bicaranya kadang ketus, serius dan sesekali guyon atau bercanda, membuat para pasiennya lebih baik mendengar daripada berkeluh-kesah.
“Pasien yang datang kemari banyakan orang kita Batak, makanya saya pun terpaksa belajar bahasa Batak, atcit nai.. (artinya sakit kali),” kata Ong Sinshe, ketika sedang memegang pasiennya yang berteriak sakit bermarga Sihombing sakit pergelangan tangan susah digerakkan melingkar, Selasa (19/3/2024).
Untuk menangani pasien berobat ada 5-6 murid membantunya, namun semua penanganan tetap dalam pengawasan dan kendalinya. Jadi tidak heran jika muridnya salah menangani, dia pun langsung merespons dengan cepat. “Kalian itu bukan tukang urut, titik-titiknya saja pegang, jangan diurut,” tegur Ong Sinshe, sambil memberikan petunjuk kepada muridnya.
Dari pantauan POSKOTAONLINE.COM di tempat kliniknya, banyak ditemukan alat fisioterapi. Beragam alat digunakan untuk pemulihan saraf kejepit, stroke dan patah tulang. Dalam penanganan pasien yang sakit Suhu Ong Sinshe tidak memberikan obat apalagi meminta imbalan uang, semua tanpa pamrih. “Itu pesan dari bapak saya, bantulah orang yang susah dan jangan pernah berhenti berbuat kebaikan, itu bagian perpanjangan tangan Tuhan,” terangnya.
Ong Sinshe mulai belajar terapi di usia tujuh tahun langsung dari sang bapak. Pada usia 18 tahun, sang bapak langsung melepasnya untuk langsung praktek menolong orang sakit, apalagi yang tidak mampu.
Banyak pasien yang datang dari luar Medan dengan beragam penyakit, dari susah berjalan sampai tidak bisa berjalan sama sekali, Ong Sinshe pun menyediakan tempat untuk penginapan. “Kalau pasien dari luar Medan, penyakitnya berat dalam artian tidak cukup sekali penanganan, maka kita berikan tempat penginapan, agar lebih mudah mengontrol dan melihat perkembangan si pasien. Kalau pasien kondisi staminanya melemah kita tidak bisa paksakan untuk menangani,” ungkap Ong Sinshe.
Di usia 60-an tahun, Ong Sinshe masih terlihat gesit menangani setiap pasien yang datang ke kliniknya. Ada yang sekali penanganan sembuh dengan hitungan jam, ada pula yang dua atau tiga kali harus kembali ke klinik untuk ditangani, terkhusus untuk penanganan penyakit stroke harus berulang. “Waktu di usia muda artian di bawah 51 tahun, saya masih sering dipanggil keluar Medan seperti Jakarta-Surabaya. Di usia tua ini, saya fokus di klinik ini ajalah, di sini alatnya sudah lengkap dan setiap harinya ada 20 an pasien yang datang, rata-rata pasien yang sudah akut,” sambungnya.
Pada dinding klinik Suhu Ong Sinshe praktek terlihat ada beberapa tulisan pesan moral di antaranya, “Saat kita menanam padi rumput liar pun ikut tumbuh, saat kita berbuat kebaikan kadang muncul hal yang buruk. Jangan pernah lelah untuk selalu berbuat kebaikan. (1000 – 1 = 0 ) Hanya Tuhanlah yang menilainya.
Klinik Fisioterapi Suhu Ong Sinse sudah enam kali berpindah tempat di wilayah Medan dari mulai di Jalan Masjid, S Parman, Deli Tua, Brigjen Katamso dan terakhir saat ini di Jalan Karya Ujung Gang Sehati di Kota Medan. Praktek buka Senin-Jumat, dari pagi hingga pukul 16.00 WIB. (*/ferry)







Komentar