oleh

Penasehat MUI Poso : Stigma Negatif di Poso Harus Dihilangkan

POSKOTA.CO – Stigma negatif Poso sebagai daerah konflik nan berbahaya terlanjur melekat di benak masyarakat, khususnya warga dari daerah lain, padahal saat ini, Poso sudah berubah menjadi daerah ramah nan asri, konflik sudah lama usai dan kedamaian sudah tercipta. Masyarakat Poso hidup damai dalam kemajemukan.

Guna menghapus cap daerah konflik yang kadung melekat untuk Poso, Mantan Panglima Muslim saat terjadi konflik di Poso Kiai Adnan Arsal angkat bicara mengenai konflik horizontal yang sempat terjadi di Poso, hingga akhirnya daerah tersebut menjadi sarang gerakan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dikepalai gembong teroris Santoso.

Kiai Adnan yang kini menjabat sebagai Penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Poso mengatakan, konflik Poso sudah lama selesai, maka dari itu stigma negatif tentang Poso daerah konflik dan tidak aman sudah tidak tepat disematkan ke Bumi Sintuwu Maroso.

Dalam acara bedah buku ‘Muhammad Adnan Arsal, Panglima Damai Poso’ di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kiai Adnan menyampaikan, saat ini seluruh warga Poso hidup dalam kedamaian, antar umat beragam di Poso saling bahu-membahu memajukan Poso agar pembangunan dan kesejahteraan Poso bisa meningkat.

Ia menceritakan, ketimbang berkonflik dengan negara, ia meminta kepada para mujahidin untuk berdamai dan bersama membangun Poso agar penduduknya dapat hidup damai dan sejahtera. Lewat pendidikan agar anak-anak bangsa di Poso mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan kesempatan untuk bersama-sama memajukan Poso.

“Tidak perlu naik gunung, kita sama-sama membangun Poso, kita lihat masa depan,” ungkapnya saat berdialog dengan para mujahidin di Pondok Pesantren Al Madinah, Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (18/9/2021).

Menurutnya, kelompok yang masih bercokol di Gunung Biru adalah musuh bersama masyarakat Poso, bahkan musuh bersama umat Islam karena tindakan yang dilakukan MIT sudah bukan lagi demi kepentingan umat Islam Poso, mereka bahkan memerangi umat yang menghendaki perdamaian.

“Ormas Islam sudah menyatakan kelompok di Gunung Biru adalah musuh bersama. Karena tidak ada definisinya umat Islam memerangi umat Islam yang lain,” tegas Kiai Adnan.

Sementara itu, dalam sambutannya di acara yang sama, Wakil Bupati Bima Dahlan M. Noer, menyampaikan, kini sudah kurang tepat Kiai Adnan Arsal menyandang gelar Panglima Muslim Poso, karena saat ini Poso sudah damai, tidak ada lagi konflik yang terjadi.

“Saat ini kita panggil saja Panglima Perdamaian Kiai Adnan Arsal, tokoh yang akan selalu menjaga perdamaian di Poso,” ujar Wakil Bupati Dahlan.

Menurut Dahlan, apa yang dilakukan Kiai Adnan harus menjadi inspirasi bagi seluruh warga Bima untuk selalu menjadi pihak yang mengedepankan perdamaian, kerukunan ketimbang konflik di tengah masyarakat. “Kita harus mencontoh teladan Kiai Adnan Arsal dalam memperjuangkan perdamaian di Poso, terpenting tidak ada ruang untuk konflik di Bima,” tegasnya.

Acara bedah buku juga dihadiri oleh Ketua MUI Bima Abdurrahim Haris, Penulis buku Khoirul Anam, Perwakilan dari MUI Pusat Najih Aromdloni, Ustaz Bunyamin selaku tuan rumah, Kapolres Kota Bima AKBP Henry Candra Novita, Kapolres Bima Kabupaten AKBP Heru Sasongko dan Dandim Bima Letkol Teuku Mustafa Kamal. (DIN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *