oleh

Warga Terpapar Covid yang Jalani Isolasi Mandiri Butuh Bantuan

JUMLAH positif Covid-19 di Indonesia pada awal tahun 2021 ini menembus angka satu juta orang. Sungguh memprihatinkan. Tentunya hal ini berdampak kepada peningkatan jumlah pasien isolasi mandiri [Isman] di rumah, sebagai sebab-akibat daya tampung rumah sakit atau tempat isolasi mandiri terbatas, sedangkan angka terpapar Covid terus melonjak.

Terkait dengan hal itu, keberadaan RW Siaga yang dibentuk oleh pemerintah daerah (pemda) melalui kelurahan, sebenarnya memiliki peran strategis. Terutama untuk menangani keluarga pasien isolasi mandiri di rumah. Tidak semua pasien positif Covid dirawat atau ditampung di rumah sakit, namun sebagian besar di antaranya menjalani karantina di rumah masing-masing.

Ujung tombak pengawasan terhadap pasien isolasi mandiri ada di tangan pengurus RT/RW dan warga sekitar. Karena itu, peran dan dukungan terhadap RT/RW Siaga hendaknya lebih dipertebal atau diperkuat. Tidak sekadar isolasi saja, tapi juga melihat layak atau tidaknya rumah yang bersangkutan menjadi tempat isolasi. Banyak rumah yang tidak layak dijadikan tempat isolasi mandiri,  sementara penghuni rumah cukup banyak. Kemudian, juga berdampak kepada suplai kebutuhan pokok keluarga selama menjalani isolasi mandiri.

Pendistribusian kebutuhan rumahtangga keluarga pasien Covid-19, di beberapa wilayah, semata-mata mengandalkan kepedulian dan kegotong-royongan warga sekitar.Tidak ada yang lain. Jika tidak disuplai, maka otomatis si pasien atau keluarganya akan keluar untuk mencari/membeli kebutuhannya selama karantina. Hal ini akan berdampak psikologis kepada tetangga.

Selayaknya, menurut penulis, pemerintah memberi perhatian khusus berupa bantuan kepada keluarga yang menjalani isolasi mandiri tersebut. Sebab mereka sudah diprotek untuk tidak keluar-masuk rumah. Otomatis, kebutuhan mereka selama isolasi mandiri itu apa? Peran RT/RW pada persoalan ini sangat dibutuhkan, sekaligus mengkoordinir suplai bantuan dari warga untuk keluarga pasien.

Andai kasus terpapar Covid-19 itu hanya satu keluarga di satu RT, mungkin warga sekitar masih dapat mensuplai kebutuhan dapur, akan tetapi kalau kasusnya terus bertambah, maka pengurus RT/RW pasti akan keteter, sementara uang kas terbatas untuk mendrop bantuan hingga berbulan-bulan.

Persoalannya adalah, jumlah warga yang positif Covid bertambah, seakan-akan sambung-menyambung. Bukan itu saja, klaster keluarga belakangan ini mendominasi di suatu tempat. Mau tidak mau masa isolasi mandiri di satu lingkungan otomatis akan berlanjut. Walaupun sebagian pasien sudah dinyatakan sembuh [negatif], namun ada juga kasus baru, bahkan masih di rumah yang sama.

Dengan demikian, tentulah warga isolasi mandiri membutuhkan suplai bahan pokok. Fakta inilah yang terjadi di tingkat bawah, termasuk kelanjutan dukungan terhadap RW Siaga atau Satgas Covid-19 di awal tahun 2021 ini. Sementara jumlah kasus terpapar Covid pada Januari 2021 ini sungguh luar biasa.

Selain itu, pasien atau keluarga isolasi mandiri juga membutuhkan asupan nutrisi, obat-obat atau vitamin, sehingga daya imunitas tubuhnya kuat melawan gempuran wabah Covid-19. Klaster keluarga akhir-akhir ini juga meluluhlantakkan pertahanan warga. Peran pengurus RW Siaga, puskesmas, dinas kesehatan, kelurahan, kecamatan, tim satgas penanganan Covid-19, hendaknya terus ditingkatkan dan diperkuat dukungan dana. Jangan sampai keluarga positif Covid mengalami kekurangan asupan bergizi dan semangat yang kian menurun.

Menyinggung bantuan sosial [Bansos] sembako [tahun 2020] dan bansos tunai [awal tahun 2021] yang digelontorkan Kemensos, tidak mencakup keluarga pasien isolasi mandiri. Keluarga isolasi mandiri semata-mata mendapat dukungan logistik [dorlog] dari warga sekitar. Bukan berarti, keluarga isolasi mandiri tersebut tidak berkemampuan ekonomi, akan tetapi aktivitas mereka memang sengaja dikarantina. Tidak boleh keluar-masuk rumah, karena warga sekitar khawatir akan terjadi penyebaran virus. Untuk itu, warga isolasi mandiri diimbau untuk berdiam [stay] di rumah.

Penulis berpendapat dan sekaligus memberi apresiasi kepada pihak-pihak yang telah memperkuat eksistensi RW Siaga/satgas RW. sehingga menambah vitamin kinerja di garda utama. Dengan harapan setiap keluarga pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah, mendapat suplai bantuan berupa kebutuhan pangan, obat-obatan, vitamin dan sebagainya.

Mereka yang menjalani isolasi mandiri tidak merasa terkucilkan, namun mendapat perhatian pengurus RT/RW setempat, terutama warga sekitar. Kemudian jika memungkinkan mereka selayaknya mendapat bantuan negara. Tegasnya, tidak seorang pun yang ingin terkena Covid-19. Tidak hanya mendapat bantuan test swab lanjutan dan obat-obatan dari puskesmas, tapi kebutuhan pokok menjadi perhatian khusus instansi berwenang.

Terakhir, mungkin perlu ada kriteria atau batasan yang menyatakan secara medis bahwa tidak semua  test swab atau rapid test  positif/reaktif itu harus menjalani isolasi mandiri. [?] Semoga. Wassalam. [syamsir/pensiunan wartawan]

 72 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *