oleh

Perintah Salat 5 Waktu dan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

MEMPERINGATI Isra Mikraj Nabi Besar Muhammad SAW di kalangan umat Islam bukanlah hal biasa. Isra Mikraj sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Nabi Muhammad SAW mendapat perintah salat lima waktu sehari semalam untuk umatnya langsung dari Allah SWT. Bukan melalui Malaikat Jibril AS, seperti ibadah-ibadah lainnya. Dengan demikian, ibadah salat memiliki makna istimewa dan menjadi pondasi ibadah.

Sungguh keliru, apabila peringatan Isra Mikraj Nabi Besar Muhammad SAW hanya diidentikkan sekadar libur nasional. Israk Mikraj seharusnya membekas dalam hati dan sanubari, khususnya kalangan umat Islam. Tidak sekadar peringatan serimonial belaka, tapi hendaknya mempertebal keimanan seseorang muslim dalam peningkatan amal ibadah.

Ingatlah, perintah salat lima waktu sehari semalam didapat dari buah perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Perintah Salat dari zaman Rasulullah SAW hingga era mileneal ini tidak pernah mengalami pengurangan waktu atau rakaat.

Pada peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW begitu peduli kepada umatnya. Rasulullah beberapa kali naik menghadap Allah SWT, hanyalah semata-mata minta keringanan. Akhirnya didapat salat lima waktu sehari semalam, padahal sebelumnya diwajibkan sebanyak  50 waktu sehari semalam. Inilah contoh dan keteladanan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai pimpinan umat manusia.

Firman Allah SWT: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS Al Israa ayat 1]

Saat Nabi Muhammad SAW di sidratul-muntaha, Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah salat 50 kali dalam sehari semalam bagi umat beliau. Nabi kemudian turun, tetapi ketika melewati Musa, beliau ditanyai tentang jumlah kewajiban salat.

Nabi Musa AS menyebut salat 50 kali terlalu berat, sedangkan umat Rasulullah lemah. Berdasar saran Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW sekali lagi menghadap kepada Allah untuk memohon keringanan. Jumlah kewajiban salat dikurangi.

Namun, setiap kali Rasulullah bertemu Musa, beliau diingatkan untuk memohon keringanan kembali. Sampai akhirnya, Nabi Muhammad saw. mendapatkan kewajiban salat 5 kali sehari.

Nabi Musa masih menyarankan agar Rasulullah sekali lagi menghadap Allah. Namun, Nabi Muhammad SAW berkata, “Aku sudah berkali-kali menghadap Tuhanku, memohon hingga merasa malu”.

Ketika pagi hari tiba, Nabi Muhammad saw. yang sudah tiba di rumah Ummu Hani mengisahkan dua peristiwa luar biasa tersebut kepada sang sepupu.

Mendengar cerita itu, Ummu Hani membujuk Rasulullah untuk tidak menyebarkannya kepada orang-orang. Di tengah kebencian kaum kafir Quraisy, kisah tadi akan mudah jadi bahan olokan untuk menyerang Islam.

Namun, Nabi Muhammad saw. berkeras untuk menyampaikan peristiwa yang dialami beliau semalam. Kaum kafir Quraisy merasa mendapatkan momentum. Jika banyak orang mendengar kisah itu, para pengikut Muhammad diperkirakan akan yakin bahwa pemimpin mereka gila.

Peristiwa Isra dan Mikraj sampai pula di telinga Abu Bakar. Awalnya, ia mengira ini hanyalah dusta yang dikarang oleh para musuh Rasulullah. Namun, ketika diberitahu, Nabi sendiri yang bercerita, Abu Bakar langsung yakin, peristiwa itu benar adanya.

“Dan kalaupun demikian yang dikatakan, tentu beliau bicara yang sebenarnya. Beliau mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, dan aku meyakini. Yang kalian permasalahkan cuma sepele saja.”

Dari keyakinan Abu Bakar terhadap Rasulullah inilah, gelar untuknya, ash-Shiddiq, disematkan. Ash-Shiddiq bermakna saksi kebenaran atau orang yang meyakini kebenaran.

Isra dan Mikraj menjadi ujian bagi umat Islam dalam meyakini agama dan jalan hidup mereka secara menyeluruh. Percaya atau tidaknya seseorang terhadap peristiwa ini tidak berpengaruh pada Allah dan ajaran-Nya. Namun, orang yang mendapatkan hikmah akan lebih dalam keyakinannya kepada Tuhan.

Allah berfirman dalam Surah al-Isra:107, “Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.”

Salat pada hakikatnya adalah kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuh nya, kebutuhan yang tidak hanya meliputi akal pikiran, tetapi jiwa manusia. Salat menjadi pintu gerbang yang menghubungkan manusia dengan Allah.

Dari keterangan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ibadah salat lima waktu itu adalah ibadah utama. Sebab perintahnya langsung diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT. Bahkan ibadah yang pertama dihisab di yaumal akhir nanti adalah ibadah salat. Ibadah salat tidak mengenal tua, muda, miskin dan kaya. Wajib hukumnya dan ibadah salat adalah pembeda seorang muslim dengan kafir. Wahai umat Islam, salatlah kamu sebelum disalatkan orang lain. !!

Selain itu, Allah mengingatkan umat manusia bahwa perjalanan Rasulullah SAW  dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, Palestina.

Sejarah menuntut kepedulian umat Islam dunia terhadapkeberadaan Masjidil Aqsho dan  umat Islam  Palestina, yang senantiasa diintimidasi kaum zionis Israel. Wassalam. [**/syamsir]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *