POSKOTA.CO – Tiga bulan di rumah, membuat dua anakku yang santri galau. Meski selalu mengaji dan shalat, tetapi beda saat ngaji atau salat berjamaah bersama teman-teman di pesantren. Rupanya, keduanya sudah terbiasa dengan suasana pesantren. Alhamdulillah.
Selama di rumah, kedua anak ini memang tampak lebih khusuk (weh weh), dalam seusianya. Selalu berusaha shalat di masjid, atau mengaji seusai maghrib, sudah menjadi ‘kewajiban’ tiap harinya.
Seringkali, malam hari, saya atau juga mamanya diminta nemenin mengaji. Murojaah, katanya. Meski saya hanya melek tak ikut menyimak, dan hanya mendengarkan dia mengaji.
Di awal-awal ‘lock-down’ sejak kepulangannya ke rumah, kegiatan ini sangat sering. Begitu pun di saat bulan puasa. Tapi akhir-akhir ini mulai berkurang. Saat bulan puasa lalu, anak saya mulai berani menjadi imam Shalat Tarawih bersama mama dan kakak-kakaknya yang perempuan.
Dan bacaan jahr shalat itu juga cukup ‘mengejutkan’, beberapa ayat dalam surat Albaqoroh.
Pernah saat usai shalat saya menawarkan diri menyimak santri sekelas 1 SMP ini. Juz satu dilibas sekitar setengah jam lebih dikit. Dalam hati saya heran juga akan perkembangan cepat hafalan dan bagusnya bacaannya.
“Ah, belum juz dua. Coba lagi?” kata saya memancing.
(Saya dan istri sampai sekarang memang memantang menanyakan berapa banyak juz yang sudah dihafal. Bagi saya, sudah mau ke pesantren saja sudah Alhamdulillah. Sehingga, saya gak pernah -dan semoga akan selalu seperti ini- menanyakan berapa jumlah juz hafalannya. Baik langsung ke anaknya, atau ke teman atau apalagi ke gurunya. Saya hanya tahu dari isyarat seperti kata teman-temannya, atau bahkan ketika gurunya yang cerita. Namun saya selalu memberi motivasi seperti hormati guru, harus ada target, atau jangan pernah menyerah. Termasuk kata pancingan saya di atas.
“Belum lancar yah. Tapi coba dah,” elaknya.
Anak lanangku ini pun mulai membaca dengan tartil juz dua. Satu dua halaman terlewati. Lancar. Sampai akhirnya di pertengahan juz beberapa kali macet. Beberapa kali juga saya dorong. Lancar lagi. Lalu kemudian dia nyerah, kecapekan. Kami mengakhiri simaan kami.
Dalam hati saya berterima kasih kepada para guru yang sudah mengajarkan mengaji anak saya. Sekuat tenaga saya mencoba bersikap biasa saja. Tidak menunjukkan reaksi kelegaan saya kepada anak.
Saya hanya menumpahkan syukur saya di malam harinya. Kami juga berdoa semoga istiqomah, dan mengirim doa khusus kepada para guru anak saya.
Sejatinya ini juga menjadi pelajaran bagi kami, orangtua. Anak-anak bisa kok bagus mengaji, dan hafalan banyak. Tapi kita sebagai orangtua, malah hafalannya pas pasan. Itu itu saja dari kecil. Hadewh…
Pelajaran selama tiga bulan lockdown ala santri. Semoga Allah memberikan jalan rizki yang banyak, sehingga tetap bisa lebih baik dalam memberi biaya kepada mereka, selama mungkin. Sampai sukses. Ini kata pengangguran seperti saya.
Sampai waktunya, dua hari lalu, ada pengumuman di grup walisantri, kalau sebagian santri bisa balik ke pesantren. “Alhamdulillah,” bisikku.
Pagi tadi, kami pun berkemas. Surat keterangan sehat sudah di tangan. Dan sedikit bekal sudah dibagikan. “Okey, guys… lets go,” kataku menirukan kalimat kesukaan anak says. Sekalian mengusir keharuan biar nggak nongol di mata.
Yah, tulisan ini -semoga- bisa menjadi motivasi para orangtua yang ingin anaknya mau dipesantrenin. [bersambung/chotim wibowo]







Komentar