oleh

Sukses di Lampung, Kali ini Teater Satu Pentaskan Musyawarah Burung di Black Box Salihara Jakarta

JAKARTA – Setelah sukses menggelar pertunjukan teater di Lampung, kali ini Teater Satu hadir di Teater Black Box Salihara, Pasar Minggu Jakarta dengan membawa pentas berjudul Musyawarah Burung. Cerita ini diadaptasi dari novel klasik karya Fariduddin Attar.

Novel yang sudah ditafsir secara kontekstual, oleh Iswadi Pratama tersebut merupakan salah satu masterpiece karya sastra dari khasanah tradisi spiritual (sufisme) yang berkembang di Persia pada abad 12-13 Masehi.  “Saya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mempelajari dan memahami novel bergaya alegoris itu,” kata Iswadi Pratama penulis sekaligus sutradara.

Menurut Iswadi, Musyawarah Burung adalah alegori dari perjalanan manusia untuk menemukan kesejatian diri dan hakikat kebenaran. Selain itu, katanya, kisah perjalanan burung mencari Simurgh, Raja Burung, merupakan refleksi dari kecendrungan sifat-sifat manusia. Dimana sifat-sifat itu akan menentukan cara pandang manusia dalam memahami realitas dan menentukan apa yang menjadi tujuan hidup mereka.

“Saya melihat masalah utama masyarakat di era sekarang adalah kehilangan pusat nilai di dalam dirinya. Dalam hal inilah saya menemukan relevansi antara novel tersebut dengan kenyataan zaman dimana kita hidup sekarang,” lanjutnya.

Menurut Iswadi, hidup manusia seperti kehilangan pusat gravitasi, melayang-layang tak tentu arah terbawa arus zaman yang tak dapat dikendalikan.

Pertunjukan Musyawarah Burung dimainkan oleh 14 orang actor yang masing-masing memerankan karakter ganda sebagai burung sekaligus sebagai seorang penempuh. Para aktor ini selama enam bulan digembleng secara fisik agar memiliki stamina dan keterampilan yang memadai sehingga bisa meladeni tuntutan artistik yang diberikan sutradara,.

Wika mengatakan dipilihnya Musyawarah Burung sebagai teks pertunjukan dengan alasan utama bahwa saat ini semakin sulit ditemukan pertunjukan teater yang mengangkat isu spiritualisme sekaligus kritik social yang tajam. Salah seorang sutradara dunia yang pernah memainkan teks musyawarah burung adalah Peter Brook, itu terjadi pada kisaran tahun 1975-1979.

“Tentu saja ada seniman lain di Indonesia yang pernah mengangkat kisah tersebut sebagai pertunjukan tapi itu hanya satu atau dua seniman saja. Sementara muatan yang terdapat dalam teks tersebut semakin lama justru semakin relevan dengan situasi kita saat ini,” lanjut Wika.

Dalam pertunjukaan kali ini Teater Satu juga berkolaborasi dengan para musisi dari Lampung, videographer dan filmmaker dari Jogjakarta. Pementasan Musyawarah Burung di Teater Black Box Salihara digelar dua hari berturut-turut yakni tanggal 19-20 September 2026. Sedang di Lampung digelar pada tanggal 14 dan 15 September 2026 lalu.

“Untuk pertunjukan di Lampung, kami di support oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Sedangkan pertunjukan di Jakarta kami bekerja sama dengan komunitas Salihara,” tutup Wika. (in)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *