oleh

Pascabencana Galodo di Kota Padang, UNP dan TP-PKK Perkuat Pencegahan Risiko DBD

PADANG – Perubahan kondisi lingkungan pascabencana galodo pada awal tahun 2026, berpotensi meningkatnya tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti, yang berisiko terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Padang. Untuk diperlukan upaya pencegahan yang dimulai dari keluarga melalui pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK sebagai kader jumantik.

Untuk mencegah berkembangnnya nyamuk Aedes Aegypti, yang berisiko berjangkitnya wabah Demam Berdarah Dengue (DBD), sejumlah akademisi dari Universitas Negeri Padang (UNP) menawarkan solusi Pemanfaatan Overtrap dan Manajemen Kontainer Air sebagai bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kelurahan Tabing, Banda Gadang, Kota Padang.

Bekerja sama dengan Puskesmas Lapai dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kota Padang, Tim Pengabdian dari Universitas Negeri Padang yang terdiri dari Ns. Dwi Happy Anggia Sari, S.Kep., M.Kep., sebagai ketua, didampingi Rahmadhani Fitri, M.Pd., dan Nindy Notrilauvia, S.T., M.Si., mengimplementasikan metode pengendalian vector, melalui pemanfaatan ovitrap dan manajemen kontainer air pada Minggu (12/7/2026).

Ketua Tim PKM Ns. Dwi Happy Anggia Sari, S.Kep., M.Kep., meyakini ketika seorang ibu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mencegah DBD, maka ia akan menjadi pelindung pertama bagi keluarga. Untuk itu harus dibekali dengan pengetahuan tentang pemanfaatan ovitrap dan manajemen kontainer air di rumahnya.

Materi tentang Solusi Pemanfaatan Overtrap dan Manajemen Container Air disampaikan Dr. dr. Elsa Yuniarti, M.Biomed., pakar kesehatan lingkungan Universitas Negeri Padang. Ia menjelaskan, manajemen container air adalah metode pengendalian lingkungan terpadu yang memutus siklus hidup nyamuk Aedes Aegepty penyebab DBD.

“Ovitrap adalah perangkat sederhana dari gelas plastik atau potongan botol dicat warna hitam yang diisi air, kemudian diberi saringan atau kain kasar, untuk menempel telur nyamuk. Alat ini dirancang untuk memanipulasi perilaku nyamuk betina agar bertelur dalam alat tersebut, bukan di penampungan air fungsional. Hal ini akan memudahkan ibu rumah tangga atau petugas jumantik memantau perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD ini,” jelasnya, dalam rilis yang diterima media ini, Selasa (14/7/2026).

Edukasi Pengendalian Vektor
Sementara itu, kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai gejala klinis DBD, pentingnya deteksi dini, serta langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami tanda dan gejala DBD.

Selain itu, anggota PKK Kelurahan Tabing Banda Gadang juga mendapatkan edukasi mengenai pengendalian vektor melalui pemanfaatan ovitrap dan manajemen kontainer air oleh Dr. Aidil Onasis, S.K.M., M.Kes., pakar kesehatan masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Padang.

Para peserta juga mempraktikkan secara langsung pembuatan dan penggunaan ovitrap sebagai metode sederhana, murah, dan efektif dalam membantu menekan populasi nyamuk penyebab DBD.

Melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK dipersiapkan menjadi kader jumantik yang mampu melakukan pemeriksaan jentik secara berkala, mengedukasi keluarga dan masyarakat, serta menjadi pelopor dalam menjaga kebersihan lingkungan. Peran kader jumantik dinilai sangat penting karena pengendalian DBD akan lebih efektif apabila dimulai dari tingkat rumah tangga.

Kolaborasi antara Universitas Negeri Padang, Poltekkes Kemenkes Padang, Puskesmas Lapai, dan Tim Penggerak PKK Kelurahan Tabing Banda Gadang merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Padang.

Ketua Tim Dwi Happy Anggia Sari berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para peserta.

“Harapan kami, ibu-ibu PKK tidak hanya menjadi peserta kegiatan hari ini, tetapi menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Ketika setiap rumah memiliki kader Jumantik yang aktif, maka risiko penyebaran DBD dapat ditekan secara signifikan. Karena pada akhirnya, rumah yang sehat dimulai dari ibu yang tangguh menjaga kesehatan seluruh anggota keluarganya,” pungkasnya. (*/bu)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *