oleh

KBBI Nilai Pernyataan Ikravany Hilman soal Pemanfaatan Lahan SDN Pocin 1, Keterlaluan dan Kurang Etis

DEPOK – Pernyataan tegas Ketua DPRD Depok Ade Supriatna terkait lahan bahwa bekas Gedung SDN Pondok Cina 1 Jalan Margonda Raya menjadi masjid sudah sesuai aturan atau program yang direncanakan Pemerintah Kota Depok setahun lalu, dan bukan untuk sarana pendidikan seperti yang dilontarkan politisi PDI Perjuangan Ikravany Hilman disampaikan di media sosial hingga sempat viral beberapa waktu lalu.

“Apa yang ditegaskan Ketua DPRD Depok Ade Supriatna terkait pemanfaatan lahan eks atau bekas SDN Pondok Cina 1 untuk dibangun masjid sudah tepat karena sesuai rencana Pemkot Depok beberapa waktu lalu,” tegas Ketua Keluarga Besar Bang Imam (KKBI) Depok Agus Sutondo, didampingi Sekretaris KBBI Rudi Setiawan, Selasa (22/10/2024).

Tidak ada yang salah dan melanggar apalagi dalam pernyataan Ketua DPRD Depok tersebut, karena kawasan Jalan Margonda Raya memang tidak boleh lagi digunakan sarana pendidikan dan keramaian lain ini untuk keselamatan serta kelancaran arus lalu lintas di sepanjang jalan utama tersebut.

Menurut Agus, adanya pernyataan usulan bekas lahan seharusnya dijadikan sarana pendidikan oleh politis PDIP Ikravany Hilman karena sampai sekarang belum ada pembangunan. Bahkan sampai menyebutkan Ketua DPRD Ade Supriatna harus ‘memeriksakan otaknya’, jelas ini sangat keterlaluan, melecehkan dan kurang etis.

“Ade Supriatna itu Ketua DPRD Depok yang mewakili 2,5 juta warga Depok. Sedangkan politisi PDIP IH sama sekali tidak lolos menjadi anggota dewan periode 2024-2029 dan terkesan hanya cari panggung saja,” tandasnya.

Hal senada dikatakan H.N. Siregar, pernyataan Ikravany Hilman hanya cari sensasi saja karena selama ini tidak pernah turun ke warga, dan hanya ingin mendapatkan perhatian agar terlihat bekerja kepada tim pemenangan paslon nomor urut 2 di Pilkada Depok 2024.

“Apalagi pernyataan Ikravany Hilman tidak hanya menolak pembangunan masjid di Jalan Margonda Raya saja, tapi juga menyebutkan Wali Kota Depok ‘sinting’, jelas itu keterlaluan,” tuturnya. (*/anton)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *