JAMBI-Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan program revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, Provinsi Jambi. Hal ini menunjukan adanya keseriusan pemerintah dalam melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya nasional yang meliputi luas kawasan seluas 3.981 hektar tersebut.
“Revitalisasi KCBN Muarajambi tidak hanya bertujuan untuk menjaga keberlanjutan cagar budaya, melainkan juga untuk melestarikan keanekaragaman hayati di sekitar kawasan ini,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Fitra Arda didampingi Kepala Unit Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V dan Plt. Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Anang Ristanto di Kompleks Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, Sabtu (03/02/2024).
Menurut Fitra, penataan KCBN Muarajambi akan memperhatikan konsep harmonisasi dengan ekosistem alam sekitarnya. Program ini diharapkan tidak hanya akan memberikan dampak positif pada aspek kebudayaan, tetapi juga mengoptimalkan program Merdeka Belajar.
Bagai program Kampus Merdeka Kawasan ini diharapkan bisa menjadi sebuah fasilitas riset dan studi dimana nantinya akan dibangun di lahan seluas 30 hektar, memadukan unsur tradisional dengan fasilitas modern seperti museum, laboratorium, dan galeri.
Fitra menambahkan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka harus dilaksanakan secara optimal di KCBN Muarajambi mengingat Muaro Jambi telah menjadi pusat pendidikan sejak abad ke-8.
Diakui pengembangan KCBN Muarajambi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, diantaranya pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Dengan adanya kerjasama tersebut tidak hanya dapat melindungi warisan budaya, tetapi juga untuk memastikan bahwa pengembangan kawasan ini memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Jambi, Indonesia, dan dunia.
Revitalisasi KCBN sendiri diharapkan akan memberikan dampak signifikan terutama pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Pemberdayaan masyarakat menjadi fokus utama, dan dalam revitalisasi ini, dan mereka akan menjadi pelaku utama.
“Program pemberdayaan masyarakat akan dilaksanakan demi memastikan masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat dari keberadaan dan program revitalisasi KCBN ini,” tambahnya.
Temuan arkeologis di KCBN Muarajambi mengindikasikan bahwa kawasan ini dahulu merupakan pusat pendidikan Buddhisme tertua dan terluas di Asia Tenggara. Melalui revitalisasi diharapkan kekayaan sejarah dan budaya tersebut dapat terus dijaga dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat lokal serta internasional. (*/fs)







Komentar