Oleh : Karsidi Diningrat
RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt., telah berfirman: “Apabila Aku mengambil kedua mata hamba-Ku di dunia, maka tiada pahala baginya di sisi-Ku (yang pantas untuknya) kecuali hanya surga.” (HR. Turmudzi melalui Anas r.a.).
Mata adalah nikmat Allah yang besar, dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya. Ia diciptakan untuk hamba-Nya agar bisa menyaksikan keindahan dan kebesaran ciptaan-Nya di bumi dan di langit, agar sesudah itu bertambah pengenalan dan keyakinannya terhadap Tuhannya, lalu bertambah pulalah ketaatan dan kebaktiannya kepada-Nya. Dengan mata pula, ia bisa berjalan di dalam gelap, menunaikan segala hajat dan keperluan hidupnya.
Jika mata itu digunakan untuk segala keperluan yang karenanya Allah Swt., menciptakannya, maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang taat dan menyukuri nikmat-Nya. Jika mata dibiarkan tanpa kendali dan dibebaskan melihat segala yang diharamkan Allah melihat seperti, melihat wanita-wanita yang asing dan gambar-gambar yang membangkitkan nafsu birahi, maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang durhaka kepada Allah dan akan beroleh bala’ dan siksa-Nya.
Hadits di atas artinya bilamana seseorang mengalami kebutaan karena suatu musibah atau penyakit, lalu ia bersabar seraya mengharapkan pahala Allah, maka niscaya tiada pahala yang layak baginya di sisi Allah kecuali surga.
Dalam pandangan Ibnu Qudamah yang disarikan oleh Muhammad Shalih Al-Ghurasi bahwa bahwa, “Salah satu macam sabar adalah sabar dalam setiap hal di luar keinginan dan pilihannya, seperti musibah kematian orang yang dicintai, kerusakan harta benda, mata buta, sakit, dan musibah-musibah yang lainnya. Sabar dalam masalah ini termasuk kedudukan yang paling tinggi, karena ia bersandar pada keyakinan, sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Dia akan menempatkan cobaan padanya.” (HR. Bukhari).
Sabar dalam Menghadapi Tindakan Manusia
Kesabaran yang serupa dengan sabar macam ini adalah sabar dalam menghadapi tindakan manusia yang menyakitkan. Seperti orang yang menyakiti dengan perkataan, perbuatan, kejahatan terhadap diri, keunggulannya atau hartanya. Sabar dalam masalah ini dapat dilakukan dengan cara tidak membalasnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu cobaan pun yang menimpa seorang hamba lebih berat daripada cobaan syirik, selajutnya tiada cobaan yang lebih berat setelah cobaan syirik selain dari lenyapnya mata (buta), dan sesungguhnya bagi seseorang yang mendapat cobaan buta lalu bersabar, maka Allah mengampuni (dosa-dosanya).” (HR. al-Bazzar dari Buraidah).
Hadits ini menceriterakan tentang keutamaan orang buta yang bersabar atau musibah yang menimpa kedua matanya itu. Dikatakan demikian karena cobaan syirik, yakni apabila diuji agar menjadi orang musyrik, orang yang bersangkutan mudah untuk bersabar dan teguh dalam pederitaannya. Akan tetapi, cobaan yang berupa hilangnya kedua mata atau mata menjadi buta sangatlah berat ia rasakan karena cobaan tersebut untuk selamanya, yakni selama hayatnya masih ada sehingga pahalanya pun jauh lebih besar daripada cobaan lainnya.
Hadits ini telah diketengahkan di atas, yang intinya ialah menceriterakan tentang keutamaan bersabar bila mendapat musibah yang mengakibatkan mata menjadi buta. Tiada pahala yang layak bagi orang yang bersabar ketika kehilangan indera matanya melainkan hanya surga. Sedangkan dalam hadits ini tersirat suatu makna bahwa orang yang benar-benar beriman akan menganggap suatu musibah yang sangat besar bila sudah tidak ada seorang pun yang mengamalkan agamanya. Keadaan demikian akan dirasakan lebih berat baginya daripada seandainya ia kehilangan indera matanya (buta).
Kata Sabar dalam Al Qur’an
Kata sabar terulang di dalam Al-Qur’an lebih dari tujuh puluh tempat. Di dalam berbagai ayat tersebut dapat dilihat bahwa Allah Swt. menganugerahkan orang-orang yang memegang teguh sifat sabar dengan berbagai keutamaan. Selain itu, berbagai kebaikan dan derajat yang terhormat juga dijanjikan-Nya sebagai buah dari sikap terpuji ini. Sebagai contoh, Allah Swt berfirman, “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl, 16: 96).
Abu Umamah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda dengan menyampaikan firman Allah Swt., “Wahai Bani Adam! Apabila engkau bersabar dan berintrospeksi dalam menerima musibah, Aku tidak ridha memberikan pahala bagimu kecuali surga.” (HR. Ibn Majah).
Alangkah menakjubkan keadaan seorang mukmin yang tidak pernah mengeluh dan kesal dengan musibah apa pun yang menimpanya. Baginya, musibah merupakan ujian untuk menentukan, apakah dirinya termasuk orang yang bersabar dan bersyukur, ataukah termasuk orang-orang yang murka dengan ketentuan-Nya? Karena itu, setiap mukmin harus sadar bahwa setiap duri yang menancap di kaki merupakan penghapus bagi dosa-dosanya.
Setiap cobaan ini merupakan ujian dari Allah dan dianggap sebagai pengampunan dosa, penyucian diri dari kesalahan, dan pengangkatan derajat di hadapan Allah. Bagi seorang mukmin segala sesuatu yang menimpanya, baik maupun buruk, adalah kebaikan karena semuanya datang dari anugerah-Nya. Karena itu, barang siapa yang dicintai Allah, niscaya Dia akan mengujinya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia membukakan baginya kunci hatinya, dan Dia menjadikan di dalamnya keyakinan dan kejujuran. Dia menjadikan kalbunya selalu menyadari apa yang ia tempuh, dan Dia menjadikan kalbunya selamat, lisannya jujur, akhlaknya lurus, dan Dia menjadikan telinganya berpendengaran tajam, dan matanya berpenglihatan tajam.” (HR. asy-Syekh melalui Abu Darda r.a.).
Kita hidup dengan membawa wasiat Ilahi dari Al-Qur’an. Wasiat-wasiat itu berlaku dalam setiap kehidupan yang dilalui oleh manusia. Dan hal itu merupakan suatu bentuk penyucian bagi seorang mukmin, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya, “Dan supaya Allah menyucikan orang-orang mukmin, dan membinasakan orang-orang kafir.” (QS. Ali-‘Imran, 3: 141).
Pertolongan Allah Sangt Dekat
Oleh karena itu, pahala bagi setiap mukmin yang bersabar ketika diuji suatu musibah, bersyukur dengan kegembiraan yang dia dapatkan, dan selalu memiliki keyakinan kepada Allah, maka pertolongan Allah itu amatlah dekat, dan surga adalah tempat baginya. Akan tetapi, semua itu terjadi setelah dia disucikan oleh Allah dengan musibah yang ditimpakan kepadanya.
Musibah itu adalah ujian bagi seorang mukmin. Allah Swt berfirman, “Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah, 2: 155).
Musibah itu tidak hanya dalam kesulitan. Bisa saja musibah itu ditimpakan dalam hal-hal yang baik, sebagai bentuk ujian kepada orang-orang mukmin agar Allah mengangkat derajat mereka menjadi lebih tinggi, karena rasa syukur mereka atas segala nikmat yang telah mereka terima dari Allah dengan cara mempergunakannya dalam rangka ketaatan kepada-Nya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun selalu membaca doa yang tidak pernah dilewatkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keterpurukan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kebakhilan, kebodohan, dan gangguan orang lain. Ya Allah, tidak ada kemudahan selain kemudahan yang Engkau ciptakan, dan Engkaulah yang menjadikan kesedihan menjadi kemudahan, jika Engkau menghendaki.”
Dari sini kita tahu bahwa cobaan-cobaan yang dilewati oleh manusia adalah kebaikan baginya. Cobaan akan berbuah surga dan kemenangan dari Allah. Dalam musibah itu selalu tersimpen sejuta hikmah dan manfaat. Dalam hal ini Allah berfirman, “Maka bisa jadi engkau membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa, 4: 19).
Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itu, Dia mengambil dan memberi tanpa ada yang menghalang-halangi-Nya karena semuanya adalah makhluk-Nya. Dan segala sesuatu yang ada, semuanya berdasarkan kehendak-Nya, dan ketentuannya telah diatur dalam waktu yang ditentukan oleh-Nya, karena itu bersabarlah dan bertawakallah kepada-Nya. Dalam hal ini Allah Swt. telah berfirman. “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut, 29: 62).
Oleh karena itu, apabila seorang hamba dihadapkan pada musibah sesuai dengan ketentuan Allah, dan karena hikmah yang dikehendaki oleh Allah, dia harus senantiasa bersabar dan bertaqwa kepada Allah. Setelah itu, Allah akan memberikan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan ketika seorang hamba dihadapkan suatu cobaan yang menimpanya, tidak ragu lagi bahwa di sana terdapat lautan hikmah yang dikehendaki oleh Allah. Wallahu a’lam bish-shawwab. (**)
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
-Wakil Ketua 1 Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.






Komentar