oleh

Mukjizat Indrawi Bukti Totalitas Risalah Muhammad Saw

 

Oleh : Karsidi Diningrat

ALLAH subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad di waktu yang paling utama dan di bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadhan. Allah Swt. berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Bahkan tidak hanya di bulan yang paling mulia saja, tetapi juga di malam yang paling agung di sepanjang bulan tersebut, yaitu di malam kemuliaan (lailatul qadar). Sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadar {97}: 1-3).

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. agar beliau dapat menyampaikan agama Allah dan menyebarkannya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur’an kepadanya).” (QS. Al-An’am [6]: 19). Selain itu juga untuk mengajak manusia lepas dari jeratan kemusyrikan, kekufuran, dan peribadatan kepada berhala, menuju cahaya Islam dan keimanan.  Sebagaimana Allah Swt. berfirman, “(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 1).

Kemukjizatan Al-Qur’an mencakup segala segi. Dari mulai gaya kalimat yang digunakan hingga pada petunjuk yang ada di dalamnya. Al-Qur’an sungguh kaya dengan makna dan hakikat, kuat dalam tujuan dan konteks.

Al-Qur’an al-Karim merupakan Kalam Allah, jalan-Nya yang lurus, cahaya-Nya yang nyata, dan tali-Nya yang kokoh. Al-Qur’an merupakan risalah dari Allah yang kekal, mukjizat-Nya yang abadi, kasih sayang-Nya yang luas, nikmat-Nya yang melimpah, dan hikmah dari-Nya yang mendalam.

Al-Qur’an adalah pondasi tauhid, sumber yang kuat bagi syari’at, dan rujukan berbagai keilmuan untuk kehidupan di dunia ataupun di akhirat. Sebab Al-Qur’an memang meliputi segala hal untuk menyempurnakan setiap sisi kebaikan dan kebahagiaan. Al-Qur’an di penuhi dengan kebajikan dan hikmah bagi hati orang yang beriman dan jiwa yang tenang. Al-Qur’an merupakan cara yang paling tepat bagi para pengabdi untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara membacanya, menghayati setiap ayatnya, dan mengamalkannya.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr, 15:9).

Tidak diragukan lagi bahwa tanda-tanda kenabian (mukjizat) dan keuniversalan risalah Nabi Muhammad Saw. itu banyak. Bahkan, lebih banyak dibandingkan dengan tanda-tanda para nabi sebelumnya. Banyak mukjizat Nabi Saw. yang dapat ditangkap panca indra manusia dan ini merupakan bukti yang menetapkan totalitas risalah Muhammad Saw. Ada beberapa mukjizat Indrawi Al-Qur’an diantaranya adalah:

 Mukjizat yang Menakjubkan

Terbelahnya bulan. Mukjizat ini merupakan bukti nyata tentang kebenaran beliau. Hal itu terjadi ketika orang-orang kafir Quraisy Mekah menuntut kepada beliau sebuah mukjizat agung yang menunjukkan kebenaran beliau. Secara khusus mereka menuturkan agar Nabi Saw membelah bulan menjadi dua agar mereka mau beriman kepada risalah beliau.

Meskipun hal itu terjadi, mereka tetap menentang dan sombong, sebagaimana Allah berfirman, ” Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (kaum musyrik) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(ini adalah sihir yang terus menerus).” (QS. Al-Qamar, 54: 1-2).

Mukjizat beliau tentang Isra’ Mi’raj sangat menakjubkan. Bagaimana tidak, beliau diisra’kan (diajak menempuh perjalanan malam) dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis dalam waktu singkat, kemudian dilanjutkan dengan dimikrajkan (dinaikan)-nya beliau ke tempat yang belum pernah di pijak manusia (antara lain surga), sampai beliau menerima kewajiban shalat, dan kembali lagi ke Mekah sebelum subuh. Semua itu juga dijalani beliau dalam waktu singkat.

Berita tentang perjalanan beliau tersebut tidak dipercayai oleh sebagian besar kafir Quraisy. Mereka menganggap beliau berdusta. Kepada Rasulullah mereka meminta pembuktian kebenaran peristiwa tersebut (dengan menanyakan masalah Baitul Maqdis). Rasulullah menyanggupi permintaan mereka, dengan menjawab secara tepat setiap pertanyaan mereka. Padahal secara logika (di luar peristiwa Isra’-Mikraj). Rasulullah belum pernah sebelumnya pergi ke Baitul Maqdis.

Mukjizat yang Berkenaan dengan Tumbuh-tumbuhan

Rasulullah pernah mengajak seorang Arab Badui untuk masuk Islam. Mendengar ajakan ini orang tersebut bertanya, “Siapakah yang akan menjadi saksi akan ucapanmu itu?” “Pohon Salamah,” Jawab Rasulullah seraya memanggil pohon yang tumbuh di tepi lembah. Demi mendengar panggilan Rasulullah ini, pohon itu pun datang kepada beliau dan mengucapkan syahadat tiga kali sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Setelah itu, pohon tersebut kembali ke tempat semula.”

Dalam sebuah perjalanan Rasulullah pernah ingin membuang hajat dan beliau tidak mendapatkan sesuatu yang dapat melindunginya. Kemudian beliau menggapai sebuah cabang pohon dan bersabda, “Ikutlah aku dengan izin Allah.” Cabang pohon itu pun mengikuti Rasulullah seperti tunduknya seekor keledai. Kemudian beliau menyuruh cabang pohon yang sebelahnya dan yang kedua ini tunduk juga ikut serta melindungi Rasulullah … ketika membuang hajat. Selesai itu, masing-masing cabang pohon tadi kembali ke tempat asalnya.”

Ketika di Madinah, Rasulullah seringkali berkhutbah jum’at di atas batang pohon kurma. Namun, ketika hal itu tidak lagi beliau lakukan karena para sahabat sudah membuatkannya mimbar, batang kurma itu marasa sedih, dan seperti suara anak kecil ia merengek-rengek ingin tetap di duduki Rasulullah dalam berkhutbah. Mengetahui darimana datangnya suara itu, Rasulullah mengulurkan tangannya untuk menggapai batang pohon kurma tersebut. Setelah dapat, beliau mengusap-ngusapnya sehingga batang kurma itu pun terdiam.”

Buah pohon kurma mempunyai beberapa macam namun hampir sama dari segi nilai gizinya, baik dalam bentuk kurma mentah, kurma matang, kurma kering atau kurma yang diperas. Dengan mempelajari hasil penelitian ilmu pengetahuan modern tentang kandungan gizi pada buah kurma, tentu kita tidak akan menjadi heran bagaimana dahulu balatentara umat Islam yang gagah berani mampu menaklukkan berbagai negeri dengan para prajurit yang tidak mengkonsumsi di dalam perut mereka selain beberapa butir buah kurma.

Mukjizat yang Berkenaan dengan Udara

Awan, dengan izin Allah, senantiasa menaungi Rasulullah selama dalam perjalanannya. Dengan doanya, beliau juga dapat menurunkan dan menghentikan hujan. Pernah juga pertolongan Allah turun kepada Rasulullah yang berupa angin, seperti yang difirman Allah, “… ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya …” (QS. Al-Ahzab, 33:9). Dalam firman-Nya, “Sesunggguhnya Kami telah menghembuskan angin yang sangat kencang kepada mereka pada hari nahas yang terus menerus.” (QS. Al-Qamar, 54:19).

Angin tersebut dikirimkan Allah di tengah-tengah berkecamuknya Perang Ahzab (Khandaq). Beliau bersabda, “Aku dimenangkan dengan perantaraan angin kencang dan kaum ‘Aad dibinasakan dengan angin ribut.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Angin merupakan sesuatu yang datang dari sisi Allah; datang dengan membawa rahmat dan terkadang datang dengan membawa azab. Karena itu apabila kalian merasakan kedatangannya janganlah kalian mencacinya, tetapi mintalah kepada Allah kebaikan yang dibawanya, dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukan yang dibawanya.” (HR. Bukhari melalui Abu Hurairah r.a.).

Dan adakalanya pula angin itu datang dengan membawa azab seperti yang disebutkan dalam firman-Nya mengenai kisah kaum ‘Aad, “Maka tatkala mereka melihat azab itu dengan awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al-Ahqaf, 46: 24-25).

Sahabat Anas r.a. menceritakan bahwa pada suatu hari (Jum’at) seorang laki-laki memasuki masjid. Ketika Rasulullah saw. sedang membaca khutbahnya, laki-laki itu berkata, “Ya Rasulullah, mohonlah doa agar Allah menurunkan hujan untuk kita.” Mendengar ini Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, Ya Allah, berilah kami hujan; Ya Allah berilah kami hujan; Ya Allah berilah kami hujan.” Setelah salat Jum’at, kata Anas, “Kami melihat awan tebal di langit dan tidak lama kemudian turunlah hujan dengan deras. Pada Jum’at berikutnya laki-laki itu datang lagi, dan ketika Rasulullah Saw. membacakan khutbahnya, ia berkata, “Ya Rasulullah, harta benda kami habis dan tanaman kami rusak karena hujan.” Jalan-jalan terputus mohonlah kepada Allah agar menghentikan turunnya hujan. Lalu Rasulullah berdoa lagi, “Ya Allah turunkanlah hujan di lingkungan yang jauh dan bukan di tempat kami.” Ya Allah turunkanlah di padang sahara, lembah dan lahan-lahan tanaman.” Menurut Anas, “Setelah shalat Jum’at, kami melihat langit begitu cerah tidak seperti ketika Jum’at lalu.” (HR. Bukhari). Itulah tanda-tanda yang membutikan bahwa bukti yang menetapkan totalitas risalah Nabi Muhammad saw. Wallahu a’lam bish-shawwab.(*/fs)

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *