oleh

Ibadah Rabu Abu Diuraikan Pendeta Ari Dengan Bahasa Sederhana

POSKOTA. CO – Masa Raya Paskah 2023 diawali dengan Hari Rabu Abu yang menandai awal masa Prapaskah.
Ibadah Rabu Abu yang berlangsung 22 Februari 2023 pukul 19:00 WIB di GPIB Zebaoth Bogor dipimpin Pendeta Ari Siagian.

Renungan yang diambil dari Galatia 3:10-14 diuraikan oleh Pendeta Ari dengan bahasa sederhana yang membuat ratusan jemaat yang hadir mengikutinya dengan penuh hikmat.

Pada ibadah Rabu Abu ini juga berlangsung pengolesan abu di kening sebagai simbol bagi manusia untuk mengingat, bahwa yang asalnya dari tanah akan kembali ke tanah.

Abu yang dibubuhkan di dahi menurut Pendeta Ari, menjadi sarana bagi kita untuk mengingat kembali asal kita, yaitu ketidakberdayaan.

“Manusia penuh keterbatasan dan kelemahan. Kita butuh kekuatan dari Tuhan. Manusia ini hanya kumpulan debu yang tak berarti. Namun menjadi berharga ketika ditiupkan napas kehidupan. Bayangkanlah diri kita dan lihat kembali hal apa yang mau kita perbaiki selama masa Prapaskah ini sebagai bentuk pujian dan rasa syukur kita atas berbagai anugerah Tuhan,”ucapnya.

Pendeta Ari menambahkan, Rabu Abu menandakan awal masa Prapaskah sekaligus masa pantang dan puasa.

“40 hari menuju Paskah ditandai dengan ibadah kita malam ini yakni ibadah Rabu Abu. Tuhan Yesus juga berpuasa 40 hari. Mari kita melihat kembali motivasi dalam beribadah. Jangan sampai kita hanya mengedepankan ibadah yang tampak, tapi tidak memberikan dampak,” kata Pendeta Ari.

Tentang puasa, Pendeta Ari menerangkan, makna sebenarnya bukan pada berkurangnya makanan yang dikonsumsi tiga kali sehari menjadi dua kali, tapi lebih pada bagaimana umat Tuhan merespon sesama yang berkekurangan dalam hal makanan.

“Puasa itu melatih kita merefleksi diri untuk peka dengan sesama. Jika sehari makan tiga kali yakni pagi, siang dan malam, maka dengan berpuasa berkurang menjadi dua kali yakni pagi dan malam, maka kita telah menyisihkan satu kali jatah makan kita yang bisa kita bagikan ke sesama yang belum makan. Jadi berpuasa itu melatih kepekaan kita atas derita sesama,” paparnya.

Pendeta Ari menjelaskan, dalam perjalanan hidup, kadang kita tersesat dan akhirnya mencari jalan hidup sendiri.
Namun Tuhan dengan penuh kasih mengajak kita kembali bersatu dengan-Nya.

Kerap kali saat perjalanan untuk sampai ke tujuan itu, kita salah langkah. Kita salah jalan, tetapi akhirnya sadar bahwa kita harus kembali menemukan jalan yang benar untuk sampai ke tujuan perjalanan hidup ini.
Rabu Abu adalah momentum bagi umat Tuhan yang sedang di dalam perjalanan untuk memutar haluan kembali dari ketersesatan. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *