POSKOTA.CO-Memiliki keluarga yang bahagia dengan dilimpahi banyak kenikmatan adalah impian semua orang dalam menjalani kehidupan. Meski dengan bergelimang harta, status sosial yang tinggi, pendidikan tinggi tidak jaminan mendapatkan kebahagiaan. Tidak jarang dijumpai rumah besar mewah, namun justru sebaliknya kenyataan pahit yang dihadapi.
Padahal, sering kita mendengar “Baiti Jannati” rumahku adalah surgaku sebuah konsep meraih surga di rumah. Bagaimana menciptakan rumah yang selalu dirindukan, penuh kedamaian, keteduhan, ketenangan, keceriaan, saling mengasihi yang penuh cinta dan kasih sayang. Terjalinnya komunikasi keharmonisan antara suami dan istri dalam rumah tangga. Serta memiliki keturunan yang menyejukkan hati atau qurrota a’yun.
Dimulai dengan menciptakan suasana di rumah melalui nilai-nilai agama Islam. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad Saw bersabda: La taj’alu buyutakum maqobiro innasy syaithona yanfiru minal baitil ladzii tuqrou fiihi suurotal baqoroti.artinya: janganlah rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah (HR. Muslim no.1860). Pesan dalam hadits tersebut menjelaskan perumpamaan kuburan bagi rumah yang didalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an. Salah satu tujuannya agar keluarga membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Dalam hadits yang lain juga menyebutkan agar menghiasi rumah dengan bacaan Al-Qur’an, nawwiruu buyutakum biqiroatil Qur’an.
Dengan membaca Al-Qur’an orang yang membaca dan yang mendengarkannya akan mendapatkan pahala. Saat orang tua membaca di hadapan anak-anaknya akan menjadi teladan atau panutan. Tidak hanya mengaji, namun juga rumah dijadikan sebagai tempat menjalankan ibadah seperti sholat wajib atau sunnah. Bahkan, menjalankan ibadah puasa bersama bagaiman terciptanya kebersamaan di saat sahur atau buka bersama. Tentu, rumah juga tempat untuk belajar ilmu pengetahuan serta adab. Bagaiman seorang istri yang menghormati suaminya, izin saat keluar, dan menjaga kehormatan saat suami tidak ada di rumah.
Peran seorang suami sebagai kepala keluarga mampu menjalankan kewajiban maupun haknya dengan baik. Begitu pula dengan isteri yang berupaya menjalankan perannya. Saling mengisi dan menutupi segala kekurangan dalam membangun keluarga. Selalu berusaha untuk selalu bersyukur di saat mendapatkan kenikmatan dan bersabar pada saat kesulitan. Dalam mendidik anak senantiasa menjadikan Rasulullah sebagai panutan. Melalui pembiasaan dan teladan yang baik. Harapan menjadikan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah serta qurrota a’yun semoga tercapai. Amin. (*/anton)







Komentar