POSKOTA.CO – Empat pria warga asing yang dibekuk sesaat sebelum mereka hendak bergabung dengan jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang beroperasi di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengaku ke Indonesia menggunakan paspor palsu.
“Mereka mengaku membuat paspor Turki palsu. Yang bersangkutan menjelaskan bahwa mereka berangkat dari Turkistan ke Kamboja melalui laut, lalu Kamboja-Thailand dengan darat tanpa paspor. Di Thailand membuat paspor Turki palsu. Lalu masuk ke Kualalumpur, Malaysia,” kata Kapolri Jenderal Sutarman Minggu (14/9) malam.
Dari Kualalumpur, mereka terbang ke Bandung lalu terbang ke Makassar. Di Makassar mereka dijemput jaringan Santoso dan menggunakan jalur darat ke Palu.
“Dari Palu lalu ke Poso dan sampai di Parigi Moutong kita tangkap. Mereka ini mulai dari Makasar sudah kita ikuti dan ditangkap sebelum Poso. Besok kita akan ke Kedubes Turki untuk cek lebih jauh,” sambungnya.
Wakapolri Komjen Badrodin Haiti yang dihubungi secara terpisah menambahkan jika keempat orang itu diduga kuat beretnis Uighur dan berasal dari Turkistan Timur. Wilayah ini dipanggil Xinjiang di Tiongkok.
“Paspor Turki mereka beli di Thailand dengan harga $AS 1.000 per paspor. Kita simpulkan sementara mereka menggunakan paspor Turki palsu. Kita masih selidiki latar belakang mereka dan motivasinya,” sambungnya.
Seorang penyidik Densus yang dihubungi secara terpisah mengatakan jika mereka sulit memahami bahasa keempat orang tersebut.
“Kita terkendala bahasa dalam pemeriksaan. Mungkin mereka berbahasa Uighur dan sedikit bahasa Inggris. Besok kita ke Kedubes Turki dan belum perlu ke Kedubes Tiongkok dulu,” sambung sumber yang tak mau disebut namanya itu.
Sebelumnya keempat orang asing itu-berdasar paspor yang disita-adalah Abdul Basyit berusia 19 tahun, Ahmed Bozoghlan 28 tahun, Atlinci Bayram 19 tahun, dan Alphin Zubaidan 27 tahun.
Etnis Uighur belakangan ini menyita perhatian internasional. Tiga muslim lelaki pada Jumat (12/9) lalu di vonis hukuman mati dan satu orang perempuan dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Tiongkok.
Mereka dituduh terlibat serangan mematikan di sebuah stasiun kereta api di Kunming di Provinsi Barat Daya Yunnan.
Serangan dengan pisau itu menewaskan 31 orang dan melukai 141 orang. Dalam peristiwa itu polisi setempat menembak mati empat orang penyerang.
Para penyerang beralasan penyerangan itu karena tindakan diskriminatif Tiongkok yang lebih pro pada etnis China Han. Ratusan orang diyakini telah tewas dalam kerusuhan yang terjadi dalam 18 bulan terakhir di Xinjiang. humas PMJ







Komentar