oleh

DPR: Jokowi Harus Kreatif Pikirkan Masa Depan Bangsa

PELUNCURAN BUKU INDONESIA GAWAT DARURATPOSKOTA.CO – Politisi Partai Golkar (F-PG) Bambang Soesatyo meminta Presiden Indonesia terpilih Joko Widodo (Jokowi) lebih tegas dan kreatif memikirkan masa depan bangsa yang lebih besar.

Jangan hanya terjebak pada perdebatan soal bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang hebah belakangan. Tapi bagaimana lebih menigkatkan penerimaan negara dan mencegah terjadinya kebocoran uang rakyat yang maish tinggi itu.

“Jokowi jangan hanya berpikir menaikkan (harga) BBM. Ya, sebaiknya berpikir ulang pada kepemimpinannya. Kita harapkan pemikiran yang kreatif dari Jokowi, tidak dengan mengambil langkah kenaikan BBM untuk mengatasi defisit angaran yang sedang mengancam pada November ini ke depannya,” ucap Bambang dalam acara diskusi dan launching buku terbarunya berjudul “Indonesia Gawat Darurat”, di Jakarta Selatan, Minggu (31/8).

Jokowi yang kini masih menjabat sebagai Gubernur DKI, disarankan harus berpikir kreatif dan mengambil langkah-langkah yang tepat mengenai masalah kenaikan BBM. “Jokowi harus kreatif dengan terobosan-terobosan, misalnya meningkatkan penerimaan negara, mengurangi keluaran (dana) yang tidak efisien, menutup kebocoran-kebocoran, sehingga defisit anggaran beberapa triliun itu bisa meng-cover kenaikan harga BBM,” tutur Bambang.

Dia pun mengingatkan bahwa Jokowi adalah Presiden terpilih yang diusung PDIP, partai yang sebelumnya dikenal anti-penghapusan subsidi maupun kenaikan BBM. Menurutnya, jika harga BBM tetap dinaikkan oleh Jokowi-JK, maka PDIP berarti telah mengkhianati pendukungnya.

“Subsidi adalah hak rakyat. Tidak boleh Jokowi yang justru menang, sementara PDIP konsisten menolak kenaikan BBM, nanti menaikkan. Kalau sekarang mereka menaikkan, PDIP berarti mengkhianati pendukungnya,” jelas Bambang.

Selama menjadi anggta DR khsususnya anggota Komisi III, Bambang Soesatyo mempunyai catatan kritis terhadap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Saya mencatat berbagai peristiwa yang berlangsung sejak SBY-Boediono dilantik 2009 lalu. Buku ini merupakan rekam jejak kepemimpinan SBY-Boediono,” tukas pria kelahiran Jakarta 1962 itu

Dia mengatakan buku tersebut juga dijadikan bagi pemerintahan baru Jokowi-Jusuf Kalla. Hal itu bertujuan agar Jokowi-JK tidak mengulangi kesalahan yang telah dilakukan SBY-Boediono. Anggota Komisi III DPR itu mengatakan dalam buku tersebut berupa kritik yang dilontarkan kepada SBY. “Buku ini isinya kritik, tidak ada pujian. Buku ini tinta merah kepemimpinan SBY-Boediono,” imbuhnya.

Menurut hemat Bambang, karena posisinya sebagai pengawas pemerintahan, yaitu anggota DPR memiliki kewajiban yang dibebankan masyarakat untuk mengawasi pemerintah. “Saya berharap kemimpinan ‎Jokowi-JK nanti bisa. Kita tidak lagi melihat pemimpin tangan di dada yang prihatin dan menghimbau tapi menunjuk ke depan,” tandas vokalis Komisi Huku m DPR itu.*helmi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *